
Yura berjalan di trotoar jalan dengan lesu dan tak bersemangat. Dari semalam ia memikirkan dirinya yang tertawa keras di depan Winter saat di pasar Malam. Ia memikirkan apa Winter akan ilfeel dengan sikapnya dan menganggap dirinya memalukan.
"Yura, Yura ... kau bodoh sekali sih, kenapa harus membayangkan yang aneh-aneh, ih." Yura terus mengetuk-ngetuk kepalanya yang menurutnya sangat bodoh itu.
Kemudian ia mendongak menatap langit dengan memanyunkan bibirnya.
"Huaaa ... aku memalukan, aku membuat Winter malu semalam."
BRUKH.
"A-auuww."
Yura terjatuh di trotoar dengan telungkup, membuat keningnya terbentur aspal. Yura memekik kesakitan.
Sebuah mobil berhenti di samping Yura. Yura menoleh dan membulatkan mata ketika tahu itu mobil Winter. Dengan cepat ia berusaha untuk bangun dan berdiri. Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang terlihat kotor.
"Yura."
Winter langsung memeriksa keadaan Yura. Keningnya terluka, tangannya terkena goresan aspal.
Apa dia juga melihatku jatuh telungkup tadi ya. Aaaaa memalukan lagi ...
Winter mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah cafe kecil dan kemudian mengajak Yura untuk duduk di cafe itu seraya mengobati luka Yura.
*
Yura duduk menunduk dengan mengusap-ngusap tangannya yang tergores aspal. Winter sedang mengambil p3k di mobil.
Kemudian Winter datang dan menarik kursi membawanya duduk di hadapan gadis itu. Mereka duduk berdekatan sampai lutut mereka saling beradu dan menempel, aroma parfum mint dan aroma parfum mawar saling tercium di indra penciuman mereka masing-masing.
Yura masih menunduk dengan menekuk wajahnya. Bukan karena sakit, tapi lagi-lagi karena malu, sikapnya terlalu ceroboh dan Winter malah melihat kecerobohan dirinya.
Winter mengambil kapas dan obat antiseptik dari kotak p3k tersebut. Kemudian mengambil tangan kanan Yura.
"Tahan ya." Winter menempelkan kapas yang sudah ditetesi antiseptik itu ke telapak tangan Yura dengan sesekali pria itu meniup tangan Yura.
Yura memekik kesakitan dan hampir menarik tangannya yang sedang diobati, tapi Winter menahannya.
"Sebentar," ucap Winter.
Kemudian terdengar rintihan tangis dari gadis itu. Winter mendongak dan mendapati Yura sedang mengusap air matanya dengan tangan kirinya yang tidak terluka.
"Kenapa?"
Yura menggeleng.
"Ini harus diobati. Kalau tidak, infeksi," ucap Winter.
"B-bukan itu ..." sahut Yura dengan menangis.
"Lalu?"
"Kau melihatku jatuh kan hiks ... Aku malu."
Winter menghela nafas. "Tidak, aku tidak melihatmu jatuh telungkup."
"Huaaaa katanya tidak lihat, kenapa tau aku jatuh telungkup."
Winter diam membisu, ia salah menjawab.
"Sudah, Yura ..." Winter meraup pipi gadis itu dengan kedua tangan nya, kedua ibu jari Winter mengusap lembut air mata Yura.
Yura masih enggan menatap bola mata suaminya. Ia hanya menunduk dengan hidung merah karena menangis.
Winter mendekatkan wajahnya, Yura yang sadar langsung menutup matanya. Sedetik, dua detik, tidak ada sesuatu yang menempel di bibirnya dan ketika ia membuka mata, ternyata Winter sedang memeriksa luka di kening Yura bukan hendak menc*um gadis itu.
__ADS_1
Yura menghela nafas panjang, ini hal memalukan yang ketiga kalinya untuk gadis itu karena berpikir Winter akan menc*umnya.
"Tahan ya." Winter mengambil kapas dan mengusapnya perlahan di kening Yura.
Setelah selesai Winter kembali membereskan kotak P3k nya.
"Kau mau kemana? Kau mengikutiku ya?" tanya Yura dengan plester di kening dan tangan nya.
"Mau pulang."
"Kenapa pulang? baru juga berangkat ke kantor."
"Berkas ketinggalan."
"Sekretaris perempuanmu kemana?" tanya Yura dengan nada tidak suka.
"Sibuk."
"Oh."
"Mau kemana?" Winter balik bertanya.
