
Magma menatap tangan Yura yang di infus kemudian beralih menatap bola mata gadis itu.
"Apa ... apa benar kau mengidap leukimia?"
Hening beberapa detik. Mereka hanya saling menatap.
"Jawab Yura!!"
Yura menganggu kan kepala.
"Magma jang-"
"Apa suamimu tau?" potong Magma.
"Magma jangan bilang siapapun kalau aku--"
"Aku tanya apa suamimu tau, Yura!" Magma memotong kembali ucapan Yura.
Yura menggeleng pelan.
Magma menghela nafas kemudian mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana bisa dia tidak tau, Yura?" tanya Magma duduk di samping Yura.
"Aku tidak mau dia tau."
"Dia suamimu!!"
"Tapi dia tidak mencintaiku, kalau aku memberitahunya, aku hanya akan menjadi beban untuk dia!!"
"Kenapa kau berpikir seperti itu hah?"
"Karena kami menikah bukan atas dasar cinta!!"
"Kalau begitu beritahu orang tuamu, Yura."
"Mereka juga akan sedih kalau tau aku sakit," sahut Yura kemudian menundukkan kepalanya.
"Kau harus berbagi dengan seseorang tentang rasa sakitmu, Yura. Kau tidak bisa seperti ini."
"Aku tidak mau ... aku yakin aku secepatnya akan sembuh."
"Kemoterapi itu memiliki efek samping, mustahil kalau kau bisa menahan efek samping nya ketika bersama Winter nanti." geram Magma dengan Yura yang keras kepala.
Yura kembali diam dan menunduk.
"Biarkan dia tau, Yura!!"
"Kalau aku harus berbagi rasa sakit, bisa tidak kau saja yang menemaniku?" Yura menatap Magma.
*
Magma pergi ke taman di dekat Rumah Sakit Melati setelah memberikan makan untuk Yura. Sudah ada Lail yang duduk di salah satu kursi taman.
Magma duduk di sampingnya. "Anakmu dengan siapa?" tanya Magma.
"Dia sedang tidur, aku sudah menitipkannya kepada perawat, Tuan."
"Maaf aku tidak menjenguknya tadi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tuan."
"Ada hal penting?" tanya Lail memiringkan wajahnya menatap Magma.
"Soal keluarga De Willson ..."
Lail mengangguk-ngangguk.
"Yura sakit leukimia."
"Apa?" Lail menoleh tak percaya.
"Aku baru tau tadi. Winter tidak tau, bukan kah keluarga De Willson memiliki anak buah yang selalu jadi mata-mata, apa tidak ada yang melapor kalau Yura sakit?"
"Artikel dua tahun lalu mengatakan jika Yakuza akan berakhir di Maxime De Willson, Tuan. Bahkan Maxime De willson mengatakan tidak ada penerus untuk yakuza dan antraxs. Karena keempat putra lelakinya tidak ada yang di jadikan mafia. Dengan begitu kehidupan Winter dan Maxime sangat berbeda, Maxime De Willson selalu di jaga ketat dan di ikuti kemanapun dia pergi saat dia muda dulu, karena banyak orang yang ingin membunuhnya."
"Sementara Winter dan Summer De Willson hanya manusia biasa yang hidup tanpa musuh. Tangan mereka bahkan bersih dari mengambil nyawa orang, dengan begitu penjagaanya berbeda. Tidak sebanyak Ayahnya, tidak banyak mata-mata yang mengikuti dan menjaga mereka, karena kelompok mafia lain pun tidak mempunyai keuntungan jika Winter dan Summer mati. Yang ada mereka akan kembali membangkitkan amarah Maxime. Kelompok mafia yang lain memilih menunggu kematian Maxime De Willson, Tuan. Karena jika Maxime mati, maka Yakuza pun berakhir."
"Jadi menurutmu Winter hanya seorang pengusaha saja?" tanya Magma.
"Benar, Tuan. Seorang pengusaha tidak membutuhkan banyak pengawal, bukan. Mereka bergerak jika Winter yang memerintah saja, berbeda dengan anak buah Ayahnya yang selalu menjaga dan melaporkan sesuatu kepada Tuan nya. Jadi wajar, jika Winter tidak tahu kalau istrinya sakit."
