
Winter sudah terbiasa merawat bayi, karena sedari kecil dia sudah merawat Reagan. Bahkan dari Reagan yang baru berusia satu hari, anak itu sudah tinggal di mansion Winter.
Tangis bayi sudah terbiasa di telinga Winter. Dia tidak kaget dengan suara tangisan bayi-bayi miliknya sekarang.
Justru, malah Yura yang kalang kabut ketika Tania dan Talia menangis.
"Tenanglah, Yura ..." ucap Winter yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Yura menggendong Tania yang tak henti menangis.
Talia yang ada di atas ranjang juga ikut menangis histeris.
"Dia kenapa ya, aku mau menyusui Tania tapi Tania tidak mau."
Winter mengambil Talia dan menggendongnya. Ia mencoba menimang-nimang bayi kecilnya itu sampai akhirnya tangisnya perlahan memudar.
"Kenapa dia berhenti menangis?" tanya Yura heran.
"Cobalah untuk tenang, Yura. Jangan mudah panikan, mereka akan nyaman di gendonganmu kalau kalau juga tenang."
__ADS_1
Dari awal kelahiran Yura, gadis itu memikirkan banyak hal. Dia tidak pernah tenang, setiap detik seakan panik memikirkan kedua bayinya.
Di mulai Yura memikirkan bagaimana kalau ASI nya tidak keluar, bagaimana kalau tengah malam bayinya menangis dan tidak terdengar oleh dirinya dan Winter, bagaimana cara ia mengatasi bayi nya kalau nanti sakit, banyak hal yang di khawatirkan Yura yang menjadi Ibu untuk pertama kalinya.
Yura menghela nafas, menatap Tania di gendongannya yang masih menangis. Yura berusaha tenang seperti yang di lakukan suaminya yang menggendong Talia sampai putrinya itu terlihat tidur di gendongan Winter.
"Tidak mudah jadi seorang ibu," gumam Yura.
Yura yang dari kecil sangat di manja oleh Benjamin dan Bayuni merasa menjadi sosok seorang Ibu itu sangat berat. Dia memang suka anak kecil, tapi anak kecil seperti Reagan yang sudah bisa di ajak berbicara dan berjalan.
Sekarang saja, Yura menggendong Tania dengan menangis. Sesekali ia menyeka air matanya.
"Yura ..." Winter memegang pundak istrinya.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa jadi Ibu yang baik, Winter?" tanya nya. "Aku tidak bisa menenangkan mereka ketika mereka menangis, aku tidak tahu apa yang mereka inginkan."
Tidak mengetahui keinginan kedua putrinya saat mereka kini masih bayi adalah hal wajar, mungkin semua orang tua di buat bingung ketika pertama kali merawat bayi mereka tapi Yura entah kenapa, hatinya begitu sensitif setelah melahirkan.
__ADS_1
Dia begitu emosional, perasaannya mudah berubah-ubah.
Winter tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Saat merawat Reagan dia pernah membaca soal baby blues di internet.
"Kau tidak merawat mereka sendirian, Yura ..." Winter mengelus pundak istrinya dengan Talia di gendongannya.
"Aku di sini. Kita belajar sama-sama merawat mereka ya ..." lanjut Winter.
Yura perlahan duduk di ranjang sambil masih menangis. "Tapi kau mungkin lebih hebat dariku karena pernah merawat Reagan ..."
"Reagan anak laki-laki, anakku sekarang perempuan Yura. Banyak hal baru yang perlu aku pelajari lagi, mendidik anak perempuan dan laki-laki itu berbeda, bukan. Jadi aku juga masih baru menjadi orang tua, sama sepertimu ..."
Winter mengelus-ngelus kepala istrinya sambil menatap Tania di gendongan Yura.
"Mereka cantik. Sama sepertimu," ucap Winter yang akhirnya membuat senyum Yura mereka seketika dengan air mata yang menggenang di matanya.
Bersambung
__ADS_1