Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#152 Anaya bertemu Maxime


__ADS_3

"Kau ..." Maxime menggantung kalimatnya, terkejut ketika ia membuka pintu dan mendapati Magma berdiri di teras depan.


"Ikut aku," ucap Magma.


"Kemana?"


"Ikut saja. Ada yang mau mencelakai si curut."


"Si curut apa?" tanya Maxime bingung.


"Cucu mu!" kata Magma lalu melengos hendak masuk ke mobil.


"Maksudmu apa, Magma!" Maxime setengah berteriak menyusul Magma.


Magma menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Inilah yang terjadi kalau kau berhenti jadi mafia. Banyak orang yang ingin mencelakai keturunanmu!! seharusnya si Winter itu jadi mafia juga, agar lebih hati-hati. Bukan santai dan diam saja!!" kesal Magma.


Maxime menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Magma.


"Ikut saja kalau kau ingin tau siapa yang mau mencelakai cucu mu!!"


Magma masuk ke mobilnya dengan menghela nafas akhirnya Maxime pun ikut masuk ke mobil Magma.


Mereka dulu pernah bermusuhan sampai hampir berusaha saling membunuh, tapi untuk keselamatan si kembar di perut Yura akhirnya mereka bisa duduk satu mobil.


*

__ADS_1


Anaya jatuh pingsan tak lama setelah keningnya terbentur setir.


Perlahan Anaya membuka mata, ia mendesis dengan memegang keningnya yang terasa perih. Tapi ia merasa ada plester di keningnya.


Kemudian ia mengedarkan pandangannya, entah ada di ruangan apa dirinya, yang jelas tidak mirip Rumah Sakit.


Ruangan kecil itu hanya di terangi lampu kecil. Perlahan ia berusaha untuk bangun.


"Dimana aku ..." lirihnya dengan mata berkeliling menatap setiap sudut ruangan yang kosong.


Anaya perlahan menurunkan kakinya dari ranjang, ketika ia hendak berdiri tiba-tiba pintu terbuka dengan keras.


Anaya menoleh dengan terhentak kaget. Ia semakin di buat kaget ketika melihat wajah Maxime lalu ia menoleh ke arah Magma. Dia ingat pernah bertemu dengan Magma di mall.


"Siapa dia?" tanya Maxime menoleh ke arah Magma.


"Obat?" Maxime menatap Anaya dengan tatapan mengintimidasi.


Anaya menggeleng dengan takut. "T-tidak, aku tidak memasukan apapun!"


Dengan kesal Maxime menghampiri Anaya. Anaya sontak mundur untuk menjauh tapi Maxime langsung mencekik leher Anaya.


"Apa yang kau lakukan terhadap cucuku!" geram Maxime di sela-sela giginya yang menggertak marah.


Anaya yang berpikir Maxime tidak akan kasar dengan perempuan ternyata salah besar, pria tua itu terlihat sangat marah sekarang.

__ADS_1


"Sampai kau berani melukai cucuku, aku akan mengambil jantung di tubuhmu!!" Maxime mendorong Anaya membuat perempuan itu terbentur dinding lalu terbatuk sambil menepuk-nepuk dada nya.


Magma yang melihat itu menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Aku ingin memberitahu Winter. Tapi iman dia terlalu kuat."


Maksud Magma, Winter yang sering beribadah dan membersihkan gereja pasti tidak akan mau jika di ajak melukai Anaya. Pria itu masih takut akan Tuhan.


Maxime duduk di ranjang, mengambil rokok di saku dan menyalakannya dengan pemantik api. Ekor matanya menatap Anaya yang hanya menempel di dinding dengan wajah ketakutan.


Maxime menghisap rokoknya lalu membiarkan asap rokoknya membumbung di udara. Kemudian ia berkata.


"Beruntung kau perempuan. Aku memberimu kesempatan satu kali, jangan sampai membangunkan ku untuk melukaimu!"


"Apa maksudmu, memberikan kesempatan!" hardik Magma kepada Maxime.


"Sudahlah, dia perempuan!" sahut Maxime.


"T-tuan ..." ucapan Anaya terpotong dengan Magma.


"Aku sudah memberikan kesempatan untuk dia!" potong Magma. "Tapi dia hampir meracuni Yura!"


Maxime kembali menoleh ke arah Anaya dengan tatapan tajam nya. "Sekarang, nanti atau tidak sama sekali. Itu pilihan untuk nyawamu!!"


"T-tuan ... aku tidak akan menganggu mereka lagi, aku janji. Jangan bunuh aku Tuan, aku minta maaf ... Ayahku sendirian kalau aku tidak ada. Ayahku tidak punya siapa-siapa lagi ..."

__ADS_1


Magma menghela nafas dengan memercak pinggang. Ia sudah siap untuk menyaksikan kematian Anaya tapi malah seperti ini akhirnya.


Bersambung


__ADS_2