"Aku mengerti sekarang, lima tahun aku tinggal di Negara ini. Keluarga De Willson masih belum tahu tentang keberadaanku, karena anak buahnya mulai tidak banyak menjadi mata-mata lagi ..."
Lail mengangguk membenarkan.
"Tapi aku masih heran Lail, kelompok mafia sebesar Yakuza kenapa mau di bubarkan begitu saja."
"Maxime De Willson memilih kebahagiaan anak-anaknya, Tuan. Putra pertama nya saja sangat rajin pergi ke gereja, mungkin hanya dia satu-satunya orang beriman di keluarga gelap De Willson ..."
"Lail ... aku ingin membunuhnya bukan untuk menjadikan Recobra mafia terkuat. Tapi untuk mewujudkan keinginan Ibuku."
Magma menghela nafas panjang. Di sisi lain ia memikirkan Yura yang masuk keluarga De Willson, jika ia membunuh Maxime, Yura pasti akan membencinya.
"Aku ke kamar Yura dulu." Magma beranjak dari duduknya. Tapi perkataan yang keluar dari mulut Lail membuat Magma mematung di tempat.
"Kau mencintainya, Tuan?"
Magma menoleh. "Kau lebih tau, dia bukan tipe ku."
Pria itu kemudian melengos meninggalkan Sekretarisnya itu.
"Ya, tentu saja dia bukan tipe mu. Tipe mu kan perempuan nakal," gumam Lail menatap kepergian Tuan nya.
*
Yura berada di dalam kamar, duduk di ranjang dengan meluruskan kakinya, tiga puluh menit yang lalu ia baru saja pulang dari Rumah Sakit.
Yura belum merasakan efek kemoterapi nya, selain merasa tubuhnya lemas saja. Ponselnya bergetar panjang di laci samping ranjang. Yura menoleh kemudian mengambil ponselnya, panggilan masuk dari Winter.
"Hallo ..."
"Dimana?" tanya Winter.
"Aku di kamar. Kenapa?"
"Mau semangka?"
__ADS_1
"Mau mau ... kau dimana? supermarket?"
"Iya."
"Aku mau sushi."
"Oke."
Panggilan berakhir. Yura tersenyum senang memandang ponselnya, ia kembali menyimpan ponselnya di meja.
*
Ketika Winter pulang, ia langsung menata sushi di piring dan memotong-motong semangka. Yura turun ke bawah dengan tersenyum.
Gadis itu duduk di meja makan menatap Winter yang sedang memotong semangka dan membersihkan biji semangkanya lalu membawa piring itu ke meja makan.
Hal yang membuat Yura heran, biasanya Winter duduk di depannya, tapi sekarang pria itu menarik kursi di samping Yura. Yura menatap suaminya.
"Kenapa?" tanya Winter.
Yura menggeleng pelan. "T-tidak."
Si musim dingin ini kenapa tiba-tiba duduk di sampingku ya, padahal kursi di depan kosong.
Winter mengambil sushi dengan sumpit dan menaruhnya di piring Yura.
"Makan."
Yura mengangguk. Ketika ia mengambil sushi dengan sumpit, tiba-tiba Yura merasa mual. Ia menghela nafas panjang dengan memejamkan mata.
Tolong ... plis, jangan sekarang mualnya. Winter ada di sini. Tahan, aku harus menahannya.
Yura mencengkram sumpit dengan kuat berusaha agar tidak mual di depan Winter.
"Yura."
"Hah?" Yura menoleh.
"Kenapa tidak makan?" tanya Winter.
"Iya ini mau makan hehe."
Yura mengigit sushi nya sedikit, mengunyahnya perlahan dengan tidak menikmati makanan di mulutnya karena rasa mual yang kuat.
Winter masih memperhatikan Yura yang makan tidak lahap seperti biasanya.
"Kau sakit?" Winter mengecek kening Yura.
Yura menggeleng. "Aku, aku baik-baik saja."
Mata Yura berkaca-kaca, bukan ingin menangis tapi karena rasa mual yang begitu kuat ia tahan.
"A-aku pipis dulu ya." Yura berlari ke kamar mandi, bukan kamar mandi yang ada di dapur tapi gadis itu malah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Winter heran kenapa Yura memilih kamar mandi yang jauh dari tempat makan.
Bersambung
__ADS_1