Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#145 Bertemu Anaya di mall


__ADS_3

Maxime dan anak-anaknya duduk membahas kampus yang cocok untuk Kai dan Noah sementara Milan duduk dengan menantu nya, Milan menggendong Alea sementara Reagan berada di pangkuan Yura.


"Mommy benar-benar tidak menyangka ada moment lucu di hidup Winter. Anak itu yang paling banyak diam, eh tau-tau ngidam yang aneh-aneh," ucap Milan dengan terkekeh pelan.


"Harus aku apakan ikan cup*ng itu Mom?" tanya Yura.


"Biarkan saja Yura. Dia akan marah kalau kau memindahkannya," sahut Intan. "Aku dulu suka sekali menaruh bunga mawar di kamar mandi dan kalau Summer memindahkannya, aku pasti langsung marah dan kesal selama beberapa hari kepada dia."


Yura menghembuskan nafas menggelengkan kepala menatap Winter yang tengah berbincang dengan Maxime dan yang lain.


*


Sepulangnya dari asrama Noah dan Kai. Hal pertama yang Winter lakukan ketika menginjakan kakinya di rumah ialah pergi ke kolam renang, memberi makan ikan cup*ng dengan cacing kecil.


Yura berdiri di dekat pintu menonton suaminya yang tengah asik sendiri memberi makan ikan. Lalu Yura mengelus perutnya sambil berkata.


"Kalau ini ngidam, diantara kalian siapa yang suka ikan cup*ng dan siapa yang mau jadi pembalap?" tanya Yura kepada perutnya.


"Kalau jadi pembalap asal laki-laki, boleh lah, Mommy izinkan. Tapi tolong jangan pelihara ikan cup*ng di kolam renang ya ..."


Yura kembali masuk dan membiarkan suaminya sibuk dengan ikan-ikan itu.


Sore harinya Winter mengajak Yura jalan-jalan. Mereka pergi ke mall untuk menonton, lagi-lagi film Nathan yang ingin Yura tonton.


"Kalau dia bukan sepupu ku aku tidak akan mengizinkanmu menonton nya," ucap Winter setelah membeli dua tiket.


Yura hanya tersenyum geli dengan kecemburuan suaminya lalu ia menggandeng lengan Winter untuk pergi makan karena jam menonton masih lama.


"Winter ..." Sapa Anaya.


Mata Anaya beralih menatap Yura. "Hai Yura ..."


Yura hanya memutar bola matanya jengah kemudian menarik tangan Winter. Anaya menatap kepergian mereka dengan menggelengkan kepala.


"Tidak ramah!" ucap Anaya lalu pergi membeli tiket untuk menonton.


"Aku dengar dia bilang aku tidak ramah tau!" kesal Yura saat makan bersama Winter.


"Benarkah?" tanya Winter dengan tangan sibuk memotong steak.


"Beneran ... memang iya aku tidak ramah?"


"Iya."

__ADS_1


"Ih Winter kau--"


"Tidak ramah kepada dia, tidak apa-apa. Biarkan saja Yura ..."


Yura hanya berdecak lalu mengambil garpuh dan pisau untuk memotong steak miliknya.


Setelah makan mereka melihat beberapa perlengkapan bayi. Tidak niat membelinya sekarang karena usia kandungan nya masih muda, tapi Yura hanya ingin memanjakan matanya saja.


"Ini lucu ya ..." Yura memegang stroller untuk bayi kembar berwarna biru.


"Nanti mungkin ada yang lebih lucu dari ini, Yura. Setiap bulan selalu ada produk baru."


Gadis itu berjalan menuju pakaian bayi. "Winter bajunya lucu-lucu ..."


"Itu untuk umur satu tahun, Yura ..."


"Iya nanti kita beli untuk umur satu tahun, Winter ..."


"Kalau umur anak kita satu tahun nanti akan ada pakaian yang lebih bagus di sini, jadi beli nanti saja kalau mereka sudah satu tahun."


