Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#135 Marah kepada Winter


__ADS_3

Janin Yura sehat, usia kandungannya baru empat minggu, Dokter Rani sudah memberikan vitamin untuk gadis itu dan memberikan susu Ibu hamil yang harus di minum rutin oleh Yura.


Dari awal keluar dari ruangan Dokter Obgyn, Yura terus tersenyum sambil mengelus perutnya. Ia senang, akhirnya sebentar lagi ia bisa merasakan jadi seorang Ibu.


Winter juga sesekali mengelus kepala istrinya. Mereka berjalan menuju mobil. Senyum di wajah Yura memudar ketika ingat perkataan sang mertua, untuk membuat Winter kerepotan dengan masa-masa kehamilannya.


Masalahnya, Yura sekarang tidak merasakan apapun, mual atau mengidam sesuatu alhasil gadis itu pura-pura sakit kaki.


"Kenapa?" tanya Winter melihat Yura berhenti berjalan.


"Kaki ku sakit nanti pijit--- Aaarggh Winter turunkan aku ..."


Pria itu langsung menggendong istrinya di depan banyak orang, Yura terus meronta-ronta meminta di turunkan.


Sebenarnya Yura hanya ingin meminta Winter memijit kakinya ketika di mansion nanti bukan menggendongnya di depan banyak orang.


"Winter ... ih Winter ..." Yura memukul-mukul dada suaminya yang malah menggulum senyum di wajahnya.


"Tutup matamu kalau malu," ucap Winter.


Yura mendengus, ketika melihat ke sekeliling banyak orang yang memperhatikan dirinya, alhasil Yura menutup matanya.


Satu menit, dua menit sampai lima menit kemudian Yura merasa Winter terus menggendongnya. Aneh, dari tadi berjalan kenapa belum sampai ke parkiran.


Gadis itu membuka matanya perlahan dan ia tercengang ketika ternyata dirinya masih di bawa berputar-putar sepanjang koridor Rumah Sakit oleh suaminya.

__ADS_1


"Winter ..." Yura menatap suaminya dengan mata membulat sempurna.


Winter merunduk dengan tersenyum sambil terus berjalan. Terdengar sorak ramai dari orang-orang.


"Duh pasutri baru ya ..."


"Ya ampun sampai segitunya ..."


"Astaga ... tidak pusing Tuan ..."


"Eh eh .. itu kan Tuan Winter ..."


"Loh, Tuan De Willson group itu ya?"


"Berarti itu istrinya, Nyonya Yura ..."


"Tuan ... tampan sekali ..."


Yura celengak-celinguk mencari arah suara yang menyebut suaminya tampan. Berani sekali menggoda Winter di dekat dirinya.


"Suka kan, di goda seperti itu. Kau berputar-putar seperti ini karena caper dengan perempuan-perempuan muda di sini kan."


Mendengar itu Winter langsung berjalan lurus menuju garasi. Ibu hamil sudah marah, dia lebih baik diam saja.


Winter menurunkan Yura di dekat mobilnya, ia membuka pintu mobil dan Yura bukan masuk tapi malah berdiri dengan tangan bersedekap dada.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud apa-apa Yura ..."


"Cih, bohong. Suka kan di bilang tampan?"


"Tidak Mommy," sahut Winter sambil mencubit dagu Yura.


Yura mengusap-ngusap dagu nya tidak mau di cubit Winter. Hal itu membuat Winter terkekeh.


"Tertawa?"


Winter langsung memudarkan tawa nya. "Yuk pulang."


Yura masih menatap Winter dengan dahi mengkerut dan gigi bawah yang bergerak ke kanan kiri. Winter menghela nafas lalu memeluk istrinya.


"Maaf ya ... tidak bermaksud cari perhatian dengan perempuan-perempuan tadi. Hanya ingin membuatmu tertawa saja tapi malah marah ..."


Yura sempat memberontak tidak mau di peluk tapi akhirnya luluh juga dengan perkataan suaminya.


Winter melepas pelukannya lalu mengusap perut Yura dengan lembut.


"Maafkan Daddy ya ... karena membuat Mommy mu kesal."


Yura menatap tangan Winter di perutnya lalu beralih menatap iris mata suaminya yang memancarkan perasaan bersalah.


Yura menghembuskan nafas. "Aku memaafkanmu ..."

__ADS_1


Senyuman di wajah pria itu merekah seketika. "Terimakasih ..." ucapnya dengan merunduk mendekati wajah Yura lalu memberi kecupan lembut di bibirnya.


Bersambung


__ADS_2