
Yura masuk ke dalam kamarnya dengan wajah lesu, pikirannya kalut. Ucapan Dokter Leon terus terngiang-ngiang di kepalanya. Yura menelungkupkan wajahnya di ranjang lalu terisak sendirian.
"Aku tidak mau mati ... hiks."
Tangisnya semakin keras, andai saja ada seseorang yang berdiri di luar kamarnya, sudah pasti dia akan mendengar tangisan gadis itu.
"Tuhan itu aneh, orang yang tidak bisa minum obat sepertiku kenapa di kasih penyakit parah. Aku juga takut suntikan ...."
Yura menarik dirinya duduk di ranjang kemudian mengusap air mata yang membanjiri pipinya. Tapi ketika ia mengusap air matanya, tangisnya justru semakin meledak.
*
Sampai sore Yura hanya diam di kamar, ia bahkan belum makan sama sekali. Yura hanya duduk di atas ranjang memeluk lututnya sendiri dengan pandangan kosong. Matanya terlihat sedikit bengkak karena menangis.
Sepertinya aku harus ke gereja.
Yura pun beranjak dari ranjang, mengambil tas di sofa kemudian pergi ke gereja dengan menaiki bis.
Di depan gereja ia menghela nafas panjang dengan mencengkram kuat tali tas selendangnya. Matanya penuh harap menatap bangunan suci di depannya itu.
Ia masuk dan berdiri dengan tatapan memelas menatap salib di depannya. Kemudian ia merapatkan kedua tangannya, memejamkan mata dan mulai berdoa. Yura merintih dalam hatinya.
"Aku tau mati itu kembali kepadamu ...tapi, bisakah beri aku waktu lebih banyak untuk bahagia dengan orang-orang yang aku sayangi di dunia, Tuhan ... Penyakit ini, tidak ada apa-apanya dengan kasihmu, aku percaya engkau mendengar dan akan mengabulkan doaku."
Kemudian Yura mendengar suara anak kecil di sampingnya yang sedang berdoa dengan mengeluarkan suaranya.
"Terimakasih atas kasihmu hari ini, Tuhan. Aku mendapat banyak ice cream tadi siang ..."
Yura perlahan membuka mata lalu menoleh ke samping. Anak kecil itu sedang tersenyum menatap salib di depannya dengan merapatkan kedua tangannya.
Hal yang membuat Yura heran, anak itu memakai anting tapi kepalanya botak.
"Hallo ..." sapa Yura.
Anak kecil itu menoleh.
"Hai ..."
"Kau ... datang bersama siapa?" tanya Yura.
"Sendiri."
"Berapa umurmu?"
"Enam tahun."
__ADS_1
"O-oh. Eum, aku punya makanan. Kau mau?" Yura menawari makanan yang ada di dalam tasnya.
Gadis kecil itu mengangguk. Yura tersenyum. "Ayo, makan di tempat lain."
Yura mengenggam tangan gadis itu membawanya ke ruangan tempat makan. Mereka duduk di atas karpet kecil. Yura mengeluarkan beberapa cemilan di tas nya, hanya susu dan beberapa snack saja.
"Aku mau susu ..." Gadis itu mengambil susu coklat. Yura tersenyum dan ikut mengambil susu rasa strawberry.
"Namamu siapa?" tanya Yura sambil menusuk susu kotak itu dengan sedotan.
"Lily."
"Wahhh ... namamu bagus."
"Nama kakak siapa?"
"Ayura. Panggil aku kak Yura saja."
"Oke deh, Kak Yura hehe."
Yura masih meminum susu dengan terus memperhatikan kepala Lily. Lily sadar Yura sedang memperhatikan kepalanya, karena Lily sering di perhatikan seperti itu oleh orang-orang.
"Tuhan terlalu sayang sama aku, Kak."
"Hah?" Yura langsung berpindah menatap mata Lily.
Yura sedang mencerna ucapan gadis kecil di depannya. Akar yang tumbuh di badan, ucapan nya mirip dengan kalimat yang di katakan Dokter Leon.
