
Yura menuruni anak tangga ketika mendengar bel berbunyi. Ketika membuka pintu ia mendapati Summer berdiri di luar.
"Loh, Summer."
"Yura ..."
"Cari Winter?"
"Iya. Dia ada kan?" Summer balik bertanya.
"Baru sepuluh menit pergi ke bandara, mau ke luar kota dia bilang."
"Benarkah?"
Yura mengangguk.
"Terus, kau di mansion dengan siapa?"
"Pelayan," sahut Yura. "Kan banyak pelayan juga. Oris juga bilang bentar lagi ke sini. Mungkin sedang di jalan."
Summer mengangguk-ngangguk. "Kalau begitu aku temanimu sampai Oris datang ya."
"Boleh. Ayo masuk," sahut Yura dengan tersenyum.
Summer melenggang masuk ke dalam mansion, ia duduk di sofa.
"Aku buatkan minum dulu ..." Yura hendak berjalan ke dapur.
"Tidak perlu Yura. Aku ini bukan tamu, kau aneh sekali," sahut Summer dengan terkekeh pelan.
Yura menggaruk kepalanya. "Hehe ..." kemudian gadis itu duduk di depan Summer.
"Kau sudah makan malam?" tanya Summer.
"Sudah, sebelum Winter berangkat tadi."
"Huh, padahal aku mau memasak sesuatu untukmu ..."
"Masak apa?" tanya Yura sambil mengambil bantal dan menyimpannya di atas paha.
"Nasi goreng. Tapi ini nasi goreng spesial, resepnya turun temurun dari Ataric De Willson sampai ke Summer Louis De willson," ucap Summer dengan bangga.
"Oh iya? aku jadi penasaran, apa bedanya."
"Kau mau coba?"
Yura mengangguk cepat membuat Summer tersenyum. "Oke, kita masak sekarang ..."
Summer beranjak pergi ke dapur, Yura mengikutinya dari belakang.
"Summer aku bantu ya ..."
Summer berbalik dan mengacungkan jempolnya.
Di dapur mereka mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.
__ADS_1
"Timun pakai tidak?" tanya Yura.
"Pakai dong, tomat juga biar lebih cantik di piring nya nanti," sahut Summer.
"Oke ..."
"Kau potong timun sama tomatnya ya."
"Siap bos!" Yura mengangkat tangan nya hormat membuat Summer tertawa sambil mengacak-ngacak gemas rambut gadis itu. Yura pun ikut tertawa.
Mereka memasak dengan bercanda satu sama lain, Yura tak henti-hentinya tertawa ketika ia belajar memasak nasi goreng bersama Summer.
"Summer kau pintar masak ternyata ..." ucap Yura melihat Summer mengaduk-ngaduk nasi di wajan, aroma nasi goreng yang di buat sudah tercium harum nya, membuat Yura kembali lapar padahal tadi ia sudah makan.
"Tentu saja, lelaki di keluarga De Willson pasti bisa masak, Yura." sahut Summer dengan bangga.
"Tapi Winter tidak," sahut Yura.
"Karena dulu dia lebih suka diam di kamar dan membaca buku dari pada belajar masak dengan Daddy ku ..."
"Oh begitu ..." Yura mengangguk-ngangguk.
"Ambil piring," pinta Summer.
Yura pun mengambil piring dan memberikannya kepada Summer. Summer menyendok nasi goreng dari wajan ke piring, kemudian membawa piringnya ke meja.
"Sekalian giliran kau yang hias ..."
Dengan semangat Yura menata timun, tomat dan beberapa sayuran lainnya di nasi goreng itu. Summer mengambil dua sendok.
"Eum, oke ..."
Mereka duduk di meja makan, Summer duduk di samping Yura.
"Coba kau dulu," ucap Summer.
"Oke ..." Yura menyendok nasi goreng pertama nya, memasukannya ke mulut dan mengunyahnya perlahan.
