Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#38


__ADS_3

Yura berdehem ketika ekor matanya mendapati Winter menyetir dengan ekspresi datar.


"Sakit maagh ku sudah hilang, sepertinya kita pulang saja."


Hening. Tidak ada jawaban dari Winter, pria itu tetap menyetir dengan ekspresi datar dan dingin.


Kenapa dia, seperti marah kepadaku.


"Aku tadi makan sushi sedikit, mungkin karena itu maagh ku kambuh," lanjut Yura menoleh ke arah Winter.


"Atau bagaimana kalau kita jangan ke Rumah Sakit, kita pergi ke---"


Mobil berhenti mendadak membuat Yura tak melanjutkan kalimatnya. Winter mendekatkan wajahnya ke arah Yura.


"Kenapa kau pergi ke yayasan?"


Darimana dia tau aku pergi ke yayasan.


"Jawab Yura!"


"Yayasan ... yayasan mana, aku tidak pergi ke yayasan manapun. Kau ini aneh sekali," ucapnya lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya.


Winter menarik dagu Yura agar kembali menatapnya. "Yayasan itu milikku, Yura ..."


Mata Yura membulat sempurna.


Bagaimana bisa Yayasan itu milik Winter, dia serius atau bercanda ...


"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku--"


"Sunshine, kau memakai nama itu saat bertemu Dokter Leon, kan?"


Yura menelan Saliva nya susah payah. Winter kembali ke tempat duduknya dan mobil kembali melaju menuju Rumah Sakit Melati.


Di perjalanan Yura begitu tegang, apa yang akan terjadi di Rumah Sakit nanti kalau Winter tahu dirinya sakit leukimia.


Ketika sampai di Rumah Sakit, Winter keluar mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Yura.


"Aku bisa jalan sendiri," ucap Yura yang tidak di dengarkan Winter.


Pria itu langsung mengendong istrinya. Yura hanya bisa pasrah, semoga tidak ada Dokter Leon di Rumah Sakit.


Winter memesan satu kamar untuk Yura, dia duduk di sofa menunggu Lusi membawa Dokter Leon.


Sebenarnya Dokter Leon sendiri tidak tahu siapa pemilik Yayasan karena dia bekerja atas tawaran gajih yang lumayan besar, jadi ini kali pertama antara Dokter Leon dan Winter bertemu.


Yura duduk di ranjang Rumah Sakit, meluruskan kakinya dengan gelisah, apalagi melihat ekspresi Winter yang dingin dan menusuk, membuat Yura tidak bisa berkutik.


Ekspresi nya sangat mirip dengan awal-awal mereka menikah.


Seseorang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, pintu ruangan terbuka, Dokter Leon langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Pasien nya di ranjang Rumah Sakit.


"Nona Sunshine ..."


Bola mata Yura bergerak, menatap bergantian Dokter Leon dan Winter. Di samping Dokter Leon ada Lusi.

__ADS_1


Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan.


Winter beranjak dari duduknya menghampiri Dokter Leon.


"Dia pemilik Yayasan," bisik Lusi.


"A-apa?"


Winter mengulurkan tangannya, Dokter Leon menyalami tangan Winter dengan sungkan.


"Saya Dokter Leon, Tuan ..."


Winter mengangguk, melepaskan tangan nya dan bertanya tanpa basa-basi lagi.


"Istri saya sakit apa?"


"I-istri? Nona Sunshine istrinya ..." Dokter Leon menatap Winter, Winter menganggukan kepalanya.


Yura spontan loncat dari ranjang menghampiri mereka. Ketika gadis itu hendak berbicara, Winter lebih dulu membekap mulut Yura.


Lusi menaikkan alisnya melihat sikap Winter.


"Istri saya sakit apa," ulang Winter.


Dokter Leon menatap bergantian Winter dan Yura. Yura memberi isyarat dengan matanya agar Dokter Leon tetap bungkam dan tidak memberitahu Yura.


"Katakan sejujurnya, dia pemilik yayasan," bisik Lusi.


Dokter Leon pun menghela nafas. Yura memberontak agar Winter melepaskan tangannya taia ia kesulitan.


"Nona Sunshine ... Nona Sunshine sakit, Leukimia Tuan ..."


"Apa ..." gumam Winter dengan iris mata menatap lekat Dokter Leon seakan berharap apa yang di katakan Dokter Leon itu sebuah kebohongan.


"Tadi pagi Nona Sunshine menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya ..."


Perlahan tangan Winter merosot dari mulut Yura. Kabar ini seakan membuat dunianya runtuh seketika, Yura sakit dan dirinya tidak tahu apa-apa.


Winter menatap Yura, gadis itu kemudian menunduk enggan menatap iris mata suaminya.


