Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#143 masih berdebat


__ADS_3

"Yura kau yakin bisa menyetir?" tanya Winter ragu ketika istrinya hendak menyetir mobil untuk pergi ke asrama Noah dan Kai.


Pasalnya Yura juga takut Winter tidak fokus menyetir karena kerap kali pusing dan ingin muntah. Winter sudah di beri obat, walaupun sudah merasa baik-baik saja tetap Yura tidak mau Winter menyetir.


"Aku bisa, tenang saja. Aku pernah membawa mobil di Spanyol," sahut Yura.


"Aku ragu Yura," ucap Winter.


"Aku juga ragu Winter kalau kau yang menyetir."


"Yasudah kita tidak usah berangkat saja," sahut Winter.


"Ih tidak mau. Aku mau ketemu Mommy Milan juga."


Akhirnya Yura pun menyalakan mesin mobilnya membuat jantung Winter seakan berdegup kencang. Dia takut istrinya nabrak nanti.


Mobil perlahan keluar dari mansion dengan Winter yang terus menggerutu.


"Hati-hati. Pelan-pelan. Awas rem nya, gas nya injak perlahan saja."


Yura menghela nafas, dia seperti sedang belajar mobil saja padahal dirinya merasa sudah mahir membawa mobil saat di Spanyol.


"Jangan ngebut, Yura. Pelan-pelan!"


"Iya ... iya ... astaga ..."


"Rem nya, rem nya ..."


"Winter ini sudah sangat pelan."


Winter menghela nafas dengan perasaan gelisah, ia benar-benar tidak yakin Yura bisa menyetir.

__ADS_1


"Yura ke pinggir saja, biar aku yang bawa."


"Sudah diam, kau lebih baik tidur saja Winter."


"Aku tidak mau, takut nanti bangun ada di Rumah Sakit ..."


Yura menoleh dengan mulut setengah terbuka. "Kau benar-benar tidak percaya denganku Winter ..."


Winter menggeleng sebagai jawaban membuat Yura mendengus kasar dan kemudian menginjak pedal gas dengan kuat, mobil melesat seketika dengan jantung Winter yang berdegup kencang.


Yura tersenyum seraya mengacuhkan teriakan suaminya.


"Kau sedang hamil, berhenti!!"


"Seru juga ya, seperti sedang balapan," sahut Yura seraya terkekeh pelan.


"Yura!!"


"Yura!!"


"Yura pikirkan anak kita!!" ucap Winter dengan nada tinggi.


"Sepertinya ini keinginan salah satu anak kita Winter, ada yang ingin jadi pembalap!" sahut Yura.


"Yura berenti atau aku loncat!" ancam Winter dengan memegang pintu mobil.


Akhirnya Yura menghembuskan nafas dan mobilnya menepi.


"Yura kau kenapa, kenapa malah ingin jadi pembalap?" Winter sedikit kesal.


"Kau juga kenapa, kenapa mau pelihara ikan. Ikan cup*ng lagi ..." Yura tidak mau kalah.

__ADS_1


"Ikan itu bagus, cantik, kau akan suka. Semakin besar ekornya semakin mirip gaun wanita ..."


"Balapan mobil juga seru Winter ..."


"Sudah, biar aku saja yang menyetir." Winter pun keluar dari mobil.


Yura menggerutu. "Kenapa aku dan dia jadi sering berantem sekarang. Masalah ikan dan mobil lagih, tidak jelas sekali."


Yura membuka pintu setelah suaminya menggedor jendela mobil.


Mereka bertukar posisi, kini Winter yang menyetir.


Yura mengelus perutnya. "Daddy kalian aneh sekali ... masa Ikan cup*ng di pelihara di kolam."


"Mommy kalian juga aneh, masa tiba-tiba mau balapan mobil," sahut Winter tidak mau kalah.


Yura menoleh kemudian mencubit lengan suaminya. "Kau ya ... aku tidak mau tau, pindahkan ikan-ikan itu ..."


"Aku tidak mau Yura!"


"Nanti aku berenang dimana?" tanya Yura.


"Aku buat kolam renang baru untukmu ya."


"Ih, kau lebih memilih ikan cup*ng itu dari pada aku!" kesal Yura.


"B-bukan begitu Yura ..."


"Ah menyebalkan!! pelakorku ikan ternyata!" Yura kesal dengan tangan bersedekap dada membuat Winter tertawa.


Bersambung

__ADS_1


Ikan yang di maksud winter. Ekornya mirip gaun wanita katanya wkwk



__ADS_2