Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#81 Makam Nicholas


__ADS_3

Lima tahun kehilangan Nicholas, Keenan and the geng selalu berkunjung ke makam Nicholas. Mereka lebih sering datang di banding Javier dan yang lain, itu karena mereka yang paling dekat dengan Nicholas.


Mereka yang sudah tua tidak pernah lupa untuk membawakan bunga ke makam pria itu. Seperti sekarang, Keenan and the geng masing-masing membawa buket bunga di tangan nya.


Mereka berkumpul, mengelilingi makam Nicholas. Keenan menyimpan buket bunga nya di atas gumpalan tanah sahabatnya itu, diikuti yang lain.


Jonathan menyimpan buket bunga dengan sebotol alcohol.


"Siapa tau kau mau mabuk bersama malaikat di dalam sana."


Perkataan Jonathan mendapat delikan tajam dari yang lain.


"Aku bahkan tidak melihatmu membawa minuman itu, Jon," kata Athes.


"Iya. Aku sembunyikan di sini." Jonathan memperlihatkan saku di dalam jaketnya membuat yang lain menghela nafas dan menggelengkan kepala.


Kemudian mereka semua berjongkok mengelilingi kuburan Nicholas membenarkan bunga-bunga di atasnya sekaligus mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh.


"Kita berteman dari usia dua puluhan, tapi ternyata kau yang pulang lebih dulu ..." ucap Samuel.


"Kau sedang apa di dalam? tidak bertengkar dengan malaikat kan?" tanya Aiden.


"Menyerah saja kalau bertengkar, di dalam sana kau tidak punya pistol Nicholas," sambung Sergio dengan tertawa hanya untuk mengobati rasa rindu terhadap temannya.


"Kau mau di bawakan apa besok-besok, jangan yang susah-susah, makin tua aku makin sulit berjalan," timpal Philip.


"Tidak bisakah kau datang ke mimpi kami dan kasih tau kisi-kisi di dalam kuburan. Aku takut di tanya aneh-aneh oleh malaikat nanti," ucap Keenan.


Mereka kembali diam, hanya memainkan tanah kuburan teman nya dengan perasaan hampa. Semakin tua mereka merasa hidup semakin hampa, mereka sudah tidak tinggal di mansion Javier, mereka kembali ke keluarga masing-masing berkumpul dengan keluarga mereka. Sesekali mereka bertemu seperti ini.


"Aku lebih suka masa muda ku. Banyak perasaan yang aku rasakan setiap hari nya. Senang, sedih, takut, marah. Apalagi ketika kita menyerang mudork, aku jadi ingat membawa cemilan ketika penyerangan itu terjadi." Sergio tersenyum getir mengingatnya.

__ADS_1


"Sekarang hanya diam saja di rumah. Makan tidur, makan tidur, begitu saja terus ..." sambung Jonathan.


"Sesekali pinggangku sudah terasa encok," sambung Philip.


"Beruntung sekali aku mengenal keluarga De Willson. Banyak hal menyenangkan dan menakutkan terjadi bergabung dengan keluarga itu," kata Aiden dengan tersenyum seraya terus memainkan tanah kuburan Nicholas.


"Anak-anak juga sudah pindah rumah karena menikah, datang ke rumah sesekali saja. Masa tua tidak enak sekali," ucap Athes.


*


Mereka kembali pulang setelah melihat langit yang gelap pertanda hujan akan turun sebentar lagi.


Mereka berjalan menuju parkiran tapi ternyata belum sampai mobil, hujan sudah turun begitu saja membasahi tanah dan tubuh mereka.


Mereka berlari kecil menuju mobil sampai akhirnya mereka melihat seorang perempuan berlari ke arah mereka dengan memegang banyak payung di tangan nya.


"Ini kek, pakai payung nya. Kakek sudah tua kok main ujan-ujanan sih," kata perempuan tersebut seraya terus membagikan payung ke mereka.


Mereka pun membuka payung pemberian perempuan itu.


Perempuan itu mengangguk dan mengikuti Keenan and the geng sampai ke mobil. Ia membantu Keenan dan yang lainnya satu persatu seraya mengambil kembali payung miliknya.


Keenan memberikan beberapa lembar uang untuk perempuan itu.


"Tidak kek, terimakasih." Ia mendorong lengan Keenan kembali masuk ke mobil.


"Tidak apa-apa, ambil saja."


"Saya ikhlas Kek."


"Saya juga ikhlas," sahut Keenan tak mau kalah lalu kembali memberikan uang tersebut.

__ADS_1


Dengan terpaksa perempuan tersebut mengambil uangnya.


"Terimakasih ya, Kek ... lain kali hati-hati, sekarang sudah mau masuk musim hujan."


"Ah kami tidak takut musim hujan karena kami kenal dua musim yang lainnya," sahut Jonathan.


"Dua musim yang lainnya?" perempuan itu menautkan kedua alisnya.


"Kau hanya kenal musim hujan. Kami sudah kenal musim panas dan musim dingin tau. Bahkan dulu kami yang merawat mereka waktu mereka kecil." sahut Jonathan kembali.


Perempuan itu mengernyit tidak mengerti. Menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, ia bingung dengan ucapan pria tua di dalam mobil itu.


Mungkin karena sudah tua jadi bicaranya melantur kali ya ...


"Hehe yasudah, Kek, Hati-hati ..."


Mereka yang di dalam mobil mengangguk. "Kalau begitu kami pulang dulu. Oh iya namamu siapa?"


"Saya Intan Kek."


*


Intan menghampiri Ayahnya yang berada di toko bunga dekat pemakaman. Biasanya orang-orang datang untuk membeli bunga sebelum mendatangi keluarga mereka yang meninggal.


"Intan, kau ini mau sampai kapan melajang. Kau semakin hari semakin tua, Intan. Bagaimana kalau tidak ada orang yang ingin menikahimu ..." ucap sang Ayah tepat ketika Intan duduk di depannya.


"Husshh ... Ayah sembarangan saja kalau bicara. Tenang lah Ayah, jodoh tidak akan kehabisan juga."


Sang Ibu datang membawa segelas coffe dan menaruhnya di meja.


"Ya memang tidak akan kehabisan. Tapi takutnya umur kita yang habis sebelum menikah, kau tidak mau merasakan dunia pernikahan itu seperti apa, Intan." Kata sang Ibu duduk bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Intan tidak menjawab perkataan Ibunya. Ia malah merangkai beberapa tangkai bunga membuat kedua orang tuanya hanya bisa menghembuskan nafas.


*B**ersambung*


__ADS_2