"Mau bertemu dengan Bella di cafe Anggrek."
"Aku antar."
Yura mengangguk. Kemudian keduanya pergi dari cafe itu menuju cafe Anggrek.
*
Sesampainya di cafe Anggrek, Yura melepas seatbealt nya dan hendak turun dari mobil.
"Yura."
"Ya?"
"Hati-hati," ucap Winter yang meminta Yura lebih hati-hati agar tidak terjatuh lagi.
"O-oh, iya." Yura tersenyum tipis. Kemudian keluar dari mobil.
Yura masuk ke cafe Anggrek setelah melihat mobil Winter melaju pergi. Ia mengedarkan pandangannya mencari Bella, ada beberapa pengunjung yang sedang makan di cafe anggrek.
"Itu dia," gumam Yura melihat seorang gadis yang terus menatap arloji di pergelangan tangannya.
"HEI." Yura menggeplak meja membuat Bella terhentak kaget. Tapi kemudian Yura memekik kesakitan dengan mengibas-ngibaskan tangannya dan meniupnya.
Bella menautkan kedua alisnya. "Yura kau kenapa?"
"Astaga ... Yura."
Bella baru sadar kalau ada plester di kening sahabatnya itu. Bella langsung berdiri memeriksa wajah Yura.
"Kau kenapa Yura?"
"Aku jatuh tau," sahut Yura mengerucutkan bibirnya.
"Jatuh dimana? duduk dulu ... duduk dulu." Bella menarik kursi dan menyuruh Yura duduk.
Setelah gadis itu duduk, Bella pun kembali duduk di depan Yura.
"Kau jatuh dimana Yura?"
"Di jalan mau kesini tadi, aku jatuh telungkup."
"Ada yang membantumu tidak?"
__ADS_1
"Ada."
"Siapa?"
"Winter."
"W-Winter, suamimu?"
Yura mengangguk.
"Astaga Yura si ceroboh." Bella menggelengkan kepalanya.
"Pasti dia puas melihatmu jatuh Yura," lanjut Bella.
"Ih tidak seperti itu tau, dia mengobati lukaku ini."
"Dia kan tidak mencintaimu Yura."
"Tidak mencintai bukan berarti tidak punya perasaan sampai harus merasa puas melihatku jatuh."
"Kau membelanya, padahal dari awal kau tidak setuju dengan perjodohan ini. Jangan bilang kalau kau ..." Bella menggantung kalimatnya, menatap Yura dengan mata menyipit.
"Itu yang mau aku bicarakan denganmu Bella!" potong Yura. "Aku ini merasa ada yang berbeda dengan diriku sendiri."
"Sepertinya ..." Yura menggantung kalimatnya. "Sepertinya aku lebih dulu menyukainya," lanjut Yura.
"Yura ..." Bella ternganga sampai menutup mulutnya sendiri.
"Bagaimana ini ... Aaaa apa yang harus aku lakukan, masa aku selalu ingin dekat dengan dia terus. Aneh kan?"
Bella berdecak kemudian menggaruk kepalanya seraya mendengus kasar.
"Yura ... Yura ..., resiko dari mencintai seseorang lebih dulu itu kau harus siap patah hati Yura."
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah bercerita kalau dia pria dingin dan irit bicara kan. Seharusnya dia yang mencintaimu."
"Loh, tapi kan kau sendiri yang bilang kalau aku harus belajar mencintai dia," pekik Yura.
"Aku lupa bilang Yura, harusnya dia dulu yang mencintaimu baru kalau belajar mencintai dia. Begitu."
Yura menghembuskan nafas. "Ya mau bagaimana lagi, perasaanku lebih cepat berkembang dari pada dia."
"Terus bagaimana?" tanya Bella.
"Bagaimana apa?"
"Ya bagaimana rencanamu sekarang."
"Aku tidak tau, Bella. Biarkan waktu yang menjawab saja hehe."
"Yura ... Yura. Aku tidak tau harus mengatakan apa sekarang."
"Sudahlah, aku punya kejutan untukmu," ucap Yura dengan senyum mengembang.
"Apa?"
Yura mengambil sesuatu di dalam tas nya. Baju dengan tanda tangan Nathan ia berikan untuk sahabatnya itu.
"Yura ..." Teriak Bella dengan senyum merekah di bibirnya. "Aaaa Yura ... terimakasih ..."
Bella beranjak dari duduknya kemudian memeluk sahabatnya itu.
Bersambung
__ADS_1