Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#132 Mual lagi


__ADS_3

Yura muntah banyak di salah satu kamar mandi, bukan kamar mandi di dalam kamarnya. Ketika ia merasa mual, gadis itu masuk ke kamar mandi yang berada di kamar tamu agar tidak di ketahui Winter.


Setelah muntah, ia membersihkan mulutnya di wastafel dengan mematut dirinya di depan cermin setelah mengeringkan mulutnya dengan tisu.


Yura menatap pantulan dirinya di kaca, wajahnya terlihat pucat. Ia menghela nafas panjang.


Tidak, jangan sampai aku sakit lagi ...


Satu-satunya yang ada di pikiran Yura ketika pusing dan ingin muntah hanya penyakit di masa lalu nya, bagaimana kalau penyakit itu kambuh lagi. Bagaimana kala dirinya menderita leukimia lagi seperti dulu.


Yura keluar dari kamar tamu, ia berjalan menaiki anak tangga. Ketika di depan pintu kamarnya, ia menghela nafas panjang. Ia harus terlihat ceria lagi agar Winter tidak curiga dengan dirinya.


Pintu kamar terbuka, Winter yang sedang baca buku menoleh dengan tersenyum. Yura membalas senyuman suaminya lalu berjalan ke meja samping ranjang, ia membuka tas dan mengambil ponsel lalu mengetik pesan kepada Magma.


Antar aku ke Rumah Sakit. Aku mual lagi dan pusing.


Tidak sampai satu menit, Magma pun membalas.


Winter tau?


Yura kembali membalas.


Tidak.


Magma di ruang kerjanya menatap ponselnya sejenak setelah mendapat pesan dari adiknya. Padahal baru saja ia menenangkan diri setelah di ganggu Laura tapi pesan dari Yura membuat dirinya tidak tenang.


Kemudian ia kembali membalas.


Aku akan menjemputmu malam ini. Tenang saja, aku punya ide untuk membawamu keluar dari mansion.

__ADS_1


*


Malamnya Magma benar-benar datang ke mansion Winter. Ia menekan bel, dua menit kemudian Winter dan Yura menuruni anak tangga untuk membuka pintu.


"Kau ..."


"Aku butuh Yura. Sekarang!"


"Untuk apa? kemana?" tanya Winter.


"Darurat!" Magma hendak meraih tangan adiknya tapi langsung di tepis oleh Winter.


"Kau mau membawa dia kemana malam-malam seperti ini?"


Yura hanya menatap bergantian Winter dan Magma dengan mengigit bibir bawahnya. Takut kalau Winter tidak mengizinkannya keluar.


"Ada perempuan di rumah yang akan di jodohkan denganku. Hanya Yura yang bisa membuat orang tua ku waras untuk tidak menjodohkanku sial*n!! jadi aku membutuhkan dia sekarang!! Dan kau tidak perlu ikut!!"


"Hah hah hah, jangan banyak tanya. Aku butuh dia, nanti aku kembalikan sebelum jam 10!!"


Winter menoleh ke arah istrinya.


"Sebentar saja ..." pinta Yura.


Winter menghela nafas akhirnya mengangguk mengizinkan. Yura kembali ke kamar hanya untuk mengambil tas dan ponsel.


Winter dan Magma menunggu di teras depan.


"Tidak mau menikah?" tanya Winter.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!!" sahut Magma lalu menyalakan rokok dengan pemantik api.


"Jangan merokok di mobil, Yura tidak suka asap rokok!!"


"Aku tau!! aku yang merawat dia di Spanyol!!"


"Ayo ..." teriak Yura berlari menghampiri mereka.


"Langsung pulang ya." Winter mengelus kepala istrinya. Yura mengangguk.


Magma masuk ke mobil setelah menginjak rokok dengan sepatunya. Yura melambaikan tangan dengan tersenyum kepada suaminya.


Winter tersenyum tipis membalas lambaian tangan istrinya lalu kembali masuk ke dalam.


*


"Sudah berapa kali muntah?" tanya Magma.


"Baru tadi sore," sahut Yura.


"Mimisan?"


Yura menggeleng. "Tidak, hanya sedikit pusing dan muntah saja."


"Belum makan mungkin."


"Aku sudah makan banyak tau!"


Kalau sudah membahas penyakit, jarang sekali Magma dan Yura bertengkar. Magma juga jarang menggoda Yura agar marah.

__ADS_1


Magma berdecak, ia juga berharap ini bukan karena leukimia lagi.


Bersambung


__ADS_2