
Ketika Winter membuka pintu, ia mendapati Yura di gendongan Summer.
"Summer!" Summer menoleh.
Winter langsung menghampiri Summer dan mengambil Yura dari gendongan pria itu.
"Dia mimisan," ucap Summer.
"Pulang!" Winter menaiki anak tangga dengan menggendong Yura yang pingsan.
Tapi bukan pulang, Summer malah mengikuti Winter menuju kamarnya. Summer terlihat khawatir melihat Yura pingsan.
Winter menidurkan Yura di ranjang, Summer menarik selimut dan menyelimuti gadis itu.
"Dia baik-baik saja kan?" Summer mengecek kening Yura.
Winter segera menepis tangan Summer. "Pulang!"
"Kau kenapa? aku hanya khawatir, tadi dia mimisan dan bilang kepalanya pusing!"
Winter mengitari ranjang, menarik kerah baju Summer dengan geram dan menyeretnya keluar dari kamar. Winter mendorong tubuh Summer lalu menutup pintu kamarnya.
"Kau kenapa sial*n!"
"Kau yang kenapa!" pekik Winter. "Tidak seharusnya kau khawatir dengan istri orang lain!!"
"Dia kakak iparku, wajar kalau aku khawatir dengannya! suaminya tidak ada di rumah dan dia mimisan!!"
Winter menghela nafas kasar dengan mengepalkan tangannya. "Pulang!" titah Winter.
"Kau kenapa memblokir nomor ku?" tanya Summer.
"Kau kenapa terus memandangi istriku?" Winter balik bertanya.
Keduanya saling diam, menatap tajam dengan nafas memburu.
Winter pun berbalik hendak masuk ke kamar tapi ucapan Summer menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau sembunyikan dariku Winter?"
__ADS_1
Winter terdiam dengan mencengkram kuat knop pintu.
"Kalau tidak ada, tidak mungkin kau sampai kembali ke mansion hanya karena tau aku ada di sini."
Winter pun berbalik menatap Summer. "Suami mana yang akan membiarkan istrinya berdua dengan pria lain?"
"Pria lain? Cih ..." Summer terkekeh sinis. "Kau menganggapku pria lain untuk Yura?" Summer bersedekap dada.
"Tatapanmu terhadap istriku sudah menjelaskan semuanya, Summer ..."
"Aku tau kau menyembunyikan sesuatu dari ku, Winter. Aku akan mencari tahu ..."
Summer pun pergi dari mansion meninggalkan Winter dengan penuh kekesalan menatap kepergian kembaran nya itu.
*
Winter masuk ke kamar, duduk di samping gadis itu yang masih belum sadarkan diri. Perlahan tangan nya membelai lembut pipi Yura.
Sampai akhirnya Yura membuka mata perlahan.
"Summer ..." ucapnya dengan berusaha bangun lalu duduk menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"W-winter?"
Winter mengangguk.
"Loh, kenapa pulang? bukannya ke luar kota?"
Winter menggeleng. "Aku tidak jadi pergi. Maaf aku meninggalkanmu, Yura ..." Winter mengelus kepala gadis itu merasa bersalah.
"Kau kenapa, aku baik-baik saja loh. Tadi ada Summer juga yang membantuku waktu mimisan, jangan sampai dia tahu aku sakit ya Winter, bilang saja aku kelelahan."
Winter mengangguk kembali kemudian mendekat dan mendekap istrinya.
*
"Saya sudah membakar semua bukti itu Tuan," ucap Lusi berbicara di telpon dengan Winter yang berdiri di balkon.
Lusi baru saja membakar bukti yang ia dapat dari seorang reporter. Tas Yura, passport dan foto kecil Yura bersama Summer.
__ADS_1
"Bagus."
Winter mematikan panggilan telpon nya lalu masuk kembali ke kamar. Terlihat Yura sedang menyisir rambut dengan duduk di atas ranjang.
Winter duduk di dekat Yura.
"Winter, lihat ini ..." Yura menunjukan rambutnya yang rontok dengan wajah cemberut. "Rambutku mulai rontok ..." Yura terlihat begitu sedih memandang rambut rontok di tangannya.
Winter mengambil gunting di laci lalu menggunting rambutnya sendiri membuat Yura terbelalak dan segera merebut gunting tersebut.
"Eh, kau apa-apaan!"
Winter sudah mendapatkan rambutnya sendiri. Kemudian ia mengambil rambut rontok Yura tadi di tangan gadis itu, Winter mengambil kotak di laci dan memasukan rambut Yura dengan rambutnya sendiri ke kotak itu.
"Kenapa di masukan?" tanya Yura heran.
"Kita kumpulkan rambut kita di sini Yura."
"Tapi rambutku pasti lebih banyak yang rontok ..."
"Aku akan memotong rambutku setiap rambutmu rontok. Kau tidak sendiri Yura ..." Pria itu mengelus pipi Yura sampai ia merasakan tangannya basah karena Yura menangis.
Winter kemudian meraup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, kedua ibu jarinya bergerak menghapus air mata Yura.
"Aku akan menemanimu ... sekalipun sampai rambutmu habis, Yura ..."
"T-tapi nanti aku jelek Winter." Yura menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak, Yura gadis yang sangat menyayangi rambut panjangnya, ia tidak bisa membayangkan jika ia harus kehilangan rambutnya sendiri. Yura seakan kehilangan mahkota nya kalau sampai rambutnya terus rontok.
"Ssstt ... Kau selalu cantik."
"Jangan menghiburku seperti itu ... hiks."
"Kalau kau botak aku juga botak."
Yura menarik ujung bibirnya tersenyum mendengar ucapan Winter. Ia tidak bisa membayangkan kalau dirinya dan Winter sama-sama botak.
"Yura ... kau pasti sembuh, aku sedang mencari Dokter kanker terbaik untukmu ... sabar ya."
Yura pun mengangguk dan memeluk suaminya dengan tangis yang masih belum reda.
__ADS_1
Bersambung