Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#58


__ADS_3

Winter membuka mata dengan mendesis memegang kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya buram, ia mengerjapkan matanya beberapa kali.


Sampai akhirnya ketika penglihatannya kembali jelas, ia menatap ruangan yang sangat mirip dengan gudang. Kotor dan berdebu.


Perlahan Winter berdiri dengan sesekali terbatuk karena debu masuk ke hidungnya. Entah dimana ini, Winter tidak tahu. Karena gudang di mansion tidak seperti ini.


Winter berjalan mendekati pintu, ketika ia menarik knop pintu ternya di kunci.


"Summer!!" teriaknya dengan kesal


Winter berteriak beberapa kali seraya terus menggerakkan knop pintu. Sampai akhirnya ia mendengar seseorang membuka kunci.


Winter langsung menarik pintu dan ternyata itu Julian.


"Hai, Bos. Eh maksudku Tuan Winter ..."


BUGH


Winter langsung menendang perut Julian membuat pria itu terjatuh ke lantai dengan memekik kesakitan.


"A-akhh ... Bos, eh Tuan kau kenapa?"


Winter mengambil paksa kunci mobil di saku celana Julian walaupun Julian sempat memberontak.


Ketika berhasil pria itu bergegas pergi dari gudang tersebut.


Selama di perjalanan ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi seraya mengingat-ngingat apa yang sebenarnya sampai ia ada di gudang itu.


Winter menuruni anak tangga ketika membuka pintu, ia mendapati Summer dan Julian. Summer hendak masuk tapi dada nya di dorong keluar oleh Winter.


"Aku ke sini hanya ingin berkunjung saja tidak ada niat apapun," ucap Summer yang mendapat delikan tidak suka dari Winter.


"Percaya saja Winter, kalau aku ingin bertemu istrimu untuk apa aku membawa Julian!" lanjut Summer.


Julian pun mengangguk.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan, Dad menyuruhku mengatakannya kepadamu ..."


Summer pun menerobos masuk dengan Julian walaupun Winter tidak suka dengan kedatangan mereka.

__ADS_1


Mereka duduk di sofa saling berhadapan. Julian meminta izin ke kamar mandi.


"Dad memintaku berhenti mengurus perusahaan di Italy. Sepertinya aku akan bekerja di perusahaanmu ..."


"Dan perusahaan di Italy di pegang oleh orang lain."


"Aku lebih suka kau di Italy ..."


Summer terkekeh. "Dulu kau sering memintaku kembali ke sini, kenapa sekarang kau malah suka aku tinggal di Italy. Kau pasti takut aku merebut istrimu kan?" Summer tersenyumi miring.


Mereka saling menatap tajam sampai akhirnya dari belakang, Julian membekap mulut Winter dengan sapu tangan yang sudah di tetesi obat bius dosis tinggi membuat Winter pingsan seketika.


Winter mencengkram stir dengan kuat, ia benar-benar tidak menyangka Summer akan melakukan hal itu.


*


"Yura apa maksudmu?"


"Aku yakin kau bukan Winter! kau Summer kan? Sikapmu sangat berbeda, Winter tidak pernah tanya soal masa kecilku dan di telingamu ..."


"Di telingamu tidak ada tahi lalat."


Yura melebarkan mata beringsut menjauhi Summer. "Keluar kau dari kamarku!!"


"Yura aku ..." Summer mendekati Yura.


"KELUAR!!" teriak Yura.


"Apa pantas kau masuk kamarku seperti ini, Summer? kau bahkan sempat tiduran bersamaku tadi siang di sini!! apa itu pantas di saat kau hanya adik iparku!!"


"Yura dengarkan dulu penjelasanku!! aku kesini tidak ada niat jahat kepadamu!! aku hanya ingin mengembalikan ingatanmu, aku tau kau hilang ingatan Yura!!"


"Aku tidak hilang ingatan Summer. Sekarang pergi lah!!"


Yura segera turun dari ranjang berlari mendekati pintu dan membukanya.


"Pergi!!" pintanya.


Summer segera menghampiri gadis itu. "Yura dengarkan aku, aku teman kecilmu kita berteman saat di italy ..."

__ADS_1


Yura menghela nafas kasar. "Yang pertama aku tidak hilang ingatan dan yang kedua aku tidak pernah tinggal di Italy!!"


"Kau pasti mengatakan itu karena kau lupa semuanya!!"


"Summer aku bilang pergi atau aku akan melaporkan sikapmu ini ke Daddy Maxime!!"


"Yura--"


"SUMMER!!" teriak Winter yang berdiri di depan mereka.


Yura langsung berlari menghampiri suaminya dan berdiri di belakang pria itu.


"Kau benar-benar keterlaluan!!" desis Winter dengan geram.


Summer malah tersenyum miring. "Kenapa? tidak suka? setidaknya aku mendapatkan kejanggalan baru di sini tentang Yura ..."


Pria itu pun melengos pergi melewati Winter dan Yura. Winter mendelik kesal dengan kepergian Summer.


Kemudian ia membalik dan meraup wajah Yura. "Kau tidak apa-apa?"


Yura menggeleng. "Kau darimana?"


"Aku akan menjelaskannya nanti," sahut Winter kemudian memeluk istrinya.


*


Yura berada di kamar sementara Winter di balkon untuk menelpon Ayahnya dan menceritakan semuanya yang terjadi.


"Apa maksudmu? bagaimana mungkin Summer melakukan hal g*la itu?" tanya Maxime.


"Dia selalu berpikir Yura teman kecilnya, Dad. Sampai dia berani menyekapku di gudang dan menyamar menjadi aku, sampai masuk ke kamar Yura."


Terdengar helaan nafas dari Maxime. "Begini jadinya kalau kalian tidak mau terbuka dengan Dad dari dulu, seandainya Summer mau bercerita dengan Daddy kalau dia punya teman kecil, mungkin Dad akan membantu mencarinya dari dulu, agar tidak terjadi hal seperti ini ..."


"Kita selesaikan di sini, jangan ajak Yura."


"Iya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2