Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#148 marah kepada Winter


__ADS_3

Setelah makan Yura benar-benar heran dengan sikap Winter. Pria itu terus menempel kepada dirinya, bahkan ketika Yura melanjutkan mencuci piring Winter memeluk istrinya dari belakang dan terus mengikuti pergerakan Yura.


Ketika Yura berjalan ke kulkas, Winter juga terus menempel di belakang tubuhnya. Winter tidak bicara apapun, ia hanya ingin memeluk istrinya saja membuat Yura kebingungan.


"Ikan cup*ngmu belum di beri makan, Winter ..." ucap Yura sambil menuangkan air ke gelas.


"Tolong beri makan Yura ..."


"Ah, aku jijik harus memasukan cacing-cacing itu ke toples, mana toplesnya banyak lagih!"


Ikan cup*ng di kolam sudah di pindahkan ke toples kecil oleh Winter. Mungkin ada lima puluh toples, satu ikan satu toples.


Sisa nya banyak ikan yang mati di kolam. Mungkin karena bertengkar.


"Yasudah, temani aku saja ..."


Yura meneguk airnya setengah lalu kembali menyimpan gelasnya di meja.


"Karena aku sedang baik, aku akan menemanimu. Ayo ..."


Winter tersenyum. Mereka berjalan menuju ruangan tempat penyimpanan toples ikan dengan Winter yang merangkul istrinya.


Yura memegang wadah berisi cacing kecil dengan bergidik jijik sementara Winter yang memasukan cacing-cacing itu ke toples kecil untuk makanan ikan-ikan nya.


"Cepatlah Winter!" pekik Yura sambil memalingkan wajahnya.


"Yura ... ada banyak yang jual ikan seperti ini di pinggir jalan, tapi tidak sebagus punyaku. Iya kan?" tanya Winter.


"Iya, benar ..." sahut Yura cepat agar Winter cepat selesai memasukan cacing-cacing tersebut.


"Punyaku ekornya mirip gaun wanita. Iya kan?"


"Iya astaga ... punyamu bagus sekali, punya yang lain jelek! sekarang, cepatlah masukan cacingnya!!"


"Sabar Yura ..."


Yura mendengus. "Menyesal aku megajaknya memberi makan ikan!" gerutu Yura yang tadinya mengajak Winter memberi makan ikan karena dia sedikit risih dengan Winter yang tidak berhenti memeluknya.


*


Setelah memberi makan Ikan. Yura mencuci tangan di wastafel sementara Winter pergi ke kamar mandi.


Ponsel Winter bergetar di meja dapur, Yura menoleh. Mengeringkan tangan nya lalu mengambil ponsel suaminya.


"Siapa ini ... tidak ada namanya," gumam Yura.


Yura hanya menatap ponsel suaminya sampai panggilan itu berakhir. Ketika hendak menyimpan kembali ponselnya, tiba-tiba ada pesan masuk.


Yura membaca pesan itu dari layar ponsel.


Winter, aku tidak bermaksud menganggumu. Aku hanya ingin memberimu makanan saja. Maaf kalau kau tidak suka. Setidaknya aku mau mengucapkan terimakasih juga karena kau mau mencoba masakanku.


"Loh, siapa ini?" Yura mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Ketika Winter membuka pintu kamar mandi ia terkejut dengan Yura yang sudah berdiri di depan kamar mandi dengan wajah datar.


"Yura ..."


"Ini siapa?" tanya Yura seraya memperlihatkan isi pesan dari Anaya.


"Yura itu--"


"Siapa Winter?" tanya Yura dengan sedikit kesal.


Winter menghembuskan nafas. "Anaya ..."


"Apa?!"


"Yura aku tidak tau kalau dia mengirim makanan kepadaku, aku pikir itu makanan darimu!!"


"Bagaimana bisa kau tidak tau? kau tidak tanya dulu kepada pengirimnya!!"


Yura memberikan ponsel Winter dengan kesal lalu keluar dari kamar.


Winter menyusul istrinya sampai akhirnya ada Magma yang entah dari kapan sudah duduk di sofa memperhatikan raut wajah adiknya yang terlihat marah dengan Winter yang terus membuntutinya dari belakang.


