Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#40


__ADS_3

"Pada tubuh orang normal sumsum tulang belakang akan memproduksi sel darah putih untuk menjaga imun tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit, tapi pada penderita leukimia, sel darah putih ini berkembang berlebihan dan tentunya ini tidak baik."


"Saya belum bisa memastikan jelas stadium berapa kanker yang berada di tubuh Yura, karena kita harus melakukan tes BMP (bone marrow puncture) ini di lakukan untuk menentukan stadium atau perkembangan suatu penyakit."


"Bagaimana prosesnya?" tanya Winter.


"Dengan memasukan jarum suntik ke bagian panggul untuk mendapatkan sampel sumsum tulang, rasanya sangat sakit. Nona Sunshine pasti tidak mau. Tapi hal itu bertujuan agar kita tahu tindakan apa yang harus kita lakukan kedepannya, jika terbukti leukimia nya belum masuk stadium akhir, maka pengobatan cukup dengan kemoterapi, minum obat-obatan atau transfusi darah jika di perlukan. Tapi jika sumsum tulangnya sudah rusak, kemungkinan Nona Sunshine membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari seseorang agar kembali memproduksi sel darah yang sehat."


Winter terdiam, penjelasan yang cukup panjang dari Dokter Leon. Tapi bagaimana dengan Yura, gadis itu pasti tidak mau melakukan banyak pengobatan. Apalagi harus merasakan suntikan lagi.


"Saya tidak menyangka anda suami Nona Sunshine, Tuan. Awalnya saya merasa kasihan dia berobat sendirian apalagi dia saat itu cukup keras kepala, tidak mau melakukan pengobatan dengan baik, tes BMP juga seharusnya di lakukan dari awal sebelum kemoterapi, tapi Nona Sunshine menolak ketika saya memberitahu prosesnya ..."


"Saya akan membawa dia tes BMP besok. Siapkan saja prosesnya," ucap Winter yang di jawab anggukan dari Dokter Leon.


"Baik, Tuan ..."


"Kalau begitu saya permisi ..." Dokter Leon berdiri, membungkukan badan lalu pergi dari mansion.


Winter menengadah menatap pintu kamarnya yang tertutup. Yura ada di kamar, dia tidak ikut berbincang membahas penyakitnya dengan Dokter Leon karena Winter tidak mau membebani pikiran Yura dengan penyakitnya. Gadis itu sedang menonton film Nathan.


Winter beranjak dari duduknya untuk menghampiri Yura tapi bel mansion berbunyi. Winter berjalan membuka pintu dan ketika membukanya, ada Summer di teras depan.


"Yura ada?" tanya Summer memiringkan wajahnya mencari Yura.


"Mau apa?" tanya Winter balik bertanya.


"Malam nanti kan konser Nathan, dia ada janji denganku ..."


Satu alis Winter terangkat naik, Yura tidak bilang jika ada janji menonton konser bareng dengan Summer.


"Dia sedang tidak enak badan, tidak bisa nonton konser, pergi sendiri saja!"


Winter menutup pintu tapi Summer menahan dengan kakinya.


"Winter tunggu ..."


Winter kembali membuka pintunya.


"Dia sakit apa? Kau sudah memanggil Dokter kan?" tersirat nada khawatir dari ucapan Summer membuat Winter heran.


"Dia sedang istirahat, dia masih punya suami yang mengurusnya, tenang saja ..."


"Kalau begitu aku hanya ingin menjenguknya ..." Summer hendak masuk tapi dada nya di dorong oleh Winter sampai Summer mundur beberapa langkah.


"Kau ini kenapa? salah kah aku ingin menjenguk kakak iparku sendiri?"


"Aku sudah bilang dia sedang istirahat."


"Tapi aku---"


"Summer ..." Suara itu dari Yura yang kini sedang menuruni anak tangga. Gadis itu tersenyum kepada Summer.

__ADS_1


Summer langsung menerobos masuk sampai menubruk badan Winter yang berdiri di ambang pintu.


"Kau baik-baik saja?" Summer terlihat begitu khawatir sampai mengecek kening Yura dengan punggung tangannya.


Winter yang melihat itu, mendekat dan menghempaskan tangan kembaran nya itu dari kening istrinya.


Yura yang kebingungan hanya menatap bergantian dua pria kembar di depannya.


"Summer, pulanglah. Jangan menganggu nya!"


"Aku hanya ingin mengecek keadaannya saja!" sahut Summer menatap jengkel Winter.


