Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#41


__ADS_3

Setelah Summer pulang, Winter dan Yura menghabiskan banyak waktu di mansion berdua, Yura lebih sering di kamar karena Winter menyuruhnya untuk selalu istirahat.


Sementara pria itu mengambil beberapa potong buah-buahan di kulkas dan menaruhnya ke piring. Ia mengambil garpuh kecil lalu naik ke kamarnya.


Ketika membuka pintu kamar, Yura sedang membaca novel Nala di sofa, Novel yang belum selesai ia baca saat kemoterapi hari itu.


Yura menoleh kepada Winter, tersenyum dan menutup novelnya. Winter duduk di samping Yura.


"Aku mau semangka," pinta Yura.


Winter pun menyuapkan semangka ke mulut gadis itu dengan garpuh.


"Kau ya, yang membersihkan biji semangkanya?" tanya Yura.


Winter mengangguk. "Biji semangka nya menyusahkan mu ..."


Yura tersenyum geli mendengar Winter yang akhir-akhir ini selalu berbicara manis kepada dirinya.


"Besok kita jalan-jalan," ajak Winter.


"Kemana?"


"Kemana saja ..."


"Oke deh, ayo ..." Yura tersenyum sumringah lalu Winter kembali menyuapi buah-buahan untuk gadis itu


Malamnya, Yura kembali makan mangga ketika baru selesai minum obat, rasa pahit seakan menempel di lidahnya sampai Yura meminta mangga yang manis kepada Winter.


Yura memberikan piring kosong kepada Winter setelah mangga nya habis.


"Mau tidur sekarang?"


Yura mengangguk.


"Oke ..." Winter menyimpan piringnya di meja kemudian mengitari ranjang dan merebahakan dirinya di samping Yura.


Mereka tidur saling menyamping berhadapan satu sama lain. Dengan kedua tangan mereka di bawah pipi sebagai bantalan dan selimut menutupi tubuh mereka sampai pinggang.


"Winter ..."


"Hm?"


"Aku mau tanya."


"Apa?"


"Kenapa, kenapa kau mau di jodohkan denganku, maksudku kenapa kau tidak menolak?"


Winter membisu, ia tidak mungkin menjelaskan kepada Yura kalau ia menikah untuk menggantikan Summer yang menolak di jodohkan dengan Yura.


"Kenapa?" ulang Yura.


"Karena ..." Winter menatap intens bola mata istrinya. "Karena apapun yang menjadi milikku selalu terbaik untukku ..."


"Kau terbaik untukku ..." lanjut Winter membuat senyum di wajah Yura merekah seketika.


Yura kembali bertanya. "Winter ..."

__ADS_1


"Hm?"


"Kenapa sikapmu juga berubah? kau bicara tidak seirit dulu ..."


Lagi-lagi Winter tidak mungkin menjawab ia ketakutan ketika tahu Yura sakit leukimia. Winter berusaha untuk membuat banyak kenangan bersama gadis itu dengan merubah sikapnya.


"Aku tidak mau membuatmu kesal dengan sikapku ..." sahut Winter.


Yura kembali tersenyum. Tangan Winter terulur mengusap pipi gadis itu.


"Tidurlah ..."


"Kau tidak penasaran kenapa aku mau di jodohkan denganmu?"


Winter menggeleng. "Aku tidak mau tau."


"Kenapa?"


"Tidak penting," sahut Winter membuat Yura mengerucutkan bibirnya.


"Dasar! aku itu mau di jodohkan denganmu karena Daddy bilang calon suamiku pria ramah. Ya walaupun awalnya aku juga menolak sih."


"Dan kau menyesal karena yang kau dapatkan bukan pria ramah seperti yang di katakan Daddy mu?" Winter bertanya dengan masih mengelus pipi Yura dan sesekali memainkan rambut gadis itu.


"Eumm ... menyesal sih tidak, hanya terkadang aku frustasi dengan sikapmu yang dulu."


"Maaf Yura ..."


"Winter ..."


"Hm?"


Seketika tangan Winter yang bergerak membelai pipi gadis itu berhenti. Bola matanya menatap iris mata Yura yang sedang menunggu jawaban.


"Kenapa kau berpikir seperti itu Yura ..."


"Aku tidak tau, aku tiba-tiba kepikiran saja."


Winter menghela nafas kemudian mendekati wajah Yura dan mencium hidung gadis itu.


"Tidurlah, tidak ada hal jelek di pernikahan kita. Aku tidak mungkin berubah karena alasan kau sakit, Yura ..."


