
Magma berjalan masuk ke rumah Benjamin setelah sang Ayah menelpon kalau Bayuni kembali jatuh sakit.
Semenjak kepergian Yura, Bayuni sering kali jatuh sakit. Apalagi Magma juga malah kembali ke Spanyol dengan alasan perusahaan miliknya sudah lama di tinggalkan.
"Mom ..." Magma duduk di sisi ranjang memegang tangan Ibunya yang terasa panas.
Bayuni yang sedang tidur perlahan membuka mata menatap putranya. "Magma ..." ucapnya dengan lemah.
"Dad, Mom sudah makan?" tanya Magma kepada Benjamin yang berdiri di dekatnya.
"Sudah, sudah minum obat juga. Tapi Mommy sering sekali tidur, istirahat memang harus tapi Mommy mu tidur berlebihan. Itu yang membuat kepalanya pusing terus," ucap Benjamin.
Magma menghela nafas kemudian kembali menatap Bayuni. "Mom, sudah berapa kali aku bilang. Jangan tidur terus, coba kalau sehat nanti olahraga seperti dulu, makan makanan yang sehat, berjemur, jangan diam di kamar terus."
"Kalau tidak tidur, tidak bisa bertemu Yura," lirih Bayuni dengan suara lemah.
Magma menatap Ayahnya. Lagi-lagi, Yura yang menjadi alasan Bayuni terus-terusan tidur. Karena perempuan paruh baya itu selalu ingin bertemu putrinya walaupun di mimpi.
"Mom ... Yura sedih kalau tau Mom sakit terus seperti ini," ucap Magma.
"Kau juga sih, sudah tau adikmu meninggal kau malah kabur lagi ke spanyol!" pekik Benjamin dengan kesal.
Magma berdecak. "Sudahlah, Dad. Jangan bertengkar lagi karena hal itu."
__ADS_1
"Kau lebih mementingkan perusahaan dari pada orang tuamu sendiri, Magma!" hardik Benjamin.
"Ada hal penting yang harus aku urus di sana, Dad."
"Apa? setiap kali Dad tanya kau tidak pernah menjawab!"
"Sudah ... sudah ..." Bayuni berkata dengan suara lemah sambil memegang keningnya yang terasa pusing.
Kalau sudah membahas masalah Magma pindah kembali ke spanyol pasti suaminya selalu ribut dengan Magma.
"Mom ... maafkan aku ya ... aku janji aku akan tinggal di sini lagi, tapi tidak sekarang. Aku harus membereskan sesuatu dulu di sana." Magma mengelus tangan Ibunya.
Bayuni mengangguk lemah.
Magma membantu Bayuni bangun dan Benjamin segera membawa kursi roda yang ada di pojok ruangan. Magma menggendong Ibunya ke kursi roda lalu mendorongnya ke teras depan.
Magma hanya ingin Bayuni keluar dari kamar, sesekali merasakan udara di luar seperti dulu. Karena Bayuni jarang sekali keluar setelah Yura meninggal.
Di teras depan, Magma duduk di kursi dan kursi roda Bayuni di sampingnya.
"Ini ..." Benjamin memberikan piring berisi buah-buahan kepada Magma. Lalu pria paruh baya itu kembali masuk ke rumah.
Magma mengambilnya dan menyimpannya di meja. Ia kemudian memilih mengupas mangga untuk sang Ibu.
__ADS_1
"Magma ..."
"Ya?" Magma menoleh.
"Kau suka rindu adikmu tidak?" tanya Bayuni.
"Pasti lah Mom," sahut Magma dengan tersenyum lalu kembali mengupas mangga.
"Mom ingat dia tidak bisa minum obat ..." Bayuni tersenyum ketika mengingat putrinya yang selalu kabur ketika disuruh minum obat, sampai Yura mengunci diri di kamar mandi demi tidak minum obat.
"Dia selalu berteriak, berlari sampai Mom dan Dad harus mengejar anak itu ke kamar mandi ..." Bayuni tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia menghela nafas berat, sesak setiap hari nya jika ingat wajah putri kesayangannya itu.
Magma menatap sendu Ibunya yang kini sedang menangis. Perasaan tidak tega melihat Bayuni seperti itu.
"Andai saja dia hidup lagi. Mom mau memeluk dia setiap hari nya walaupun bukan anak kandung Mommy, tapi Mommy sangat menyayangi dia. Yura yang ceria ... Yura yang selalu histeris ketika melihat Nathan di tv, Yura yang selalu menyembunyikan snack di kamarnya karena Mommy selalu melarang dia jajan di luar ..."
Mendengar itu Magma memalingkan wajahnya, tak tega melihat wajah Ibunya dengan tatapan kosong menceritakan kenangannya dengan Yura. Padahal sudah hampir tiga tahun lebih Yura meninggal, tapi Ibunya tidak ada perubahan sama sekali, malah semakin memburuk dengan sakit terus-menerus.
"Mom ..." Magma kembali menoleh. "Mom harus sehat ... agar bisa bertemu Yura lagi."
"Di mimpi?" tanya Bayuni dengan satu alis terangkat naik.
Magma tidak menjawab, ia hanya mencoba memberi kekuatan kepada Ibunya dengan mengelus tangan Bayuni.
__ADS_1
Bersambung