
Winter membantu Yura duduk di ranjang, sesekali Yura merintih kesakitan.
"Minum dulu ..." Winter menyodorkan segelas air untuk gadis itu.
Yura mengambilnya, meminumnya sedikit lalu memberikan kembali gelas itu kepada Winter. Yura masih membuang muka, enggan menatap mata suaminya.
"Masih marah?"
Hening, tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Maaf Yura ..." Winter mengenggam tangan gadis itu tapi Yura langsung menepisnya.
"Pengobatan harus di lakukan dengan baik, Yura ..."
Yura kemudian menoleh. "Kemarin kau bilang jalan-jalan, kenapa aku malah di suntik lagi. Kau juga tidak bilang dulu, kau pikir tidak sakit apa!"
Winter menghela nafas. "Aku takut kau menolak, Yura ... tes itu sangat penting untuk kondisi kesehatanmu, maaf ya lain kali aku bilang dulu."
Yura kembali memalingkan wajahnya dengan jengkel.
*
Winter membawa wadah dan handuk kecil ke kamarnya, menyimpan wadah di meja lalu mencelupkan handuk kecil tersebut.
"Yura cuci muka dulu ..."
Winter mengelap perlahan wajah Yura, gadis itu tidak mau mandi dengan alasan tubuhnya sakit, apalagi bekas suntikan tadi pagi. Ia hanya tiduran di ranjang sepanjang hari.
"Eh kau mau apa?" Yura melebarkan matanya ketika Winter mau membuka kancing bajunya.
"Tubuhmu juga harus di bersihkan, Yura ..."
"T-tidak ..." Yura menggeleng ngeri membayangkan tubuhnya di lap oleh tangan Winter.
Selain sikapnya yang berubah, apa jangan-jangan dia juga berubah jadi mesum.
"Yura ..."
Yura menoleh. "Wajahku sudah cukup, tubuhku tidak perlu. Aku mau istirahat saja ..."
"Yakin?" tanya Winter memastikan.
Yura menganggukkan kepala. Kemudian Winter pun keluar dari kamar dengan membawa wadah air hangat tersebut.
Yura menghela nafas lega melihat Winter keluar.
"Aku harus mulai hati-hati, dia sudah mulai berani menyentuh ku ... aku kan belum siap," gumam Yura.
Ponsel Yura bergetar, pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Yura membukanya.
Cobalah pergi ke pantai dan hitung mundur ketika matahari hampir tenggelam, Yura. Mungkin kau ingat sesuatu. Jangan beritahu Winter!
"Siapa ini? apa maksudnya," gumam Yura menatap pesan di ponselnya.
*
"Bos sudahlah bos, sadar bos sadar!! jangan menganggu kakak iparmu lagi, bos!!" Julian semakin geram dengan sikap Summer yang tak henti-hentinya curiga dengan Yura.
"Aku yakin dia hilang ingatan. Aku yakin dia Letta, kalau aku tidak bisa bertanya langsung kepada Tuan Benjamin tentang masa kecil Yura, aku akan mencari tahu sendiri!!"
__ADS_1
Julian memercak pinggang di depan Summer dengan menggelengkan kepala. Mereka berada di kantor pusat keluarga De Willson.
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikapmu, bos! kau mencari masalah dengan keluargamu sendiri!!"
"Sepuluh ... ayo hitung Letta."
"Sembilan." Letta.
"Delapan." Summer.
"Tujuh." Letta.
"Enam." Summer.
"Lima." Letta.
"Empat." Summer.
"Tiga." Letta.
"Dua." Summer.
"Satu ... yeayyyy ..." Summer dan Letta meloncat-loncat senang ketika matahari tenggelam sepenuhnya.
Summer tersenyum getir mengingat kembali masa kecilnya. Selain dengan Winter, Letta termasuk orang yang juga di ajak menghitung matahari tenggelam oleh Summer saat kecil.
Summer merindukan itu, sudah lama ia tidak menghitung matahari tenggelam bersama Letta.
Pria itu mengambil jas di belakang kursi, memakainya lalu keluar dari kantor.
"Bos kau mau kemana?!" teriak Julian.
*
"Letta aku pulang dulu, nanti aku ke sini lagi ya kalau libur sekolah."
Letta terlihat sedih. Gadis kecil itu menunduk, Summer menggenggam tangan Letta.