Kalimat Winter barusan seperti angin berlalu begitu saja, Yura tidak mendengar kalimat Winter barusan karena tubuhnya seperti mati mendadak ketika Winter mencium hidungnya.


Orang biasa cium kening, kenapa dia mencium hidungku. Tunggu, bukan kah ini pertama kalinya dia menciumku. Saat menikah kami tidak berc*uman sama sekali.


Kemudian bola mata Yura bergerak menatap mata Winter yang juga tengah menatapnya.


"Selamat malam ..." Yura langsung memejamkan matanya karena salah tingkah dengan ciuman Winter barusan.


Winter menarik ujung bibirnya tersenyum. "Selamat malam ..." ucapnya dengan mengelus pundak gadis itu.


*


Tengah malam Yura mengigil hebat dan demam tinggi. Winter sedang mengompres gadis itu setelah memberinya obat tadi.


Bibir Yura bergetar, ia memeluk dirinya sendiri. Ketika seperti ini rasanya sangat sakit Winter melihatnya, apalagi ia tidak bisa apa-apa selain menemani Yura.

__ADS_1


Winter memeluk gadis itu, rintihan Yura mulai terdengar, gadis itu mengeluh sakit di seluruh tubuhnya.


"Sabar ya ... besok kita bertemu Dokter Leon lagi ..."


Winter terjaga sepanjang malam menemani Yura yang sesekali bangun dan mengeluh badannya sakit, terkadang gadis itu bangun untuk minta minum dan ingin buang air kecil.


Ketika ke kamar mandi pun, Winter tidak membiarkan Yura berjalan, ia menggendong gadis itu.


"Kenapa bukan aku saja yang sakit, Yura ..." lirih Winter menatap sendu gadis yang tidur di pelukannya.


"Aku bisa minum obat, aku juga tidak takut suntikan ..." lanjutnya.


*


Keesokan paginya, mereka pergi ke Rumah Sakit, Yura tidak tahu tujuannya apa. Dokter Leon membutuhkan sampel sumsum tulang belakang gadis itu.


Mereka masuk ke sebuah ruangan khusus, sudah ada Dokter Leon dan satu perawat di ruangan itu.


"Kita ke sini mau apa?" tanya Yura memandang ruangan yang berbeda dari kamar pasien.


"Ayo ... kau mau sembuh kan." Winter menarik tangan Yura.


"Nona, buka dulu bajunya ya. Pakai ini ..." Perawat memberikan baju khusus.


Yura menoleh kepada Winter. Winter menganggukan kepala, gadis itu pun membuka bajunya di ruangan khusus di bantu perawat.


"Tidur di sini, Nona."


Dengan pandangan ngeri Yura berjalan perlahan ke ranjang.


"Tidur menyamping ya."


Yura tidur membelakangi Dokter Leon dengan Winter di depannya. Yura mendongak menatap Winter.


"Aku mau di apain?" tanya Yura pelan.


"Diam saja ya, ada aku ..." Winter mengenggam tangan gadis itu.


Dokter Leon membuka resleting punggung gadis itu karena sebelumnya pakaian dalam Yura harus di buka di ruangan ganti tadi.


Yura memeluk erat suaminya dengan memejamkan mata. Winter melihat bagaimana jarum suntik itu masuk ke bagian panggul istrinya untuk di beri bius.


Yura memejamkan matanya dengan mencengkram kuat tangan Winter ketika jarum bius itu masuk.


Kemudian ada satu jarum suntik yang ukurannya lebih panjang karena harus sampai ke tulang.


Ketika perlahan jarum itu masuk, Yura mencengkram lagi tangan suaminya, ia berusaha menahan diri agar tidak teriak dengan mengigit bibir bawahnya tapi karena rasanya begitu sakit akhirnya jeritan gadis itu keluar, jarum suntik itu seakan mengoyak tulang panggul Yura hanya untuk mendapatkan sampel sumsum tulang belakang. Yura menangis merasakan ngilu yang luar biasa.


"Sabar sayang ... sebentar lagi ..." Hanya itu kalimat yang bisa di ucapkan Winter dengan tatapan tidak tega melihat Yura kesakitan.


Setelah selesai Yura hanya terdiam dengan pandangan kosong, Winter masih menemani gadis itu di sampingnya. Sementara Dokter Leon sudah keluar bersama perawat.


Yura menatap Winter kemudian memutar bola matanya kesal.


"Maaf ..." lirih Winter mengusap kepala Yura.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2