Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#70 Magma di mansion De Willson


__ADS_3

Milan sedang mengobati luka Summer. Maxime berjalan mondar-mandir dengan frustasi.


"Tidak mungkin Winter melakukan itu, Summer ..."


"Dad, terlalu percaya dia manusia baik!" hardik Summer dengan emosi menggebu-gebu.


"Summer tenanglah dulu ..." ucap Milan.


"Lagi pula itu kan hanya foto Summer." Maxime duduk di depan mereka.


"Dad tidak akan mengerti betapa berharganya foto itu!" pekik Summer.


"Summer sudahlah, kau berhenti menganggu kakakmu dan Yura. Biarkan mereka bahagia, Dad akan mencari tahu siapa yang memukulimu ... beritahu Dad dimana apartemen mu."


"Aku hanya ingin fotoku kembali, aku tidak perduli dengan siapa yang memukuliku!!"


Kemudian Winter berjalan masuk, mereka semua menoleh, Summer melayangkan tatapan penuh dendam kepada Winter.


Winter duduk di samping Ayahnya.


"Mungkin ada cctv di garasi," ucap Winter.


"Jangan pura-pura tidak tahu!!" pekik Summer menatap tajam Winter.


"Ada apa ini ..." Javier datang berjalan di bantu salah satu pelayan kemudian duduk bergabung bersama mereka.


"Grandpa, istirahat saja. Ini hanya pertengkaran biasa," ucap Milan.


Javier meneliti wajah Summer. "Kenapa dengan wajahnya?"


"Ada yang memukuli dia di garasi apartemen," sahut Maxime membuat Javier sedikit terkejut.


"Siapa, siapa yang memukulinya? berani sekali dia mengusik keluarga kita!"


"Summer tidak memberitahu alamat apartemennya," ucap Maxime.


"Suruh Julian yang melihat cctv garasi kalau begitu," timpal Milan.


Di sela-sela perbincangan mereka. Winter dan Summer malah terus saling menatap dingin dan menusuk membuat Javier menggelengkan kepala.


"Hei dua musim ..." panggil Javier.


Keduanya menoleh.


"Sudahlah, baikan saja. Kalian ini kenapa, kalian bukan anak kecil lagi. Waktu kecil tidak pernah rebutan mainan masa sudah dewasa rebutan perempuan ..."

__ADS_1


Winter dan Summer dari kecil tidak pernah rebutan mainan karena Winter yang selalu mengalah dan mengambil mainan yang tidak di sukai Summer, walaupun sebenarnya Winter juga tidak suka mainan tersebut.


"Untuk apa saya memperebutkan Yura, grandpa. Sudah jelas dia istri sah saya," pekik Winter membuat Summer semakin kesal.


Kemudian langkah kaki kembali terdengar. Julian datang dan duduk bersama mereka.


"Tidak ada cctv di garasi, tidak ada cctv di jalan dekat apartemen," ucap Julian membuat Maxime menghembuskan nafas dengan memijit keningnya.


"Mereka memukulku hanya untuk mengambil foto itu, satu-satunya orang yang takut aku menunjukan foto itu kepada Yura hanya Winter, dia yang menyuruh orang untuk memukuliku, aku--"


"Summer stop!" potong Maxime.


"Masalah kau di pukuli, Dad akan anggap itu masalah serius!! tapi masalah mu menganggu rumah tangga Winter itu sangat salah Summer!!"


"Dad---"


"Summer ..." potong Javier. "Dengarkan ucapan Daddy mu, dia benar ..."


Summer memalingkan wajahnya dengan kesal.


Kemudian bel kembali berbunyi.


"Pintu tidak di kunci," ucap Julian dengan heran karena tadi dia masuk begitu saja karena memang pintu utama terbuka lebar.


"Biar aku lihat dulu." Milan beranjak dari duduknya pergi ke pintu utama.


Maxime menghentikan langkahnya dan terbelalak melihat Magma bersama Yura.


"Kau ..."


"Hai Mr De Willson ..." Magma tersenyum dengan melambaikan tangan.


Maxime mengepalkan tangan dengan geram. Milan hendak menarik tangan Yura tapi Magma mengulurkan tangannya di depan Yura.


"Magma ..."


"Adik ipar ..." Magma melambaikan tangan kepada Winter.


Yura berdecak. "Aku sudah bilang jangan kesini!"


Magma merangkul Yura membuat mereka terkejut, kecuali Winter. Dan ucapan Magma memanggil adik ipar kepada Winter tidak terlalu di dengar mereka karena mereka lebih kaget dengan nyali Magma yang berani masuk ke mansion Maxime.


"Jangan macam-macam dengan menantu ku!!' pekik Maxime.


"Aku tidak mungkin menyakiti adikku sendiri," sahut Magma dengan tersenyum miring.

__ADS_1


"Adik?" ucap Summer, Milan dan Maxime bersamaan.


Di tengah-tengah keterkejutan mereka, Magma masuk begitu saja melewati mereka semua. Maxime yang tersadar pun langsung menyusul Magma.


Yura menghampiri Winter, Summer menatap tangan Yura yang menggenggam tangan suaminya kemudian Summer pun kembali masuk dengan hati yang panas.


Maxime langsung menarik kerah baju Magma dari belakang dan segera memberinya pukulan di wajah sampai kepala Magma menoleh ke samping.


Semua orang terkejut dengan itu, Javier yang duduk langsung berdiri.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke mansion ku!!" geram Maxime.


Magma memegang ujung bibirnya dengan tersenyum kecut. "Pukulan yang luar biasa, berbeda dengan anaknya ..."


"Apa maksudmu?!" tangan Maxime mengeram kesal.


Winter langsung menghampiri Ayahnya. "Dad, cukup."


"Gara-gara kau Nicholas mati!" Maxime menunjuk wajah Magma.


Magma tertawa sinis. "Lalu kenapa kalau dia mati? bukankah dari awal mereka yang menjadi anak buah mafia harus siap mati?"


"Magma sudah cukup ..." Yura berlari menghampiri Magma.


"Yura kemari ..." pinta Milan yang merasa khawatir jika Yura dekat dengan Magma tapi Yura menggelengkan kepala.


Javier yang sedari tadi memperhatikan mereka perlahan berjalan mendekati mereka. Magma melihat kursi kayu di dekat nya lalu menendang kursi itu dengan sangat keras membuat yang lain terlonjak kaget, tapi ternyata niat Magma melakukan itu untuk menyuruh Javier kembali duduk.


"Sudah tua, duduk saja!" ucap Magma ketika kursi tersebut berhenti di depan Javier.


Javier menatap kursi di depannya lalu beralih menatap Magma. "Apa maksudmu ..."


"Bos, dia menyeramkan juga ya," bisik Julian kepada Summer.


Summer hanya menyikut Julian dengan berdecak menyuruhnya untuk diam.


"Aku bilang duduk saja, kau sudah tua, kau mau kemana, jalan sudah gemetar seperti itu ..." ulang Magma.


Semua orang terheran dengan sikap Magma. Maxime sendiri berpikir Magma datang untuk kembali balas dendam.


Tapi yang terjadi justru berbeda, pria itu malah duduk di sofa, mengambil apel dan memakannya dengan mengangkat kakinya ke atas meja.


Bahkan ketika tadi Maxime memukulnya, Magma tidak membalas pukulan itu.


Semua orang masih berdiri, mematung menatap Magma dengan heran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2