
Ketika malam hari mereka masuk ke kamar khusus. Yura sedang menatap lautan malam dari jendela, cukup gelap dengan angin malam yang sangat dingin.
Winter menghampiri istrinya memegang kedua pundak gadis itu seraya mencium kepala Yura dari belakang.
"Tutup jendelanya, anginnya sangat besar."
"Gelap sekali," ucap Yura.
"Sepertinya akan ada badai malam ini."
"Badai?" Yura berbalik. "Lalu ?" iris matanya terlihat panik.
"Semua akan baik-baik saja."
Winter menutup jendela kemudian membawa istrinya ke ranjang. Yura duduk di ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan memeluk guling, membayangkan ada badai di tengah laut membuat nyalinya menciut seketika.
Tak lama kemudian terdengar suara petir yang membuat tubuh Yura terhentak kaget, ia sampai menarik selimut sampai ke hidungnya menyisakan bola mata yang menatap kanan kiri dengan panik.
Winter tersenyum lalu memeluk istrinya.
"Hujan ya."
"Iya," sahut Winter.
__ADS_1
Setiap kali ada petir menyambar gadis itu akan mempererat pelukannya kepada Winter saking terkejutnya.
Untung saja trauma soal tsunami sudah jarang kambuh membuat gadis itu tidak akan sampai pingsan seperti dulu.
Terasa kapalnya bergoyang tiba-tiba. "Winter beneran badai. Bagaimana ini?"
"Jangan khawatir Yura, hanya badai kecil." Winter pernah mengalami badai besar bersama Maxime dan Summer. Itu sebabnya ia bisa merasakan kalau badai hari ini, badai kecil.
Petir terus menyambar dengan kilatan cahaya yang membuat tubuh Yura bergidik ngeri ketika melihatnya, angin besar membuat jendela kapal terbuka sendiri dengan tirai jendela yang terus bergerak tertiup angin.
Di sela-sela ketakutannya, ia merasa ada yang tidak beres dengan paha nya. Yura merasa geli, dia tahu siapa pelakunya.
Yura langsung menatap Winter yang juga tengah menatapnya. Entah tatapan apa dari suaminya itu, Yura tidak bisa mengartikannya.
Ketika tangan itu terus naik ke atas, Yura sontak merapatkan kedua pahanya sambil mengigit bibir bawahnya dengan menggelengkan kepala menatap Winter.
Winter menarik ujung bibirnya tersenyum. "Tadi takut petir, sekarang takut tanganku."
"Eum hehe ..." Yura bergeser menjauhi Winter sedikit, membuat tangan pria itu keluar dari dalam selimut.
Apa-apaan ini, kenapa aku jadi gugup seperti malam pertama saja.
"Kenapa menjauh?" tanya Winter seraya memijit lembut pundak Yura. Tapi pijitan dari tangannya malah terasa seperti godaan, pria itu seperti sedang menggoda Yura apalagi sekarang tangannya yang semula di pundak turun ke punggung perlahan lalu masuk ke balik baju Yura.
__ADS_1
"Winter ..." lagi-lagi Yura menahan tangan suaminya.
Winter bergeser mendekati Yura. "Tenanglah, jangan takut aku tidak akan mengagetkanmu seperti petir itu Yura ..."
Setelah mengatakan itu, Winter membuka paksa baju istrinya walaupun ada sedikit pemberontakan dari Yura.
Yura langsung menutupi dirinya dengan selimut dan Winter menci*m gadis itu, awalnya lembut tapi lama-lama semakin brutal membuat Yura kewalahan.
Winter menghentikan cium*n nya lalu menatap tatto Yura di tulang selangka bertuliskan nama dirinya.
"Siapa yang membuat tatto ini?" tanya Winter mengelus tatto itu.
"Magma."
Kemudian Winter mengecup tatto tersebut. Dia suka dengan tatto itu karena nama dirinya sendiri. "Bagus ..." ucap Winter.
Setelah itu ia kembali menci*m Yura dengan tangan yang tidak diam, tangannya bermain-main di perut Yura membuat gadis itu merasakan geli.
Pria itu membuka bajunya miliknya lalu kembali menci*m Yura. Di dalam selimut Winter membuka celana nya tanpa melepas cium*n kepada istrinya, Yura hanya bisa pasrah walaupun sesekali mendorong tubuh Winter karena kaget ketika pria itu mengigit-gigit kecil bibirnya.
Malam itu mereka menikmati rasa rindu yang di tahan bertahun-tahun dengan desiran ombak, hujan dan suara petir yang menjadikan malam semakin panas di dalam kamar.
Bersambung
__ADS_1