Langkah mereka terhenti ketika melihat Magma.


"Kak Magma ..."


Magma beranjak dari duduknya menghampiri Yura. "Kau kenapa?" tanya nya dengan mata mengintimidasi menatap Winter. Lalu kembali menatap adiknya.


"Aku baik-baik saja ..." sahut Yura.


Magma sebenarnya datang ke sini untuk menjauh dari Laura. Tapi ia malah mendapati Yura dan Winter yang terlihat sedang bertengkar.


"Hanya berkunjung," sahut Magma.


Magma sedikit heran jika melihat Yura dan Winter bertengkar seperti ini. Padahal keduanya sama-sama saling mencintai.


"Aku pergi saja."


Magma berbalik pergi, ketika ia berjalan keluar dari mansion. Magma tidak sengaja mendengar Yura menyebut nama Anaya.


Dalam benaknya, ia bertanya-tanya siapa Anaya dan apa hubungannya dengan Yura.


*


Winter terus meminta maaf dan membujuk Yura agar tidak marah lagi dengannya. Tapi gadis itu masih enggan berbicara dengan Winter.


Yura hanya duduk di tepi kolam dengan makan buah kesukaannya, semangka.


"Yura mau sampai kapan kau mendiamkanku seperti ini ..."


"Yura ..."


Yura menoleh dengan mata tajamnya. "Sampai makanan dari Anaya di perutmu itu keluar!"

__ADS_1


"Aku sudah bilang, aku sudah mengeluarkannya, Yura. Aku langsung muntah tadi, kenapa kau tidak percaya."


"Siapa yang bisa percaya setelah kau makan makanan dari Anaya dan tidak bilang kepadaku."


"Kalau aku bilang lebih dulu, kau tidak akan marah?" tanya Winter.


"Marah lah!!"


Winter menghela nafas kalau begitu sama saja.


"Ini kan tidak sengaja Yura ..." Winter mengelus paha istrinya yang langsung di tepis oleh Yura.


Mereka mendengar suara bel berbunyi. Yura beranjak lebih dulu untuk membuka pintu dan sekalian menjauh dari Winter tapi dia malah mendapati Anaya berada di teras depan.


"Hai Yura ..."


"Kau ..." Yura mengepalkan tangan nya. "Untuk apa kau ke sini?"


"Yura aku hanya mau meminta maaf kepada Winter dan kepadamu. Mungkin karena makanan tadi pagi membuat kalian bertengkar ..."


"Kau sudah pasti tau kalau makanan darimu akan membuat kami bertengkar. Seharusnya dari awal kau tidak perlu repot-repot memberikan suamiku makanan itu!!"


"Yura aku hanya ---"


"Pelakorku selain ikan, sekarang ada anjing juga ternyata!!"


BRAKH


Yura langsung menutup pintu dengan keras membuat Anaya terhentak kaget. Alasan Anaya datang sebenarnya bukan tulus meminta maaf tapi hanya ingin melihat Winter saja.


Ketika Yura berbalik sudah ada suaminya yang mengacungkan jempol untuknya.


"Bagus Yura ..."


"Bagus apanya!"


DUKH


"Akkhh!!"


Yura langsung pergi ke kamarnya setelah menendang kaki Winter. Pria itu menatap kepergian istrinya di anak tangga lalu menggelengkan kepala, tendangan Ibu hamil cukup kuat. Mungkin karena tenaga nya di bantu si kembar di perut.


*


"Anaya adalah putri dari seorang chef, Tuan." Lail berkata kepada Magma di telpon. Magma baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil melilit di bagian bawah tubuhnya.


Ia berjalan dan duduk di ranjang. "Lalu?"


"Winter pernah belajar memasak di kelas Ayahnya dan sepertinya Anaya menyukai Winter lalu mengirim makanan ke kantornya. Winter memakan makanan dari Anaya karena dia pikir itu makanan dari Nona Yura, Tuan. Mungkin itu yang membuat mereka bertengkar."


Magma mengangguk-ngangguk. "Perhatikan saja dulu, mungkin dalam waktu dekat dia mau tobat untuk tidak menganggu rumah tangga Yura. Kalau sudah berlebihan suruh orang untuk menculik dia!!"


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2