Summer menatap penuh arti gadis di sampingnya dengan tersenyum. Perasaan nya selalu berbeda ketika di dekat Yura, ia seperti merasa Letta lah yang ada di sampingnya sekarang.
Kemudian Yura berhenti mengunyah dan menoleh ke arah Summer.
"Bagaimana?" satu alis Summer terangkat naik.
Yura langsung mengangguk cepat dengan tersenyum. "Eummm ini enak sekali ... kau hebat Summer."
Summer tersenyum, pria itu pun ikut memakan nasi gorengnya.
"Astaga Yura sabar ..." Summer menggelengkan kepalanya melihat Yura terus memasukan nasi goreng ke mulutnya padahal yang sebelumnya saja belum di telan. Yura terlihat rakus.
Yura hanya tersenyum sambil mengunyah nasi goreng. Summer menuangkan air ke gelas lalu memberikannya ke Yura.
"Ini, minum dulu ..."
Setelah nasi goreng di mulutnya tertelan habis, Yura menyambar segelas air dan segera meminumnya.
__ADS_1
"Yura, kalau kau mau. Aku bisa memasak ikan yang enak. Kau pasti suka."
"Benarkah?" Mata Yura berbinar senang. Summer mengangguk.
"Kau tau, aku suka sekali ikan. Aku dulu makan ikan bakar di pinggir pantai ---- Eh."
Yura langsung terdiam. Lagi-lagi kalimat itu keluar begitu saja padahal Yura merasa tidak pernah makan ikan bakar di pinggir pantai bersama kedua orang tuanya.
"Kenapa Yura?"
"Yura ..." Summer memegang pundak gadis itu ketika melihat Yura malah diam melamun.
Yura menggaruk kepalanya. "Aku bingung ..."
"Bingung kenapa?"
"Kenapa aku selalu bilang pernah makan ikan bakar di pinggir pantai ya, perasaan aku tidak pernah makan ikan di pinggir pantai dengan Daddy dan Mommy ..."
Summer menaikkan satu alisnya. Ini kesempatan untuk Summer mengorek masa lalu gadis itu. Ia tahu Letta tinggal di dekat pantai, gadis itu selalu makan bersama Ibunya di bebatuan yang ada di pesisir pantai.
"Coba kau ingat-ingat lagi Yura, mungkin kau pernah makan tapi lupa."
Yura mencoba mengingat-ngingat tapi kenangan dirinya makan bersama Benjamin dan Bayuni di pinggir pantai tidak muncul sama sekali.
Yura menatap Summer lalu menggelengkan kepala. Summer menghembuskan nafas.
"Eum, bagaimana dengan kalung yang aku berikan, apa kau ingat sesuatu ketika melihat kalung itu?"
"Kalung?"
Summer mengangguk.
"Aku juga tidak ingat apa-apa soal kalung, kau kenapa selalu menyuruhku mengingat-ngingat soal kalung itu, bukankah itu milik teman kecilmu, Summer?"
"I-iya Yura. Itu punya teman kecilku, lupakan saja. Makan lagi nasi goreng nya ..."
Yura mengangguk mengambil kembali sendok sambil menatap heran Summer. Yura tidak mengerti dengan sikap Summer.
Ketika ia sedang asik makan nasi goreng, ponselnya berdering panjang. Panggilan video call dari Winter. Yura langsung mengangkatnya.
"Hai ..."
"Makan apa?" tanya Winter ketika melihat Yura sedang mengunyah.
"Nasi goreng," sahut Yura lalu kembali menyendok nasi gorengnya.
"Siapa yang buat?" tanya Winter.
"Nih ..." Yura mengarahkan ponsel tersebut ke arah Summer.
Winter membulatkan mata, Summer menarik ujung bibirnya tersenyum seraya melambaikan tangan.
"Hai, bro ..."
Panggilan pun langsung di matikan, Winter yang baru sampai di bandara segera berlari kembali ke mobilnya untuk pulang ke mansion.
__ADS_1
Bersambung