Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#129 Rumah Benjamin


__ADS_3

Reagan tidak menginap di mansion Winter, mereka sudah mengantar anak itu pulang ke mansion Summer.


Malamnya mereka tidur berhadapan di kamar. Dengan berbincang mengenai seorang anak.


"Aku belum hamil, bagaimana ini?"


"Sabarlah dulu, Yura. Kita masih punya banyak waktu untuk membuatnya."


"Heh, kau ya!"


Winter terkekeh mengelus kepala istrinya. "Tidak perlu buru-buru punya anak. Kita bisa menikmati waktu berdua dulu dan kita masih punya Reagan."


Yura dengan tersenyum mendekati suaminya lalu memeluk pria itu. Winter mengecup kening istrinya dengan tangan mengelus lembut pundak Yura.


"Winter, kalau aku tidak bisa punya anak. Apa kau akan selingkuh?"


Winter merunduk mengetuk kening Yura dengan jari telunjuknya. "Kenapa kau bicara seperti itu!!"


"Aku hanya bertanya."


"Saat aku tau kau meninggal saja aku tidak berniat menikah lagi. Aku punya Reagan, seluruh hidupku untuk dia ... aku pikir menjadi grandpa Xander kedua tidak masalah bagiku.Tapi ternyata kau kembali ..."


Yura menatap teduh iris mata suaminya yang menatapnya penuh kasih sayang.


Yura tersenyum. "Terimakasih Winter ..."


Winter mempererat pelukannya mengelus punggung istrinya. Yura kembali mendongak. "Oh iya, kau tau Magma terus ganti nomor."


"Kenapa?"


Yura menggeleng. "Tidak tau, ini sudah ketiga kalinya Lail menghubungiku memberitahu nomor baru Magma. Dia seperti anak kecil saja ganti-ganti nomor ..."


"Kakakmu memang aneh Yura."


"Hei, dia yang membuatku kembali kepadamu tau." Yura memayunkan bibirnya.


"Iya ... Iya ... Aku sangat berterimakasih kepada kakak iparku itu," ucap Winter kemudian menarik kepala Yura masuk ke dada nya.


*


Pagi harinya Winter kembali kerja di kantor dan Yura pergi ke rumah Benjamin.


"Mom, Magma mana?" tanya Yura lalu duduk di sofa.

__ADS_1


"Panggil Kak Magma dong." koreksi Benjamin berjalan menghampiri putrinya dari arah dapur dengan membawa segelas kopi.


"Magma saja lah, besar kepala dia kalau di panggil kakak."


"Gitu-gitu juga kakak yang sudah merawatmu Yura." kata Bayuni berjalan di sofa bergabung dengan mereka.


"Hehe iya Mom. Kapan-kapan aku panggil dia kakak."


"Winter sudah pergi ke kantor?" tanya Benjamin.


"Sudah Dad."


"Oh iya, kau tau Magma membuat perusahaan di sini?"


"Perusahaan?" Yura mengerutkan dahinya. "Dia mau memindahkan perusahaanya dari Spanyol ke sini, Dad?"


"Tidak, yang di sini hanya cabang nya saja," sahut Benjamin.


"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk. "Oh iya, Daddy sama Mommy tau Magma sudah ganti nomor beberapa kali?"


"Ada yang menyebarkan nomor dia Yura, tidak tau siapa orang iseng yang menganggu privasi orang lain huh!" sahut Bayuni dengan nada kesal.


"Dad juga kesal, dia kalau di hubungi nomornya jarang aktif."


Kemudian Magma datang, mereka semua menoleh. Magma duduk di samping Yura.


"Kau jadi orang sibuk sekarang?" ledek Yura.


"Tentu saja, aku punya perusahaan," sahut Magma dengan bangga.


"Baguslah, semoga saja sibukmu bisa melupakan wanita-wanita di klab itu agar tidak banyak celap-celup."


"Itu beda lagi! itu kebutuhan!" Magma menoyor kepada Yura.


Yura menatap tajam Magma.


"Apa?" kata Magma dengan nyolot. "Sudah sembuh menyebalkan, giliran sakit aku di butuhkan!"


"Hehe bercanda Kak Magma ..." Yura mengelus lengan Magma.


Magma menepis tangan Yura. "Jangan bersikap seperti itu! mengelikan!!" Magma bergidik seolah-olah jijik dengan sikap Yura.


Benjamin menggelengkan kepala. "Berapa tahun kalian ini, bertengkar masih seperti anak kecil," ucap Benjamin.

__ADS_1


"Mereka baru bertemu ketika dewasa, wajar saja seperti itu," bisik Bayuni.


"Pagi ..."


Mereka kembali menoleh ke arah pintu mendengar suara seseorang. Yaitu Winter.


Mata Yura berbinar senang, dia beranjak dari duduknya berlari menghampiri suaminya.


"Kok sudah pulang?"


"Tidak terlalu sibuk," sahut Winter sambil mengelus kepala Yura.


Magma yang melihat itu berdecih. "Cih, menjijikan!"


"Yang menjijikan itu yang setiap malam ke klab mencari wanita virg*n," sindir Benjamin membuat Magma menghela nafas.


Mereka berkumpul di meja makan. Walaupun tadi Yura dan Winter sudah sarapan, tapi untuk menghargai Benjamin dan Bayuni mereka kembali makan.


Winter menatap Magma intens yang tengah makan nasi goreng buatan Bayuni.


Magma mendongak dan mendapati Winter menatapnya dengan sedikit senyuman di wajahnya.


Magma menatap Yura yang juga sedang makan lalu beralih menatap Winter yang masih menatapnya. Magma berhenti mengunyah karena merasa jijik dengan tatapan Winter. Ia menendang kaki Winter di bawah meja.


"Aku colok matamu itu!!"


Semua orang sontak menoleh bergantian ke arah Magma dan Winter.


"Kenapa?" tanya Yura.


"Suamimu tuh, melihatku terus. Menjijikan!"


"Aku hanya ingin berterimakasih karena--"


"Stop!!" potong Magma. "Aku tidak menerima kata terimakasih dari laki-laki!!"


"Heh, suamiku ini baik tau. Dia mau berterimakasih, tidak semua orang berani bilang makasih!" Yura membela.


"Cukup katakan kepada sepupu mu itu untuk tidak menyebarkan nomorku itu sudah cukup!!"


"Sepupu?" satu alis Winter terangkat naik.


Bayuni, Benjamin dan Yura saling menoleh. Jadi sepupu Winter yang menyebarkan nomor ponsel Magma dan menganggu privasi dia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2