
Saemalam bajuku di buka, dia benar-benar membuka semuanya. Dia sudah melihat harga diriku. Astaga bagaimana ini, bagaimana aku bisa bertemu dengan dia sekarang.
Pintu kamar terbuka, Yura langsung memejamkan mata kembali pura-pura tidur. Winter mendekati gadis itu, mengecek kening Yura, demamnya sudah hilang.
Winter mengitari ranjang, duduk di samping gadis itu lalu membawa buku di laci dan membacanya.
Selama hampir setengah jam Yura pura-pura tidur dan tiba-tiba ia ingin buang air kecil, alhasil gadis itu meloncat dari kasur dan berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan.
Winter yang melihat itu hanya menaikan alisnya, bagaimana bisa orang belum sadar sepenuhnya lari begitu cepat ke kamar mandi.
Ketika keluar dari kamar mandi, Yura kembali ke ranjang dengan menunduk, tidak berani menatap Winter karena malu. Perlahan ia duduk di samping Winter dengan meluruskan kakinya.
Winter tidak berkata apa-apa, melirik Yura saja tidak, dia hanya baca buku.
Kenapa dia diam begitu ya.
Yura pun perlahan menoleh, menatap Winter di sampingnya. Bahkan ketika Yura menatap suaminya itu, Winter masih saja diam.
Apa jangan-jangan dia marah denganku karena aku pergi ke pantai diam-diam.
Yura berdehem untuk memancing Winter menoleh kepadanya, tapi pria itu tetap membaca buku. Yura berdehem kembali sedikit lebih keras, hasilnya tetap sama. Sampai akhirnya ia berdehem sangat keras membuat Winter menutup bukunya dan mengambil segelas air di meja samping ranjang lalu memberikannya kepada Yura.
"M-makasih ..." Yura mengambil gelas tersebut. Winter kembali membuka buku nya, membuat Yura menghela nafas.
Setelah meminum airnya sedikit, Yura menyimpan kembali gelas itu di meja.
"Winter ..." panggil Yura.
"Hm?" Winter menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Kau ... kau marah denganku ya?"
"Iya."
To the point sekali, aku pikir bakal jawab tidak.
"Eum ... aku ke pantai karena---"
Belum selesai bicara, Yura menutup rapat mulutnya karena kaget dengan Winter yang menutup bukunya dengan kasar lalu menoleh ke arah Yura dengan tatapan mengintimidasi membuat Yura tidak bisa berkutik seketika.
"Kenapa tidak bilang pergi ke pantai?"
"A-aku lupa mengabarimu ... aku bosan di mansion terus, jadi aku jalan-jalan terus aku bertemu Summer."
"Tadi kan main ke rumah Bella," ucap Winter.
__ADS_1
"Iya, terus Bella mau pergi ke rumah grandma nya dia, jadi aku pulang jalan-jalan dulu."
Winter menghela nafas dengan menggelengkan kepala, Yura masih menekuk wajahnya.
*
Ketika makan malam, Yura hanya memainkan makanannya, menusuk-nusuk daging dengan garpuh, sesekali ia menoleh kepada Winter yang sedang makan di sampingnya.
Dia tidak mau minta maaf kepadaku soal membuka bajuku itu ya.
"Winter."
"Hm."
"Kau ... kau tidak mau minta maaf kepadaku."
Winter menoleh.
"Kau kan ... itu, eum ... kau membuka bajuku tadi." Yura berkata pelan.
"Lalu?" tanya Winter.
"Ya seharusnya kau jangan membukanya tanpa seizin ku."
Winter berdecak kemudian kembali melanjutkan makan, tidak mau menanggapi ucapan Yura, karena sudah tahu gadis itu mengigil tadi.
"Makan."
Yura menggeleng. "Aku tidak nafsu makan."
"Mau makan yang lain?" tanya Winter yang di jawab gelenggan kembali dari Yura.
"Yura kau harus makan."
"Aku tidak mau, Winter. Aku makan buah-buahan saja."
Yura mengambil jeruk dan mengupasnya.
Winter mengambil piring Yura, memotong-motong daging nya lalu menyuapi gadis itu.
Yura sempat menggelengkan kepala, tapi Winter terus memaksa.
"Sedikit saja ..." pinta Winter kepada gadis itu.
Akhirnya Yura pun menurut.
__ADS_1
"Besok aku kemoterapi lagi," ucap Yura.
"Aku temani," sahut Winter lalu kembali menyuapi Yura.
"Di celanamu ada kalung, punya siapa?" tanya Winter.
"Punyaku dari Summer," sahut Yura seraya mengunyah makanan di mulutnya.
"Kenapa dia memberikanmu kalung?"
"Dia bilang untuk teman kecilnya, tapi teman kecilnya tidak tau dimana, jadi dia memberikannya kepadaku."
"Oh." Winter terlihat biasa saja, walapun sebenarnya ia cukup penasaran kenapa kalung itu di berikan kepada Yura. Ia pikir saat kecil dulu, kalung itu sudah di berikan kepada teman kecil Summer.
"Kau ... tidak marah kan?" tanya Yura hati-hati.
Winter menggeleng membuat Yura merasa lega.
"Kalung nya dimana?" tanya Yura.
"Di meja."
"Sebentar." Winter menyimpan sendok kemudian mengeluarkan ponsel dari saku, sebuah pesan masuk dari Lusi.
Aku sudah menemukan data korban tsunami itu Tuan.
Setelah membacanya, Winter kembali mengantungi ponselnya ke dalam saku dan kembali menyuapi Yura makan.
*
Yura berada di balkon bersama Winter, gadis itu memegang satu tablet obat di tangannya, ia menghela nafas panjang, ia sangat benci waktu dimana ia harus minum obat.
Ketika satu obat berhasil masuk ke tubuhnya, gadis itu diam selama tiga menit dan kembali minum obat yang lain sampai semua obat itu berhasil di minum.
"Winter."
"Hm."
Winter menjawab dengan membereskan botol obat Yura ke kotak.
"Kalau ..." Yura menggantung kalimatnya sejenak.
"Kalau aku mat-"
Winter langsung menarik leher Yura dan mengecup bibir gadis itu. "Jangan di lanjutkan!"
__ADS_1
Aliran darah Yura seakan berhenti dengan kecupan dari suaminya.
Bersambung