
Pagi harinya Summer membuka pintu perlahan setelah mendapat izin dari sang Ayah, Maxime. Untuk menjenguk Yura.
Summer mengedarkan pandangannya ke lantai yang penuh kertas origami dengan bentuk burung bangau. Lantai kamar di sulap menjadi lautan burung bangau warna-warni oleh Winter yang sampai detik ini tangan nya masih berkutat dengan kertas origami.
Pria itu tidak tidur semalaman dan menghabiskan waktu dengan menunggu Yura bangun seraya membuat burung bangau yang kini memenuhi kamar pasien.
"Winter ..." panggil Summer.
Summer melangkah dengan menginjak kertas-kertas tersebut, berjalan menghampiri ranjang Yura. Ia duduk di seberang Winter.
Summer menatap kembaran nya yang hanya menunduk sambil sibuk membuat burung bangau lalu melemparnya ke lantai dan mengambil kertas origami yang baru di kotak coklat sisi ranjang. Terus saja seperti dari malam sampai pagi.
"Apa kau tidak tidur Winter?" tanya Summer yang tidak di jawab apapun oleh Winter.
"Kau membuat burung-burung ini semalaman?" tanya Summer.
Masih hening. Yang menjawab ucapan Summer hanyalah bunyi monitor di dekatnya.
"Winter jangan g*la, kalau kebanyakan kertas seperti ini, kamar bisa sesak!"
"Dia suka burung bangau," sahut Winter dengan suara parau menatap istrinya sejenak lalu kembali menunduk.
Summer menghela nafas panjang. Suasana hening, Summer hanya menatap bergantian teman kecilnya Yura dan saudara kembarnya Winter.
Gadis itu di jaga oleh dua pria yang menyayangi nya. Summer sebagai teman kecil sekaligus adik ipar dan Winter yang berstatus suami.
Perasaan sakit melihat Yura seperti sekarang sudah pasti ada di diri Summer. Apalagi Summer belum bisa move on sepenuhnya, tapi melihat besarnya cinta Winter kepada Yura membuat Summer tidak mau lagi menganggu mereka.
Mungkin jika dirinya yang menjadi suami Yura, ia tidak akan sehebat Winter dalam menjaga dan mencintai gadis itu.
*
Satu jam yang kemudian setelah Summer keluar dari kamar, ia kembali masuk dengan membawa makanan untuk Winter.
Beberapa burung bangau yang berserakan sudah di bersihkan. Tapi ditinggal satu jam saja sudah puluhan burung bangau yang kembali berserakan di lantai.
__ADS_1
Summer berdecak seraya menggeleng pelan melihat burung bangau tersebut. Kemudian ia menyimpan makanan di meja.
"Winter makanlah dulu ..." Summer menata semua makanan itu di meja. Ia duduk di sofa ujung ruangan.
Tapi tetap tidak ada jawaban dari Winter. Dia bahkan tidak sama sekali menatap Summer.
Ponsel Summer berdering, panggilan masuk dari sang Ibu, Milan.
"Bagaimana? dia sudah mau makan?" tanya Milan di telpon dengan nada khawatir.
"Belum Mom. Dia terus membuat burung bangau dari kertas origami. Sepertinya ... dia depresi Mom ..."
Milan di mansion nya hanya bisa menghela nafas berat seraya mondar-mandir mendengar hal itu. Ia benar-benar takut putra nya malah jatuh sakit.
"Yasudah mom kesana sekarang ..."
Telpon pun berakhir ketika Milan hendak pergi Maxime memanggilnya.
"Sayang ..."
Milan berbalik.
"Winter masih belum mau makan. Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini ..."
Hening beberapa detik. Maxime terlihat sedang berpikir sampai akhirnya.
"Kita suruh Noah dan Kai pulang. Kau tau Winter sangat dekat dengan mereka ..."
Milan langsung mengangguk cepat. "Iya sayang, kau benar juga. Kita jemput mereka."
Noah dan Kai sekolah asrama karena di mansion suka sekali main PS mereka akhirnya tidak tinggal di mansion.
Berbeda dengan Winter dan Summer yang dari dulu pulang pergi dari mansion menuju sekolah.
*
__ADS_1
Noah dan Kai saling menoleh di mobil. Mereka tidak tahu apa-apa, tiba-tiba di jemput oleh Maxime dan Milan.
Noah berbisik kepada Kai. "Kau melakukan kesalahan apa lagi?"
"Apa maksudmu?" Kai balik bertanya.
"Kita dijemput jangan-jangan untuk dihukum."
Kai berdecak. "Di asrama saja aku jadi anak baik. Bagaimana bisa pulang, tiba-tiba di hukum."
Noah menghembuskan nafas. "Perasaanku tidak enak ..."
"Kapan perasaanmu enak," ledek Kai.
Mereka semakin bingung ketika di bawa ke Rumah Sakit. Mereka berjalan di lorong menuju kamar pasien.
"Kau sakit apa?" tanya Noah kepada Kai.
"Kenapa aku lagi yang kau tanya!" pekik Kai.
"Karena aku baik-baik saja, itu artinya kau yang bermasalah!"
"Aku juga baik-baik saja!!" sahut Kai tidak terima.
Kemudian Maxime mendorong pintu kamar. Noah dan Kai terkejut seketika melihat kakak iparnya terbaring di ranjang dengan alat penunjang kehidupan.
Mereka jarang sekali bertemu dengan Yura karena sekolahnya sekarang tiba-tiba mereka melihat Yura sudah terbaring di ranjang saja.
"Kak Yura ..." ucap Noah dan Kai bersamaan.
Mendengar suara yang ia kenali. Winter pun menoleh ke arah pintu dan mendapati dua adik kembarnya berdiri di sana bersama orang tuanya.
Noah mengalihkan pandangannya ke arah sang kakak, Winter. Yang penampilannya terlihat berantakan dengan lingkar hitam di bawah mata dan wajah pucat. Seperti bukan Winter yang selalu terlihat berwibawa lagi sebagai seorang pemimpin perusahaan.
Noah kemudian menyikut Kai. Kai pun menatap Winter.
__ADS_1
"Kak Winter ..." gumam nya.
Bersambung