"Istirahat yang cukup, obatnya jangan lupa di minum, bagaimana dengan makanmu? Oris sudah tidak di sini kan."


Summer kemudian menatap Winter. "Suamimu ini tidak bisa masak. Biar aku saja yang memasak bagaimana?" Summer kembali menatap Yura.


"Hah?" Yura menaikkan alisnya karena heran kenapa tiba-tiba sikap Summer berbeda dari biasanya, begitu perhatian sampai mau memasak untuknya.


"Tidak di butuhkan, ada chef di sini," sahut Winter datar dan dingin menatap Summer.


Summer mengangguk samar menatap Winter. "Bagus ..."


Kemudian bola matanya kembali beralih menatap Yura.


"Aku pulang dulu kalau begitu, kita bisa nonton konser nanti saja."


Ketika Summer hendak berbalik pergi, Yura baru ingat soal konser Nathan yang akan berlangsung malam ini.


Winter menggeleng pelan membuat Yura mengerucutkan bibirnya. "Plis ..." rengek Yura memegang tangan Winter dengan memasang wajah memelas.


"Aku bisa menyuruh Nathan datang kesini, Yura."


"Tapi itu bukan konser namanya, yang aku mau nonton dia bernyanyi."


"Aku juga bisa menyuruh dia bernyanyi di sini, Yura!" ucap Winter.


Yura mendengus kasar kemudian menatap Summer dengan menggeleng pelan yang artinya Yura juga tidak bisa ikut nonton.


*


Seperti senjata makan tuan, ucapan Winter malah membuat dirinya jengkel sekarang ketika melihat Yura sedang duduk dengan Nathan. Nathan bernyanyi dengan memainkan gitarnya di depan Yura.


You're my angel, angel baby


(Kau adalah Malaikatku, Malaikat sayang)


Angel, you’re my angel, baby


(Malaikat, kau adalah Malaikatku, sayang)


Baby, you're my angel

__ADS_1


(Sayang, kau adalah Malaikatku)


Angel baby


(Malaikat sayang)


Tapi lebih jengkel lagi ketika Summer malah duduk di sampingnya, bukan pulang dari tadi.


"Yeayyy ..." Dengan senyum sumringah Yura memberikan tepuk tangan ketika Nathan selesai menyanyikan satu lagu untuknya.


Ini masih sore, sebelum konser Nathan di telpon Winter untuk datang ke mansion nya karena Yura tidak bisa menonton konser nya.


Sekarang gadis itu sedang selfie berdua dengan Nathan di depan Winter dan Summer. Winter tahu Yura hanya mengidolakan Nathan, tidak lebih. Hatinya tidak terlalu panas melihat itu, malah melihat tatapan Summer kepada Yura lah yang menjadi masalah bagi Winter.


"Sudah selesai kau bisa pulang," ucap Winter pelan menatap Nathan, tapi Summer tahu ucapannya barusan bukan untuk Nathan tapi untuk dirinya.


"Kenapa kau jadi mengusirku sekarang?" tanya Summer menoleh kepada Winter.


"Yang ingin melihat Nathan bernyanyi itu Yura, bukan kau," sahut Winter menoleh menatap Summer dengan datar dan menusuk.


"Memangnya kenapa? Nathan juga tidak protes!"


Nathan dan Yura menatap dua pria kembar yang saling melayangkan tatapan dingin.


"Mereka kenapa?" bisik Nathan kepada Yura.


Yura mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Nathan menatap arloji di pergelangan tangannya, ini sudah sore ia harus bersiap-siap untuk konser nanti malam.


Nathan pun berdiri. "Sudah bertengkarnya? aku mau pergi dulu ..."


Winter dan Summer mendongak menatap Nathan kemudian mereka menganggukan kepala bersamaan.


"Nah, begitu kan kompak," ledek Nathan melihat si kembar menganggukan kepalanya berbarengan.


Si kembar pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain membuat Nathan terkekeh pelan.


"Yura aku pulang dulu ya."


Yura mengangguk dengan tersenyum. "Oke, hati-hati ..."


Bersambung


Winter ini masih 25 tahun ya, jadi belum tua-tua amat jadi visualnya keliatan muda sedikit hehe. Beda sama Visual Daddy Maxime dan Grandpa Javier yang di cerita umurnya 30 tahunan. Untuk Summer, visualnya sama dengan Winter, cuman bedanya Summer lebih narsis di camera. Kan mereka kembar hehehe.


Cocok ga nih?😋


Winter L.De Willson



Ayura Aletta

__ADS_1



__ADS_2