Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#72 Gagal unboxing


__ADS_3

Dokter Jemi keluar dari ruangan dengan wajah lesu membuat mereka yang duduk sontak berdiri.


"Transfusi darah sekarang, darahnya B."


"Aku B," sahut Magma cepat.


"Masuk ..." Magma dan Dokter Jemi masuk ke ruangan.


Milan dan Maxime langsung menoleh ke arah Winter, termasuk dengan Summer.


"Transfusi darah?" satu alis Summer terangkat menunggu penjelasan dari Winter.


Tapi pria itu malah kembali duduk tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Winter ... Yura kenapa?" tanya Milan.


Winter menunduk seraya menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Ibunya.


Summer menghela nafas kasar dengan memijat keningnya.


"Bisakah kau bicara!" kesal Summer. "Jangan hanya diam saja!! Yura kenapa, kenapa butuh transfusi darah, apa dia mengidap penyakit serius? aku melihat banyak obat di kamarnya hari itu, obat apa itu Winter?!"


Winter mendongak. "Dia ..." Pria itu menggantung kalimatnya. Bimbang harus memberitahu mereka atau tidak.


"Kenapa Winter?" tanya Maxime memaksa.


"Leukimia ..."


"Apa?" Summer langsung menarik kerah baju Winter. "Kenapa kau tidak memberitahu kami ..."


"Summer lepaskan ini di Rumah Sakit!" Maxime menepis tangan Summer yang memegang kerah baju Winter.


"Winter bagaimana bisa kau merahasiakan penyakit Yura dari kami!" pekik Summer. "Tuan Benjamin dan Nyonya Bayuni tidak tau juga kan?"


Winter menggeleng membuat Summer frustasi sampai menggaruk kepalanya sendiri.


"Yura yang meminta penyakitnya di rahasiakan ..." ucap Winter kemudian dengan pandangan sayu menatap pintu ruangan yang masih belum terbuka.


"Kau salah karena mengikuti keinginan Yura, Winter!"


"Summer cukup!" hardik Milan.


Kemudian pintu ruangan terbuka. Mereka langsung menghampiri Dokter Jemi.


"Bagaimana?" tanya Winter dan Summer bersamaan.


"Masih belum sadarkan diri, tapi dia sedang transfusi darah sekarang. Tunggu sampai kantung darahnya habis, mungkin nanti akan sadar."


Maxime mengusap wajahnya gusar. Selain memikirkan Yura, ia juga memikirkan nasib anaknya. Kasihan sekali Winter karena istrinya harus sakit.

__ADS_1


"Boleh kami masuk?" tanya Milan.


"Boleh, silahkan ..."


Mereka semua pun masuk ke ruangan dimana ada Magma yang duduk di samping ranjang dengan menatap adiknya yang terbaring tak sadarkan diri.


Winter menghampiri istrinya, Maxime langsung menarik tangan Summer ketika pria itu hendak menghampiri Yura. Maxime menggelengkan kepala kepada Summer membuat pria itu berdecak kesal.


"Yura ..." Winter mengelus lembut kepala Yura dengan sedikit merunduk membuat wajah mereka sangat dekat.


"Tubuhnya lebih hangat sekarang," ucap Magma yang duduk di depan Winter. Winter hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Magma beranjak dari duduknya, ketika ia berbalik, Magma mendapati Maxime, Milan dan Summer berdiri di belakang dirinya.


"Kenapa kalian masuk?" tanya Magma dingin.


"Apa benar, Yura Leukimia?" tanya Summer pelan.


Magma menganggukan kepalanya membuat Summer menghela nafas berat.


"Beritahu Benjamin dan Bayuni," titah Maxime.


"Tidak bisa ..."


"Kenapa tidak bisa Magma, Yura ini anak mereka. Mereka harus tau!!"


Magma berjalan melewati mereka. "Biarkan mereka berdua!"


Summer pun di paksa keluar oleh Maxime dan membiarkan Winter berduaan dengan istrinya.


Winter menggenggam erat tangan Yura seraya menatap sendu istrinya yang masih belum sadarkan diri itu.


Lima belas menit kemudian, Yura membuka matanya perlahan, ia menoleh ke samping kanan, ada kantung darah di tihang infusan, kemudian matanya beralih menatap Winter yang terlihat menelungkupkan wajahnya di ranjang dengan memegang tangan kiri Yura.


Dia sepertinya sedang tidur. Kasihan sekali, aku biarkan saja ah.


Tangan kanan Yura perlahan terangkat mengelus kepala Winter dengan lembut.


Kau pasti kelelahan karena sering merawatku, Winter ... kasihan sekali, aku hanya menjadi beban di pernikahan kita.


Kemudian kepala Winter perlahan terangkat dengan setengah sadar ia menatap wajah Yura.


"Yura ..."


Yura tersenyum.


"Kau sudah bangun, bagaimana sekarang. Masih pusing?" tanya Winter setelah kesadarannya penuh seketika.


Yura menggelengkan kepala. "Tidak, aku baik-baik saja sekarang."

__ADS_1


"Syukurlah ..." Winter kembali mengelus kepala Yura.


Yura berusaha untuk bangun, Winter berdiri dan membantu gadis itu untuk duduk.


Tapi setelah duduk, Yura langsung memeluk suaminya, Winter pun duduk di dekat Yura. Winter mengelus punggung gadis itu dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Winter yang di jawab gelenggan kepala dari Yura.


"Tidak apa-apa, haya nyaman saja," sahut Yura dengan terkekeh pelan membuat senyum di wajah Winter terlukis seketika.


"Winter ..." Yura mendongak menatap suaminya.


"Hm?"


"Kalau aku bilang mau mandi, apa kau akan memandikanku lagi?" tanya Yura.


"Tentu saja," sahut Winter dengan terkekeh pelan.


"Huh, aneh sekali. Apa setiap kali kau memandikanku kau tidak tertarik dengan ..."


"Dengan apa?"


"T-tubuhku ..." sahut Yura terbata.


"Kenapa tanya itu?"


"Aku hanya ingin tau saja, kau seperti tidak berselera menyentuh ku karena aku penyakitan ..." Yura memajukan bibirnya kesal.


"Yura ... aku hanya tidak mau kau kelelahan."


"Benarkah itu alasannya? bukan karena kau punya penyakit kelamin yang membuatmu tidak berselera melihatku ..."


Winter segera menarik leher Yura dan menci*m gadis itu, bermain-main dengan bibir Yura hanya untuk membuktikan kalau dia tidak punya penyakit kelamin apapun.


Kemudian tangannya perlahan membuka kancing baju Yura tapi tiba-tiba.


"Astaga!" Julian langsung kembali membalikan badannya ketika melihat mereka berc*uman. Ia menepuk jidat nya sendiri karena merasa bodoh telah masuk ke ruangan itu.


Winter kembali membenarkan baju Yura. "Ada apa?" tanya nya kepada Julian.


"Tuan Summer mau menjenguk Nona Yura ..."


"Apa?" Yura terlihat terkejut. "S-summer ... dia tau aku di sini dan sakit?"


Winter terpaksa mengangguk membuat Yura menghela nafas sementara Julian membatin dalam hatinya.


Parah sekali, masa mau unboxing nona Yura di Rumah Sakit ...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2