Sel kanker itu seperti akar pohon. Yang harus kita lakukan bukan hanya menghentikan akar itu tumbuh tapi juga mencabutnya. Sel kanker itu mudah berkembang, semoga dengan pengobatan yang Nona Sunshine lakukan tidak hanya membuat sel kanker itu berhenti berkembang tapi juga hilang.
A-apa anak itu terkena leukimia juga.
"Lily ..." panggil seseorang.
Mereka menoleh dan mendapati seorang ibu paruh baya yang sedang berjalan ke arah mereka dengan tersenyum.
"Mama ..."
Ibu itu duduk bergabung bersama Lily dan Yura. Yura tersenyum dengan menganggukan kepala sopan.
"Ma, kenalin ini Kak Yura."
Ibu itu menoleh dengan tersenyum. "Hallo, saya mama nya Lily."
"Saya Yura tante." Yura berjabat tangan dengan Ibu itu.
__ADS_1
Kemudian Ibu itu terlihat mengelus punggung Lily. "Kalau mau pergi itu bilang dulu sama Mama."
"Hehe maaf, Ma."
"Tante dan Lily tinggal dimana?" tanya Yura.
"Di belakang gereja ini," sahut Mama Lily.
"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk.
"Eum, Tan. Saya boleh tanya sesuatu?" tanya Yura.
"Boleh, silahkan saja." Mama Lily tersenyum ramah.
"Lily ... Lily sakit apa ya, Tan?"
Mama Lily menatap anaknya sejenak dengan tatapan sayu kemudian beralih menatap Yura. Dan Lily masih sibuk minum susu.
"Lily ..." Mama Lily menggantung kalimatnya. Ia menghela nafas berat, seperti tidak kuat menceritakan penyakit Lily.
"Lily terkena kanker paru-paru."
Yura melebarkan mata sampai menutup mulutnya.
"K-kanker paru-paru? bagaimana bisa, Tan. Dia masih enam tahun."
Mama Lily menggeleng. "Tante juga tidak tahu, tidak pernah ada keluarga kami yang terkena kanker. Tapi Lily ..." Mama Lily kembali menatap anaknya dengan iris mata yang dibaluti perasaan sakit melihat putri kecilnya.
"Lily harus melakukan kemoterapi sampai rambutnya rontok seperti ini." Mama Lily kemudian menangis.
"S-saya ... saya iri melihat anak-anak seumuran Lily yang bisa bermain setiap hari, sementara Lily ... dia harus banyak istirahat dan minum obat. Lily anak yang dewasa, dia tidak pernah mengeluh sedikitpun dan dia selalu ikhlas dengan penyakitnya."
Tak terasa air mata Yura jatuh seketika, Yura menatap Lily. Tubuhnya memang sangat kurus sampai membuat tulang-tulangnya hampir terlihat, tapi Lily benar-benar tidak mengeluh sama sekali.
Bagaimana dengan dirinya, Yura sendiri malah menyalahkan Tuhan tadi atas penyakitnya. Melihat anak ini seperti sebuah tamparan keras untuk Yura, kalau ia harus lebih banyak bersyukur dan menerima.
"Kami sudah melakukan banyak pengobatan untuk Lily, tapi belum kelihatan hasilnya. Lily malah semakin sering merasakan dada nya sakit, tapi dia tidak menangis ..." Mama Lily menceritakan kisah anaknya dengan terisak. Sesekali tangannya mengusap matanya yang terus mengeluarkan cairan bening itu.
"Dia bilang, dia sayang Tuhan. Apapun yang Tuhan kasih, dia akan bersyukur memilikinya, termasuk kanker ini. Saya tidak tau, bagaimana bisa anak sekecil Lily bisa sedewasa ini."
Lagi-lagi Yura hanya bisa menghela nafas panjang mendengar cerita Mama Lily.
Kemudian Yura menutup muka dengan kedua tangannya agar Lily dan Mama nya tidak melihat dirinya menangis.
Yura merasa malu karena semangatnya melawan kanker kalah dengan anak yang baru berusia enam tahun.
__ADS_1
Mama Lily memegang pundak Yura menenangkan. Dalam hatinya Yura berjanji akan kembali semangat, Kanker tidak merubah apapun dalam hidupnya.
Bersambung