"Tinggalkan kami berdua ..." lirih Winter.


Dokter Leon dan Lusi pun keluar dari kamar.


Tangan Winter terulur hendak menyentuh pipi gadis itu tapi Yura langsung menjewer kedua telinganya dengan memejamkan mata.


"Maafkan aku ... maafkan aku ... jangan hukum aku ... jangan hukum aku ..."


Tangan Winter tergantung di udara, menatap sayu istrinya yang selalu lucu jika meminta maaf seperti itu, tapi kali ini Winter tidak tersenyum seperti pertama kali ia melihat Yura meminta maaf dengan menjewer kedua telinga nya.


Yang ada hatinya merasa bersalah karena tidak mengetahui Yura sakit.


Yura membuka mata perlahan, menurunkan tangannya dari telinga, mendongak menatap suaminya yang berdiri di depannya. Tatapan dingin Winter menghilang seketika, berubah menjadi tatapan sendu yang pernah Yura lihat.


"A-aku baik-baik saja ..."

__ADS_1


"Kenapa?" lirih Winter pelan. "Kenapa tidak memberitahu ku?"


"Aku tidak mau membebani mu ..." Yura kembali menunduk.


Winter menarik dagu Yura agar kembali mendongak menatapnya. Winter mengulang sumpah pernikahan mereka saat di depan pendeta hari itu, namun kali ini ia mengucapkannya tidak lantang dan keras seperti saat acara pernikahan. Tapi pelan dan penuh penyesalan dengan tatapan merasa bersalah kepada Yura.


"Saya, Winter Louis De Willson, menerima engkau Ayura Aletta, sebagai istri satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."


"Kau lupa dengan itu, Yura? bukankah seharusnya kita saling mengasihi dalam keadaan sehat maupun sakit?"


Mata Yura berkaca-kaca mendengar janji pernikahan itu terucap kembali dari mulut Winter.


"Kau tidak menyukai ku ... janji itu tidak tulus, kita menikah bukan atas dasar cinta, itu sebabnya aku tidak mau membebanimu ..." lirih Yura menahan tangisnya.


Winter mengelus lembut kepala gadis itu. "Kau pernah tanya apa yang aku minta ketika di gereja kan ... pertama kali aku datang ke gereja sebagai seorang suami, aku hanya meminta agar Tuhan mau membuat hatimu menerima aku ... aku tidak pandai berbicara soal perasaan seperti yang lain, Yura. Aku hanya menunggumu yang mengejar aku lebih dulu ..."


"Aku pikir kau main-main dengan pernikahan itu karena kita di jodohkan ..." lirih Yura.


Winter menggeleng. "Tidak ada yang main-main jika berhubungan dengan Tuhan."


Pria itu pun memeluk istrinya. Tangis Yura pecah, air mata membasahi kedua pipinya di pelukan Winter.


*


Winter dan Yura pulang dari Rumah Sakit, tapi mereka tidak pulang ke mansion, melainkan pergi ke pantai.


Winter sudah berusaha membujuk Yura untuk pulang ke mansion karena ini sudah malam, tapi Yura tetap keukeuh dan meminta pergi ke pantai sebentar. Untung saja ombak tidak terlalu tinggi dan tidak hujan.


Mereka duduk di bebatuan pinggir pantai, Winter sedang membantu Yura memakai jaket.


"Aku mau kesini terus, aku mau melawan trauma ku," ucap Yura memandangi ombak di depannya.


"Bagus, trauma mu memang harus di lawan," sahut Winter.


"Oh iya ..." Yura menatap Winter. "Dari kapan sikap dinginmu ini bisa sedikit berubah? awal menikah, sehari saja aku bisa menghitung berapa kata yang kau ucapkan."


"Waktu aku mendengar kau ingin tidur satu ranjang denganku, dari situ aku pikir kau sudah menerima ku ..."


Yura menyikut Winter. "Kau menyebalkan kenapa malah membahas mimpiku ..." Yura menekuk wajahnya dengan memandangi ombak di depannya.


Winter tersenyum tipis. "Yura ..." panggilnya.


Yura kembali menoleh.


"Semangat ..."


Yura menatap lekat iris mata Winter.


"Pasti sembuh ..." lanjut Winter.


Hening beberapa detik. Mereka hanya saling menatap dengan Winter mengelus lembut pipi Yura, hembusan angin malam menemani mereka sampai Winter berkata.


"Aku mencintaimu ..."


Yura berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis mendengar kalimat itu.

__ADS_1


Kenapa aku harus mendengar kalimat itu ketika aku sakit, sekarang aku bukan senang. Tapi aku takut ...


Bersambung


__ADS_2