
Winter mengajak Yura ke kantornya. Ia hendak mengantar Yura kembali ke rumah Benjamin ketika Winter hendak pergi kerja. Tapi gadis itu menolak dan meminta diam di mansion saja. Karena Winter takut terjadi sesuatu terhadap istrinya ia memutuskan membawa Yura.
Selama di ruangan, Yura hanya menonton film, makan dan tiduran di sofa. Sesekali ia menoleh ke arah suaminya yang tampak sibuk. Terlihat ada Lusi yang berdiri di samping Winter.
"Winter ..." panggil Yura.
Winter menoleh.
"Aku mau jalan-jalan," pinta gadis itu.
"Kemana?" tanya Winter.
"Keliling kantor saja. Boleh ya?"
"Biar Lusi antar."
"T-tidak, tidak perlu." Yura menggeleng. "Aku paling ke kantin."
"Yasudah, ponselmu jangan lupa di bawa."
"Siap." Yura mengacungkan jempolnya dengan tersenyum.
Ia keluar dari ruangan berjalan di koridor menuju lift. Lalu turun ke lantai satu.
Kantin masih sepi karena belum waktunya jam istirahat. Para penjual tersenyum ramah menyapa Yura.
Yura duduk di salah satu kursi. Ia mengedarkan pandangannya mencari makanan yang ia inginkan.
"Nah, bakso saja."
Yura mengangkat tangan. Seorang pelayan datang menghampiri.
"Mba, bakso satu ya. Sama jus jeruk."
"Baik, Nyonya. Tunggu sebentar ya," kata pelayan itu dengan tersenyum ramah.
Ketika menunggu Yura hanya memainkan ponselnya. Sampai seseorang duduk di depannya. Yura mendongak.
"Summer ..."
"Hei kaka ipar," sapa nya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kau, kenapa di sini?" tanya Yura kemudian.
"Aku sedang bosan saja, jadi jalan-jalan kesini."
"Memangnya kau tidak sibuk?" tanya Yura.
Summer menggeleng. "Tidak, aku bukan pemimpin perusahaan dan juga bukan karyawan jadi bebas-bebas saja."
"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk. "Bisa begitu ya, mentang-mentang anak pemilik perusahaan," lanjutnya dengan terkekeh pelan.
"Itu lah enaknya Yura." sahut Summer sambil tertawa.
"Kau sudah pesan makan?" tanya Summer kemudian.
"Sudah, aku pesan bakso."
"Yura ..." Mata Summer menyipit. "Aku kasih tau Winter ya kau makan makanan tidak sehat." ancam Summer.
"Mau aku traktir tidak?" Yura mengajak bernegosiasi dengan mata memelas agar Summer tidak memberitahu Winter.
"Cih, aku tidak miskin Nona Yura maaf!" sahut Summer dengan menahan kedutan di bibirnya agar tidak tersenyum.
"Kau menyebalkan ah!" sahut Yura menekuk wajahnya.
"Oh iya ..." pria itu menggantung kalimatnya menatap Yura di depannya.
"Ya? kenapa?" tanya Yura.
"Aku minta maaf ya ... soal, perasaanku kepadamu ... aku tau itu salah."
Yura terdiam menatap intens Summer.
"Mungkin aku yang belum move on dengan masa kecil kita. Tapi sekarang aku akan menganggap mu sebagai kakak iparku ... bolehkan?"
Senyum di wajah Yura perlahan mengembang dan ia pun menganggukan kepala.
Banyak hal yang mereka bahas setelahnya. Terutama tentang masa kecil mereka karena Yura hanya ingat sebagian saja.
"Jadi kau masih belum ingat kenapa kau bisa datang ke sini dari Italy?"
Yura menggeleng dengan menyeruput jus jeruknya.
__ADS_1
"Aku belum ingat," sahut Yura dengan memainkan sedotannya.
Setelah itu mereka kembali membahas hal lucu yang membuat Yura tertawa terbahak-bahak.
Winter diam-diam memperhatikan di cctv, ada perasaan tidak enak ketika melihat Yura tertawa lepas bersama Summer. Summer yang memang ramah dan ceria selalu mudah mencairkan suasana dengan lawan bicaranya. Sementara Winter selalu terlihat kaku.
Pria itu pun beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan menuju kantin.
Ia langsung duduk di samping Yura membuat Summer dan Yura sontak menoleh.
"W-Winter ..."
Winter menatap mangkuk bakso di depan Yura kemudian ia menarik mangkuk bakso tersebut.
"Ih, jangan!" Yura menahan mangkuk bakso nya dengan wajah memelas.
"Plis, sekali saja ... janji besok-besok tidak makan bakso."
"Gejala leukimia mu mulai berkurang, jangan karena hal ini kau kambuh lagi, Yura ..."
"Tapi tidak ada hubungannya dengan bakso," sahut Yura membela dirinya sendiri.
Summer hanya menjadi penonton.
"Selama ini kau makan makanan yang sehat. Bukan yang seperti ini." Winter menepis tangan Yura yang memegang mangkuk bakso membuat gadis itu mendengus kasar.
Kemudian Winter mengalihkan pandangannya ke arah Summer. Tatapan dingin sesuatu dengan arti namanya.
Summer menaikan satu alisnya. Yura pun berbisik.
"Jangan bertengkar dia sudah meminta maaf. Dia menganggapku kakak ipar saja sekarang."
Ucapan Yura bukan menenangkan perasaan Winter. Justru semakin membuat hatinya panas, mungkin Yura percaya dengan ucapan Summer tapi tidak untuk Winter.
Ia menaruh cemburu besar ketika melihat istrinya tertawa lepas bersama kembaran yang pernah menyukai Yura.
"Dia benar," sambung Summer yang masih bisa mendengar ucapan Yura tadi. "Aku tau aku salah, jadi aku datang untuk meminta maaf."
"Maaf mu di terima tapi jangan dekat dengan istriku lagi!"
"Hei, Winter. Kenapa bicara seperti itu, kita keluarga sekarang," ucap Yura. "Harus akrab satu sama lain."
__ADS_1
Winter lalu menoleh. "Aku bahkan tidak perduli jika tidak akrab dengan Magma."
#Bersambung