
Reagan berjalan di koridor kantor sambil menggenggam jari telunjuk Winter. Tangan yang lain memegang permen, setiap karyawan yang bertemu mereka tampak tersenyum dan melambaikan tangan kepada Reagan.
Mereka masuk ke ruangan kerja Winter. Reagan duduk di sofa sambil main robot-robotan sementara Winter sibuk dengan laptopnya di meja yang lain.
Anak itu turun dari sofa, berlari di ruangan sambil menerbangkan robot di tangannya.
"Wushhhh .... wusshhh ..." Robot itu mendarat di dinding lalu Reagan kembali berlari membawa robotnya ke jendela.
Ia menunduk melihat banyak sekali orang berlalu-lalang di bawah sana. Sampai akhirnya mata kecilnya melihat perempuan sedang berdiri mendongak menatap ke arahnya dengan masker hitam.
"Hai Yula!" teriak Reagan sambil melambaikan tangan.
Mendengar itu Winter pun menoleh lalu mendekati putranya dan berjongkok.
"Liat apa hm?"
"Dad tuh ... Yula." tunjuknya ke jendela.
Winter pun menunduk dan dia tidak melihat siapapun.
"Yura di mansion," ucap Winter sambil menggendong Reagan dan membawanya ke kursi kerja.
"Gak tuh, Yula di, di bawah Daddy."
Winter hanya tersenyum dan mencium gemas Reagan.
"Nanti ke gereja ya."
Reagan mengangguk.
*
Sepulang kerja, Winter membawa anak itu ke gereja tempat biasa dirinya dan Yura berdoa dulu.
Reagan membuka setengah matanya menatap Winter yang sedang berdoa. Ia hanya mengikuti Ayahnya saja, kalau Ayahnya memejamkan mata anak itu pun ikut memejamkan mata. Winter berdoa dalam hati sementara Reagan bersuara.
"Yula ngan bobo telus ... Yula ngan bobo terus." (Yura jangan bobo terus ...)
Mulut Reagan terus komat-kamit entah apa yang di pinta anak itu. Ia hanya ingin kelihatan sedang berdoa.
Kemudian Reagan membuka dan menoleh ke samping. Ayahnya masih belum selesai, Reagan pun menoleh ke samping kiri dan lagi, ia melihat perempuan tadi.
__ADS_1
Anak itu berlari terbirit-birit mengejar perempuan yang tadi mengintip lalu berlari pergi ketika tersadar Reagan melihat dirinya.
Ketika Winter selesai berdoa ia menoleh dan mendapati anaknya hilang entah kemana.
"Reagan ..." teriak Winter mengedarkan pandangannya mencari anak itu.
"Reagan ..."
Winter masuk ke ruang peralatan tapi keluar lagi karena Reagan tidak ada di sana. Pria itu pun keluar dari gereja dan mendapati anaknya duduk di anak tangga sambil menopang dagu nya dengan kedua tangan.
Winter menghembuskan nafas lega. Ia pun duduk di samping Reagan.
"Bilang sama Dad kalau mau pergi." Winter mengelus kepala anak itu.
Reagan menoleh dengan cemberut.
"Kenapa hm?"
"Yula nya lali telus Dad."
"Lari?"
Reagan mengangguk membuat Winter terkekeh. "Yura tidak lari, Yura lagi bobo."
Winter hanya tersenyum tipis mendengar hal itu.
Mereka kembali pulang ke mansion. Reagan duduk di sofa setelah Winter membuka sepatunya. Reagan langsung menoleh ke foto yang di pajang di meja samping sofa, foto Yura.
"Hai Yula ..." Reagan melambaikan tangannya.
Winter datang dengan membawa segelas susu dan memberikannya kepada Reagan.
"Mau dot aja Daddy."
"Sudah besar, pakai gelas aja."
"Huhh ..." Reagan memajukan bibirnya tapi tetap meminum susu di tangannya sampai habis.
*
Julian bersiul santai di garasi mobil apartemen. Semenjak Summer menikah ia sudah tinggal berpisah dengan Summer, Summer tinggal di mansion miliknya sementara Julian masih di apartemen.
__ADS_1
Summer baru saja menelponnya, meminta Julian membeli beberapa buah-buahan. Ketika Julian berjalan ke mobilnya ia melihat di pojokan ada perempuan berdiri dengan rambut panjang acak-acakan.
Julian terdiam memperhatikan perempuan itu lalu menajamkan penglihatannya. "Yura ..." gumam Julian.
Julian mengucek-ngucek kedua matanya tapi ketika ia melihat lagi, perempuan itu sudah tidak ada di sana.
"Loh ..." Julian terkejut. "Kemana dia." Pria itu mengedarkan pandangannya. Ia sangat yakin itu Yura.
Pria itu pun sontak mengusap tengkuk lehernya merasa merinding dengan keadaan di garasi.
"Hih takut ..." Buru-buru Julian masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari garasi.
Sesampainya di mansion Summer ia masuk dengan menenteng kantung buah-buahan di tangannya.
"Bos ..." teriak Julian.
Summer berdecak dari arah dapur. "Lama sekali!"
"Sabar bos, harus antri," sahut Julian.
Summer langsung merebut kantung buah-buahan dari tangan Julian. Terdengar tangisan bayi, Intan menuruni anak tangga sambil menggendong bayi perempuan yang di beri nama Alea.
"Hai Julian."
"Hai Nyonya ..."
"Duduklah ..."
"Iya, Nyonya ..." Julian duduk di sofa bersama Intan sementara Summer sedang memotong beberapa buah-buahan di dapur.
"Eh Nyonya ..." Ucap Julian pelan.
"Apa?"
"Nyonya percaya tidak kalau saya bertemu dengan Yura di garasi tadi."
"Husshh, kau ini kalau bicara suka sembarangan. Mana bisa begitu, Yura sudah tidak ada kan."
"Sumpah, Nyonya ... saya liat sendiri. Mirip sekali dengan Yura, cuman rambutnya sedikit berantakan dan lebih panjang dari dulu."
Intan hanya bisa menggeleng mendengar cerita itu sementara Julian menghembuskan nafas kecewa karena Intan tidak percaya.
__ADS_1
Bersambung