Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#120 Italy (3)


__ADS_3

Pagi harinya, Winter baru keluar dari kamar mandi ia tersenyum melihat Yura tertidur dengan meringkuk di atas ranjang. Yura masih belum memakai baju hanya selimut yang menutupi tubuh putihnya.


Winter berjalan mendekati Yura. Lalu memeluk gadis itu dari belakang sambil mencium kepala istrinya.


"Ada kawanan lumba-lumba sedang bermain. Kau mau melihatnya?" tanya Winter.


Yura mengerang dengan menggelengkan kepala lalu kembali tidur.


"Bangunlah, jangan tidur terus. Kita di tengah laut bukan di mansion."


Winter menarik paksa Yura. Membuat gadis itu duduk di ranjang dengan setengah sadar.


"Aku mau tidur lagi ah." Ketika Yura hendak kembali tidur, Winter segera menggendong tubuh gadis itu.


"Aaaaa Winter aku mau tidur ..." Yura menggerak-gerakan kakinya di gendongan Winter.


"Mandi dulu," pekik Winter.


*


Ketika selesai mandi mereka baru ingat kalau mereka tidak membeli baju untuk Yura. Di kapal pesiar juga kebanyakan baju Winter saja, baju Milan terlalu besar untuk Yura, Winter tidak suka melihatnya.


Alhasil pria itu membawa kemeja putih miliknya dari lemari dan memberikannya kepada Yura di kamar mandi.


Winter duduk sambil membaca buku di kursi menunggu istrinya. Ketika Yura keluar, ia mendongak dan terdiam sambil menelan saliva nya susah payah, kemeja putih yang di pakai Yura tidak terlalu panjang, hal itu membuat paha mulus Yura terpampang dengan jelas.


Apalagi Yura tidak memakai celana panjang. Hanya cel*na dalam yang yang dia pakai. Bagian lehernya terbuka karena tidak di kancingi dengan benar membuat tatto bertuliskan nama Winter terlihat. Hal itu membuat Yura tampak s*xy.


"Winter ..." panggil Yura membuat Winter mengerjapkan mata karena tadi melamun.


Winter beranjak dari duduknya membawa Yura keluar.


Winter dan Yura duduk di luar kapal menikmati angin pagi sambil sarapan. Sesekali lumba-lumba terlihat melompat ke permukaan membuat Yura tersenyum.

__ADS_1


Winter yang duduk di samping istrinya memberikan secangkir teh hangat. Meminum teh hangat di pagi hari dengan matahari yang perlahan muncul dan duduk berdua bersama suami tercinta nya sambil menonton lumba-lumba bermain sudah seperti surga dunia untuk Yura.


Dia ingat kejadian semalam. Pikiran Yura tentang Winter yang seperti tidak punya hawa n*fsu itu terpatahkan sudah dengan kejadian semalam.


Dulu Yura berpikir demikian ketika Winter memandikan dirinya yang sedang sakit, pria itu seperti tidak punya hawa n*fsu karena tidak tergoda tubuh Yura.Tetapi ketika mengingat kejadian semalam, bagaimana suaminya bergerak di atasnya membuat Yura menghela nafas panjang, itu terlalu parah. Tidak ada kelembutan semalam sampai membuat bagian tubuh Yura sakit.


"Kenapa?" tanya Winter melihat Yura melamun.


"T-tidak." Yura menggeleng.


Baru saja Yura berusaha mengalihkan pikirannya tentang kejadian semalam. Pria itu sudah merem*s paha mulus milik istrinya.


Yura menyimpan teh di tangan nya. Lalu memegang tangan Winter di paha nya. "Tidak sarapan?" tanya Yura berusaha mengalihkan isi otak kotor Winter pagi-pagi.


"Sebentar lagi," sahut Winter.


Di tariknya tangan Winter dari paha Yura dan beralih mengelus kepala gadis itu lalu mengecup keningnya.


Winter membiarkan Yura sarapan sementara dirinya diam di samping Yura seraya memperhatikan gadis itu.


Yura menoleh. "Ini ..."


Yura menggeser semua piring ke depan Winter. Tapi Winter menggeleng. "Tidak mau itu."


"Terus apa?"


Winter pun menarik ujung bibirnya tersenyum. Senyuman yang membuat Yura merasa tidak aman dengan sarapan yang di maksud suaminya.


Dan benar, Winter langsung menggendong istrinya ke kamar.


"Winter semalam kan--"


"Lagi," potong Winter membuat Yura melebarkan mata.

__ADS_1


Yura di tidur kan di ranjang perlahan. Winter langsung naik ke ranjang. Dan sarapan yang di maksud suaminya itu menghujani paha Yura dengan cium*n, sesekali menggigitnya membuat Yura mendesis.


Terlihat bercak merah yang di tinggalkan di paha Yura akibat gigitan nya. Winter malah menyeringai senang sementara Yura sedang mengatur nafasnya dengan rasa geli yang menjalar di tubuhnya.


Pagi itu mereka melakukannya lagi seperti semalam.


Setelahnya rasa sakit itu kembali Yura rasakan. Tapi mungkin Winter yang terlalu gemas dengan istrinya tidak menyadari hal itu.


Sampai-sampai Dokter yang berada di kapal masuk ke kamar untuk mengecek keadaan Yura karena tadi Yura meminta di panggilkan Dokter.


Setelah melakukan pemeriksaan Dokter keluar dari kamar.


"Ada salep di meja, oleskan itu."


Winter mengangguk kemudian masuk ke kamar menghampiri istrinya yang tengah duduk di ranjang.


Melihat Winter, Yura langsung memalingkan wajahnya.


Winter duduk di sisi ranjang. "Coba aku lihat."


"T-tidak."


"Aku suamimu Yura."


Winter menyibakan selimut dan melihat seberapa besar luka di bawah sana sampai harus pakai salep. Dan ternyata di bawah sana sedikit lecet karena ulah nya.


Winter menghembuskan nafas lalu menatap Yura dengan perasaan bersalah.


"Maaf ..."


Yura hanya tersenyum tipis dengan menganggukan kepala.


Bersambung

__ADS_1


Favorit kan cerita Magma juga ya hehe kasian dia udah tua belum dapet jodoh. Jdulnya M&L 😘


__ADS_2