
Satu minggu, dua minggu sampai satu bulan Yura masih belum sadarkan diri. Hal itu benar-benar menguncang pikiran Winter dan keluarganya.
Winter semakin kurus dan tidak terawat, rambutnya yang selalu rapih kini berantakan, ia terlihat lebih kurus bahkan otot-otot di tubuhnya perlahan hilang.
Wajahnya lesu dan tidak bersemangat. Pucat dengan lingkar hitam di bawah mata. Dalam satu bulan bisa di hitung berapa kali pria itu makan dalam porsi sangat sedikit.
Saat itu Noah dan Kai berhasil membujuk Winter makan, tapi mereka juga harus kembali ke sekolah. Milan juga sempat berhasil membujuk Winter makan.
Magma juga semakin gila dengan tiap hari bolak-balik ke klab hanya untuk minum alcohol dan bermain wanita, Benjamin dan Bayuni tidak bisa menghentikan pria itu, karena dia bisa mengamuk jika di larang pergi ke klab untuk melampiaskan kemarahannya atas adiknya yang belum kunjung sadar.
Dalam satu bulan ini hubungan Intan dan Summer juga semakin dekat. Dan Bella sahabat Yura juga sering menjenguk gadis itu beberapa kali.
Sekarang, Winter baru saja membersihkan tubuh Yura seorang diri di kamar.
Setelah selesai memakaikan baju untuk istrinya, ia merunduk mengelus kepala gadis itu.
"Apa kau tidak akan bangun, Yura ..." lirihnya dengan lemah. "Aku merindukanmu ..."
Kemudian pria itu perlahan naik ke ranjang, merebahkan dirinya di samping Yura, ia mengangkat kepalanya dengan lembut dan menaruhnya di lengannya.
Tangan yang lain menggenggam erat tangan istrinya. Sudah satu bulan ia tidak mendengar suara Yura, sudah satu bulan ia tidak mendengar Yura memanggilnya musim dingin sambil berlari menuruni anak tangga dari kamar.
Sepanjang malam tidak ada yang berubah, mereka selalu tidur berdua. Hanya saja ketika Winter membuka mata sehabis tidur, istrinya masih tertidur pulas enggan membuka mata sampai satu bulan lamanya.
"Sudah ada kapal pesiar yang menunggumu, ayo kita jalan-jalan Yura ..."
Ketika Winter hendak memejamkan mata tiba-tiba suara nyaring dari monitor berbunyi diikuti garis lurus di layar. Winter melebarkan matanya mendengar itu.
__ADS_1
Ia segera beranjak dari ranjang, membuka pintu dan berteriak memanggil Dokter.
"DOKTER LEON ... DOKTER JEMI ..."
Nafasnya menggebu-gebu dengan jantung yang memburu cepat, ia menoleh ke belakang dan istrinya terlihat lebih pucat.
Dua Dokter itu berlari diikuti perawat di belakangnya kemudian masuk ke kamar mengecek keadaan Yura.
"Yura ..." lirih Winter dengan menekan kepalanya frustasi melihat istrinya di pakaikan berbagai macam alat medis.
"Tolong selamatkan dia ... dia istriku ..."
"Sabar Tuan ..." Perawat menghalangi Winter yang hendak menghampiri dua dokter itu.
"Yura ..." panggil Winter dengan gemetar lalu kakinya yang sangat lemas tiba-tiba jatuh bersimpuh di lantai dengan tangis pecah melihat Dokter sedang berusaha mengembalikan detak jantung Yura menggunakan alat pacu jantung.
"YURA!!" teriak Magma yang baru saja datang.
"Minggir!!" Dia menarik satu persatu perawat dan Dokter yang menghalanginya kemudian ia memeluk adiknya seraya menangis.
"Bangun anak nakal!! belum satu tahun aku punya keluarga utuh, kau sudah pergi seperti ini!! kau benar-benar mengajakku bermusuhan ..."
Winter perlahan berusaha bangun dari duduknya, berjalan tertatih ke arah ranjang.
"Tuliskan jam kematiannya," ucap Dokter Leon kepada salah satu perawat.
"Baik, Dok."
__ADS_1
Melihat Winter, Magma memberikan Yura di pelukannya kepada pria itu. Winter memeluknya erat seakan tidak percaya jika ini hari terakhir dirinya memeluk istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya membuat para Dokter dan perawat merasa kasihan dengan Winter sampai tidak berani menatap pria itu, mereka hanya menunduk, ikut sedih mendengar tangisan pria itu.
"Bangun Yura ... bukankah kita akan punya anak, aku tidak mau sendiri. Bagaimana hari-hariku selanjutnya tanpamu ... bagaimana kakiku bisa berjalan sendirian tanpamu Yura ... aku selalu menyuruhmu sembuh dan kau selalu menjawab 'iya' tapi kenapa kau ingkar janji dan meninggalkanku ..."
Terdengar suara derap langkah seseorang dari luar. Magma segera keluar dari kamar menghalangi siapapun yang hendak masuk ke kamar karena ia ingin membiarkan Winter puas memeluk istrinya untuk terakhir kali.
Benjamin, Bayuni, Maxime, Milan, Summer, Intan dan Bella tidak bisa masuk ke kamar karena Magma menghalangi mereka.
Bayuni meraung-raung menangis meminta agar ia bisa masuk ke kamar tapi Magma tidak berkutik selain berdiri di depan pintu.
"Yura ... hiks ..."
"Yura ... Ini Mommy hiks ..."
"Magma minggirlah!!"teriak Benjamin.
Maxime hanya menatap dari luar jendela bagaimana hancurnya Winter memeluk istrinya yang tidak bernyawa seraya menangis keras.
Intan dan Bella saling berpelukan melihat itu, mereka juga menangis. Milan terduduk di kursi menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya menunduk, ia menangis tanpa suara.
Jika dia menerima karma dariku dan Ayahku. Maka ini tidak adil. Dia baik dan tidak salah apa-apa ... batin Maxime.
Javier dan Maxime yang banyak membunuh orang selalu berakhir dengan bahagia. Tapi melihat putranya begitu menderita ia berpikir ini karma dari kesalahannya di masa lalu.
Hal ini yang selalu Maxime takutkan, hal ini yang membuat Maxime menghentikan Yakuza begitu saja.
Bersambung
__ADS_1