"Letta aku lanjut sekolah di sini nanti, aku kerja di sini juga nanti, jadi kita sering ketemu."
Letta mendongak dengan mata berbinar. "Beneran Summer? kau tidak bohong kan? kau sekolah di sini ..."
Summer mengangguk membuat senyuman merekah di wajah gadis kecil itu.
"Summer nanti ajak aku naik pesawat ya, aku belum pernah soalnya."
"Kalau begitu ikut saja sekarang Letta, Daddy ku punya pesawat. Gratis."
"Tidak ah, aku mau naik pesawat pakai uangmu saja hehe."
"Kalau begitu tunggu aku besar dulu, Letta. Aku harus kerja dulu nanti aku belikan pesawat untukmu."
"Sekarang pesawatnya sudah ada, kau dimana Letta ..." lirih Summer berdiri di depan pesawat miliknya dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
Ia menatap pesawat di depannya dan membayangkan ia dan Letta naik pesawat itu, berdua dan jalan-jalan ke setiap Negara.
Ada rasa sakit ketika membayangkan hal yang belum bisa terwujud, Summer hanya bisa menghela nafas berat dengan mata berkaca-kaca.
Hari terakhir bertemu dengan gadis kecilnya saat menghitung matahari tenggelam sebelum Summer kembali pulang dari Italy, setelah itu mereka benar-benar berpisah.
__ADS_1
Kemudian seorang pilot menghampiri Summer dan berdiri di sampingnya.
"Kita mau kemana, Tuan?" tanya nya.
"Italy. Aku harus mencari sesuatu ..."
Pilot itu mengangguk kemudian mereka berdua berjalan masuk ke dalam pesawat.
*
Yura masih memandangi isi pesan yang membingungkan di ponselnya, nomor yang tidak di kenal menyuruhnya menghitung matahari tenggelam, untuk apa.
"Kalau dia salah kirim, tidak mungkin. Karena dia bilang jangan beritahu, Winter. Itu artinya dia kenal Winter juga kan ... siapa ya ..."
Ketika pintu kamar terbuka Yura langsung memasukan ponselnya ke dalam selimut. Winter membawa beberapa obat yang harus Yura minum.
Yura berdecak dan langsung memalingkan wajagnya ketika melihat beberapa botol obat di tangan Winter.
"Minum obat dulu ..." Winter duduk di samping gadis itu.
Yura kemudian menoleh. "Ke pantai yuk?"
"Yura kau harus istirahat dulu. Kau dengar ucapan Dokter Leon kan ..."
"Ah, tapi aku mau ke pantai," rengek Yura.
"Lusa."
"Ih, kok lusa. Lama sekali, besok saja bagaimana?"
"Lusa."
"Winteeerrr ..." Yura merengek dengan memasang wajah memelas.
Winter tetap dengan pendiriannya, tidak boleh. Dan pria itu hanya menggelengkan kepala menatap Yura.
Yura mendengus kasar. "Yasudah, lusa. Jangan bohong lagi, awas saja bilang ke pantai malah di bawa ke Rumah Sakit lagi ..."
"Aku janji." Winter mencubit gemas hidung Yura.
"Minum obat dulu ..."
Drama minum obat masih terjadi, walaupun tidak separah sebelumnya, Yura hanya dua kali memuntahkan obatnya.
Setelah minum obat Winter masih duduk di samping Yura memperhatikan gadis itu yang sedang tidur.
Kemudian ponselnya bergetar, ia mengambil ponsel di saku celananya. Sebuah pesan masuk dari Lusi.
Tidak ada nama Yura di Tk Venus. Bahkan tidak ada nama Tuan Benjamin dan Nyonya Bayuni mendaftarkan Yura ke Tk Venus.
Pesan itu membuat Winter bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa istrinya begitu banyak menyimpan tanda tanda yang masih sulit di pecahkan.
Winter kemudian mengingat hari dimana ketika mereka makan malam bersama di mansion Maxime. Winter bertanya perihal foto saat Yura kecil, jawaban Bayuni seakan menyembunyikan sesuatu.
"Mommy akan mengirimkan fotonya kepadamu, tapi kau harus janji jangan menyebarkan foto kecil Yura ya, karena Yura sendiri tidak punya foto kecilnya."
Winter menghela nafas, ponselnya di simpan di meja kemudian ia kembali menatap Yura. Tangannya terulur mengelus poni gadis itu yang menghalangi matanya.
Bersambung
__ADS_1