
Benjamin dan Bayuni kembali ke Indonesia meninggalkan Aletta bersama Ibunya di Italy.
Bayuni sempat merengek dan tak henti-hentinya menangis ketika harus kembali ke Negara asalnya dengan sia-sia.
Sembilan bulan ia hidup di Italy untuk menunggu kelahiran darah daging suaminya. Semuanya hancur berantakan karena Yura yang berubah pikiran.
Magma, Lail dan Dokter Rico hanya ternganga dengan cerita dari Benjamin dan Bayuni.
Dokter Rico menggelengkan kepalanya. "Aku pikir cerita rahim bayaran hanya ada di Novel saja, ternyata di dunia nyata juga ada ya ..."
Bayuni memohon kepada mereka. "Saya mohon ... jangan beritahu siapapun soal ini. Saya tidak mau kehilangan Yura lagi."
"Jadi Yura itu Aletta?" tanya Magma.
"Iya," sahut Benjamin.
"Kami tidak tahu kenapa Ayura bisa ada di indonesia bersama Aletta. Kami tidak tahu darimana Ayura mendapatkan uang untuk membeli tiket pesawat, yang kami tahu hanya Ayura mengajak Aletta liburan kesini, mereka korban tsunami pantai greenland. Ayura di temukan tewas sementara Yura hilang ingatan, kami membawa dia dari Rumah Sakit. Karena menghargai mendiang Ayura, kami mengubah nama Aletta menjadi Ayura ..."
"Sampai sekarang apa Nona Ayura masih kehilangan ingatannya?" tanya Lail.
"Iya, dia masih belum ingat apapun. Sudah belasan tahun berlalu Yura masih belum ingat soal Ibunya. Dia hanya punya trauma hujan dan ombak besar," sahut Benjamin.
"DADDYYY ..." Tiba-tiba suara perempuan menyeruak dari luar rumah dengan menangis dan berlari masuk ke dalam rumah.
Semua orang menoleh dan mendapati Yura berdiri di ambang pintu dengan menangis.
"Yura ..." gumam Bayuni, berdiri menghampiri putrinya.
"Mommy ... mommy baik-baik saja?" Yura langsung memeluk Ibunya.
"Mommy baik-baik saja Yura. Kau kenapa?"
Yura melepas pelukannya. "Pak Adam bilang ..."
Yura menggantung kalimatnya ketika melihat Magma duduk di sofa. "Loh, Magma ..."
Magma menarik ujung bibirnya tersenyum seraya melambaikan tangan kepada Yura.
"K-kenapa dia ada di sini Mom?"
"Ayo duduk dulu Yura ..." Ajak Bayuni. Bayuni menyembunyikan rasa gelisahnya, ia takut Yura mendengar semua pembicaraan Benjamin.
Yura duduk di samping Bayuni, gadis itu terus menatap Magma, Lail dan Dokter Rico.
__ADS_1
"Yura ..." panggil Benjamin.
"Dad, Pak Adam bilang ada orang asing bawa pistol. Dia orangnya Dad?" Yura menunjuk Magma.
Magma terkekeh lalu mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkannya ke arah Yura. Yura sontak terbelalak dan segera memeluk Bayuni.
Benjamin berdecak dan menurunkan tangan Magma. "Jangan membuatnya takut!"
"Magma kau ini apa-apaan sih, tidak lucu tau!" kesal Yura.
"Aku tidak melucu, Yura," sahut Magma.
"Dad, dia manusia menyebalkan. Mukaku pernah di gambar jadi muka kucing, Dad. Aku sampai malu dan di tertawakan banyak orang!!"
"K-kalian sudah sedekat itu?" tanya Bayuni menatap bergantian Yura dan Magma.
Yura dan Magma mengangguk.
"Kenal darimana?" tanya Bayuni.
"Dia gadis yang sering jatuh," sahut Magma.
"Kau sering jatuh Yura? dimana, mana lukanya, coba Mommy lihat ..." Bayuni dengan khawatir meraba-raba tubuh Yura.
"Astaga Mommy ih, jatuh biasa, aku baik-baik saja."
"Sudah-sudah ..." Pekik Benjamin. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan denganmu, Yura ..."
"Apa Dad?" tanya Yura penasaran.
"Tapi jangan terkejut ya," ucap Benjamin.
"Tapi apa dulu," sahut Yura.
Akhirnya Benjamin menjelaskan semuanya kepada Yura tentang masalalu dirinya dan Rhea sampai Magma menjadi putra kandungnya.
Yura mengatur nafasnya perlahan dengan memegang dadanya sendiri. "Sebentar Dad sebentar ..."
Yura kembali menghela nafas lalu mengeluarkannya perlahan. Cerita dari Ayahnya seperti menghalangi oksigen masuk ke paru-paru nya, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sampai akhirnya Yura berteriak.
"AKU TIDAK MAU PUNYA KAKAK!!"
Yura menunjuk wajah Magma. "Apalagi dia, dia manusia menyebalkan .... tidak mau Mommy huaaaa ..." Yura langsung memeluk Bayuni.
__ADS_1
"Lebay!" pekik Magma.
"APA KAU BILANG!!" Yura langsung melempar bantal ke wajah Magma, untung Magma berhasil menangkap bantal itu dengan tersenyum meledek.
Benjamin berdecak seraya menggelengkan kepala. "Yura ..." nadanya lembut memanggil putri semata wayangnya itu.
"Kau dan Magma sama-sama anak Daddy ... lagipula Magma sudah dewasa, tidak mungkin terus menganggumu seperti anak kecil."
"Eh Dad tidak tau saja dia seperti apa!" sahut Yura dengan kesal.
"Lagipula Tuan Magma juga tidak mungkin tinggal di sini, iya kan," sambung Dokter Rico.
Yura menatap Magma menunggu jawaban. Berharap dia tidak tinggal di sini, Yura tidak mau kalau sesekali pulang ke rumah orang tuanya harus melihat wajah Magma.
"Aku tinggal di sini ..."
"APA ...!!"
*
Magma berjalan menaiki anak tangga untuk melihat desain rumah Benjamin. Yura terus membuntuti kakaknya itu dari belakang dengan menekuk wajahnya.
"Jangan ke kamarku!" pekik Yura.
Magma membalikkan badannya. "Maaf, tapi memang itu tujuanku ..."
Pria itu menaiki anak tangga lebih cepat membuat Yura menggeram kesal.
Magma membuka pintu kamar, ruangan yang cukup luas dengan desain warna putih. Beberapa boneka tampak berjejer rapih di atas ranjang dan meja belajar. Ada lemari berisi novel di dekat meja belajar.
"Ini kamarmu ..."
"Sudah keluar. Jangan sentuh kamarku!!" Yura menarik tangan Magma tapi Magma menghembuskan nya.
Pria itu berbaring di ranjang, menyimpan kedua tangannya di belakang kepala menatap langit-langit kamar Yura dengan menggerakan kakinya.
Yura berdecak dan duduk di sofa memperhatikan Magma dengan raut wajah tidak suka.
Dia ini sudah tua, tapi suka sekali mengangguku ...
"Yura ..." panggil seseorang.
Yura dan Magma menoleh ke arah pintu. Terlihat Winter berdiri di sana dengan bola mata langsung menangkap tubuh Magma yang terbaring di ranjang.
__ADS_1
Bersambung