Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#56


__ADS_3

"Winter ..." gumam Yura.


Winter langsung menjatuhkan kertas origami di tangannya.


"Yura ... kau sudah bangun."


Winter yang tadi duduk langsung berdiri dan sedikit membungkukan badan untuk mengecek suhu tubuh Yura. Tubuhnya mulai hangat berbeda dengan tadi yang dingin.


"Aku di Rumah Sakit?"


"Iya ..."


Yura berusaha untuk bangun, Winter membantunya. Gadis itu duduk dan menatap kertas origami berbentuk burung bangau berserakan di lantai.


"Kau membuat itu semua?" tanya nya.


Winter kembali duduk di kursi dengan memegang tangan Yura. "Iya, aku menunggumu bangun jadi aku membuat burung bangau untukmu ..."


Yura tersenyum. "Terimakasih ..."


Winter mengambil tali di meja dan mengikat beberapa burung bangau tersebut.


"Aku mau bantu," ucap Yura.


Winter memberikan tali dan mengambil beberapa burung bangau yang ada di bawah kakinya.


"Nanti kamar ini penuh burung dong," ucap Yura.


"Tidak apa-apa," sahut Winter dengan tersenyum.


Kemudian Winter menyimpan hasil gantungan burung bangau itu di meja sebelum menggantungkannya di langit-langit kamarnya.


Winter beralih duduk di sisi ranjang menghadap gadis itu.


"Bagaimana sekarang?" tanya nya lembut dengan mengelus kepala Yura.


"Aku baik-baik saja Winter," sahut Yura dengan tersenyum.

__ADS_1


"Kau tadi pingsan."


"Ya, aku tau," sahut Yura. "Siapa yang mendonorkan darah untukku?" tanya nya dengan menoleh menatap kantong darah di tihang infusan.


"Rumah Sakit ini yang mempunyai donor darah yang cocok untukmu," sahut Winter karena dia tidak tahu kalau Magma yang mendonorkan darah untuk Yura.


Yura mengangguk-ngangguk.


"Aku lapar," ucapnya dengan memajukan bibirnya membuat Winter gemas sampai mencubit hidung gadis itu.


Kemudian Winter mengambil makanan di meja yang sudah di siapkan perawat tadi.


"Suapi ya ..." pinta Yura dengan senyum mengembang di wajahnya.


Winter pun menyuapi gadis itu dengan sesekali menyeka ujung bibir Yura yang belepotan. Winter juga membantu gadis itu minum.


Setelah selesai, Yura kembali merebahkan dirinya di ranjang.


"Winter, tidak mau tidur?" tanya nya.


Winter menggeleng.


"Kau saja."


"Kau takut tidak cukup?"


"Aku takut membuatmu tidak bisa tidur," sahut Winter.


"Bisa kok. Coba saja kalau tidak percaya ..."


Winter menggulum senyum di wajahnya, berdiri dari duduknya, mengelus gemas kepala Yura lalu perlahan naik ke ranjang Rumah Sakit itu.


Yura menggeser memberi ruang untuk Winter. Kemudian pria itu memeluk istrinya, Yura pun melingkarkan tangan nya di pinggang suaminya itu.


Winter mengelus-ngelus punggung Yura membuat gadis itu merasa nyaman.


*

__ADS_1


Magma kembali ke apartemen. Ia duduk menyenderkan dirinya di sofa. Tadi Magma tidak sengaja melihat mobil Winter keluar dari gereja, mobilnya melaju begitu cepat, Magma yang curiga ada Yura di mobil itu mengikuti mobil Winter sampai ke Rumah Sakit Melati.


Dia mengikuti Winter diam-diam sampai mendengar kalau Yura butuh transfusi darah dan golongan darahnya B. Sama dengan dirinya, Magma segera mencari perawat untuk mendonorkan darahnya kepada Yura.


Perawat itu menelpon Dokter Jemi sampai akhirnya Dokter Jemi keluar menghampiri Dokter Leon dan Winter yang sedang berbicara di depan ruangan.


Pintu terbuka, Lail masuk dan duduk di depan Magma.


"Tuan, hasil tes DNA keluar dua sampai empat minggu ..."


Magma berdecak. "Lama sekali ..."


"Tuan, sambil menunggu hasil Tes DNA anda dan Tuan Benjamin, bagaimana kalau kita mencari pria yang bernama Benjamin yang lain. Jangan terlalu fokus dengan satu orang saja ..."


"Biarkan dia dulu saja, Lail!" sahut Magma.


Magma tahu pria yang tadi pagi ia pukul adalah Benjamin, Ayah dari Yura. Dengan segala kecerdasannya, ia bisa mencari tahu Ayah dari Yura.


"Bagaimana jika Benjamin benar-benar Ayahmu, Tuan? Dan Yura ..." Lail menggantung kalimatnya menatap Magma.


"Kenapa?" satu alis Magma terangkat naik. "Kalau dia Ayahku, maka Yura adikku. Itu bukan masalah, jangan berpikir terlalu jauh Lail. Aku sudah bilang, Yura bukan tipe ku. Aku hanya ingin menjaga gadis itu saja ..."


Lail mengangguk-ngangguk.


"Aku ke klab malam ini, carikan aku perempuan yang masih virgin. Aku akan membayarnya dengan harga tinggi ..."


Lail menggelengkan kepala, sampai kapan sikap suka main perempuan Tuan nya ini akan hilang. Tapi Lail hanya bisa mengangguk menurut saja tanpa membantah.


"Baik, Tuan ..."


Kemudian Lail keluar dari apartemen meninggalkan Magma seorang diri. Pria itu mengeluarkan rokok dari saku celana, menyalakannya dengan pemantik api lalu menghisap nya dan mengeluarkan asapnya ke udara.


Si tua itu baik-baik saja kan.


Tiba-tiba Magma khawatir dengan keadaan Benjamin yang tadi ia pukul. Ia memikirkan apakah pukulannya terlalu keras sampai membuat Benjamin pingsan seketika.


Rasa khawatir ini sedikit aneh, seakan memenuhi otak Magma memikirkan Benjamin, ia jadi merasa bersalah kepada pria tua itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2