"Kalau ini bagaimana?" Yura menunjuk tempat makan bayi.


"Bagus, tapi bayi umur enam bulan baru boleh makan Yura ..."


"Iya aku tau Winter astaga ... aku hanya bertanya bagus atau tidak huh."


Winter mengenggam tangan istrinya membawanya keluar dari toko peralatan bayi.


*


Mereka sudah duduk di kursi bioskop, tinggal menunggu film nya mulai. Kursi di samping kiri Winter terlihat kosong, Yura pikir memang tidak ada yang duduk di sana tapi ternyata Anaya datang dan duduk di samping Winter.


Yura menatap jengkel perempuan itu kemudian ia berdecak, Winter menatap istrinya ketika Yura terlihat sedang kesal kemudian Winter menatap ke samping dan Anaya tengah tersenyum kepada dirinya.


Buru-buru Winter menggenggam tangan istrinya agar Yura tidak marah. Dia tidak tahu kalau Anaya duduk di sampingnya.


Sepanjang film berlangsung Anaya sesekali menoleh ke arah Winter berusaha mengajak pria itu berbicara dengan menjelaskan alur film yang akan terjadi di detik selanjutnya. Karena ini bukan pertama kali Anaya nonton, dia nonton untuk yang kedua kalinya jadi dia tahu alur film tersebut.


Tapi Winter sendiri hanya diam, ia hanya menggenggam tangan istrinya dan membiarkan perempuan di sampingnya berbicara sesuka hatinya.


"Yura ..." bisik Winter.


"Hm ..." Yura menjawab dengan mata fokus menonton.

__ADS_1


"Ikan cup*ng ku sedang apa ya?"


Yura berdecak menatap Winter. "Sedang berenang lah ..."


Winter tertawa dan hal itu membuat Yura juga tertawa. Anaya menatap mereka dengan perasaan tidak suka.


"Kau ya, tidak mungkin ikan sedang menonton tv. Dasar!" Yura mencubit hidung suaminya.


"Siapa tau dia kabur dari kolam Yura ..."


Yura tertawa dan dia baru sadar ada perempuan yang panas hati melihat dirinya tertawa dengan Winter.


Alhasil Yura semakin mengajak Winter mengobrol saling berbisik lalu tertawa. Anaya terlihat duduk dengan ekor mata sesekali menatap mereka.


Ketika Winter kembali duduk tegak di kursinya, Yura menarik penghalang kursi di antara mereka lalu ia bergeser agar duduk lebih dekat dengan suaminya.


Yura menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Winter seraya memeluk pria itu. Winter mengecup puncak kepala Yura sambil merangkul istrinya.


Sepanjang menonton film mereka tetap dalam posisi seperti itu. Sesekali Yura menatap Anaya yang hanya diam dengan mata fokus ke film.


"Winter ..." panggil Yura.


"Hm?" Winter merunduk menatap istrinya.


"Kau sudah menyiapkan nama untuk si kembar?" tanya Yura sedikit lebih keras agar terdengar oleh Anaya.


"Belum. Kan belum tau jenis kelaminnya."


"Kau harus memikirkannya Winter. Mereka kan anak yang kau tunggu-tunggu ..."


"Pasti Yura. Aku akan memikirkan nama untuk mereka nanti," sahut Winter.


Yura bisa melihat Anaya menghela nafas sambil mengganti posisi duduknya beberapa kali.


"Panas, kenapa ya? padahal pas masuk tadi dingin," gumam Yura.


"Kau kepanasan?"


"Sedikit," sahut Yura.


"Tapi di sini cukup dingin Yura," ucap Winter.


"Yang panas di hati Winter, jadi berasa panas di seluruh tubuh," ucap Yura dengan mata menatap Anaya.

__ADS_1


Anaya pun menoleh berdecih tidak suka kepada Yura lalu memilih keluar dari bioskop sebelum filmnya selesai. Yura tersenyum penuh kemenangan melihat itu.


Bersambung


__ADS_2