
Yura menuruni anak tangga, di ruang tamu sudah ada Winter yang menunggu.
"Ayo ..."
Winter beranjak dari duduknya berjalan ke teras depan bersama Yura yang terus menggulum senyum di wajahnya.
"Loh, motor? naik motor?"
Winter mengangguk.
Sungguh, seandainya bisa Yura ingin menjerit dan melompat-lompat sekarang.
Naik motor bersama dia, itu artinya aku harus memeluk dia dong biar tidak jatuh. Aaaa so sweet ...
"Ayo ..."
Winter naik lebih dulu, ia memberikan helm kepada Yura.
"Tidak mau pakai helm ah."
"Pakai Yura."
"Tidak mau."
Winter berdecak kemudian memakai helmnya sendiri. Yura tersenyum menyimpan helm nya di teras kemudian naik ke motor.
Ketika Winter menyalakan mesin motornya, Yura bimbang antara harus memeluk suaminya itu atau tidak.
Kalau aku peluk dia, dia marah tidak ya.
Winter langsung tancap gas membuat Yura yang di belakang menjerit hampir terjengkang, gadis itu langsung memeluk Winter dengan menghela nafas panjang.
Di perjalanan Yura memeluk Winter dengan kepala menempel di pundak kanan pria itu, ia terus menggulum senyum di wajahnya, angin malam menerpa wajah cantiknya.
"Winter," panggil Yura sedikit menaikan volume suaranya karena tersamarkan oleh suara kendaraan yang lain.
"Hm?"
"Nanti beli makanan juga buat di mansion ya."
"Iya."
*
Lagi-lagi Julian dan Summer berdebat di sebuah kamar. Summer duduk di ranjang dengan menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang dan meluruskan kakinya sementara Julian duduk di sofa sambil membaca majalah.
"Sudahlah bos jangan berpikir berlebihan!" ucap Julian menatap Summer lalu kembali membaca majalah di tangannya.
"Aku hanya curiga," sahut Summer.
"Curigamu berlebihan, Bos!" Julian menutup majalahnya, menyimpannya di atas meja.
"Kalau kau tidak mau membantuku diam saja!"
"Bukan begitu, Bos. Bagaimana caranya kau mau mencari tau? datang ke rumah Tuan Benjamin dan bertanya 'Tuan apa Yura itu benar anak kandungmu' begitu? Yang ada kau kena bogem Tuan Benjamin, sudah jelas-jelas Yura itu anaknya. Lihat saja, Tuan Benjamin dan Nyonya Bayuni sangat menyayangi Yura."
"Dan kalaupun benar Yura itu Letta seharunya dia juga mengenalimu, Bos. Tapi lihat, dia tidak mengenali nama Summer sama sekali, seolah-olah namamu baru dia dengar pertama kali."
"Tapi--"
__ADS_1
"Letta tinggal di Italy bukan di sini, Bos. Ingat itu!" potong Julian lalu beranjak dari duduknya dengan kesal kemudian membuka pintu kamar untuk pergi.
Tapi ia terperanjat kaget ketika melihat Milan berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh intimidasi dan tangan bersedekap dada.
"N-nyonya ..."
Summer langsung beranjak dari ranjang menghampiri Ibunya. "Mom ..."
"Kenapa kalian berduaan di kamar?" tanya Milan tanpa basa-basi
Summer dan Julian langsung saling menoleh, bukan karena takut dengan isi pikiran Milan yang selalu berpikir mereka homo. Tapi takut Milan mendengar pembicaraan mereka tentang Yura.
"K-kami ... kami hanya mengobrol, Mom."
"Mengobrol soal apa? Grandpa mu tidak pernah ya mengobrol di kamar dengan grandpa Han."
"Mom salah paham kami hanya--"
"Saya permisi dulu, Nyonya ..." Julian membungkukan badan lalu melengos pergi begitu saja, ia tidak mau terlibat dengan kesalahpahaman Milan.
"Mom ..."
"Sudah Summer, lebih baik kau di jodohkan saja dengan pilihan Daddy mu. Itu yang terbaik dari pada terus bergaul dengan Sekretaris mu itu!"
"Momm ..." teriak Summer begitu melihat kepergian Ibunya.
Summer mendengus kasar seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
*
Yura turun dari motornya kemudian mengedarkan pandangannya ke pasar malam yang cukup ramai.
"Cari tempat duduk dulu yuk."
Winter mengangguk dan mengikuti Yura dari belakang. Mereka duduk di salah satu meja yang kosong, ada dua kursi di sana.
"Mau beli apa?" tanya Yura.
"Terserah."
"Kau belum pernah pergi ke pasar malam ya?" tanya Yura.
"Pernah, bersama Summer dan yang lain."
"Yang lain? Nathan, Nala, Laura dan Lalita juga?"
Winter mengangguk.
"Oh ... bagus deh, aku kira belum pernah. Aku mau bakso bakar, martabak, jagung bakar, terus apalagi ya ..." Yura terlihat berpikir.
"Tidak terlalu banyak?" tanya Winter.
Yura menggeleng. "Itu baru sedikit tau."
"Kau tunggu di sini biar aku yang cari makanannya ya."
"Aku saja." Sergah Winter lalu beranjak pergi mencari makanan untuk Yura.
Yura hanya ternganga di tempat duduknya memandangi kepergian Winter.
__ADS_1
Woahhh ... dia mau antri makanan demi aku.
Kemudian Yura menopang dagu dengan kedua tangannya seraya menggulum senyum di wajahnya menunggu Winter datang.
Setengah jam menunggu akhirnya ia melihat Winter berjalan dengan banyak menenteng kresek di kedua tangannya, Yura tersenyum.
Winter menyimpan semua kresek yang isinya makanan berbeda-beda itu di atas meja.
"Woahhh ... banyak sekali ya." Yura dengan antusias membuka kreseknya satu persatu.
Kemudian ia menatap Winter yang sedang meneguk sebotol air. Pandangan Yura yang tadi melihat wajah Winter turun menatap jakun pria itu yang naik turun ketika minum. Yura menelan saliva nya susah payah.
"Makan Yura," ucap Winter memudarkan pandangan gadis itu menatap jakun suaminya.
"Eh iya hehe."
"Kau mau yang mana? pilih saja ..." Yura mendorong semua kreseknya ke depan Winter dengan menyengir.
Winter mengambil jagung bakar. Dan Yura pun ikut mengambil jagung.
Gadis itu memakan jagung dengan pandangan lurus menatap suaminya.
Makan jagung saja bisa elegan seperti itu. Makannya juga bersih tidak belepotan. Dia itu sebenarnya apa sih, manusia atau bukan. Kelihatannya sempurna sekali ... Musim dingin yang indah.
Winter berhenti mengunyah kemudian perlahan menatap bola mata Yura yang sedang memandanginya dengan tersenyum.
"Telan jagung nya, Yura."
"Hah? eh iya, hehe." Yura langsung menelan jagung di mulutnya, karena dari tadi ia menyimpan banyak jagung di mulutnya dengan terus tersenyum. Dan matanya tak berkedip sama sekali menatap suami pilihan Ayahnya itu.
Kali ini, Yura tidak menatap Winter. Melainkan sedang membayangkan dirinya main suap-suapan dengan pria itu. Yura tersenyum geli ketika membayangkan dirinya menyuapi suami dingin nya itu makanan dengan memanggil sayang.
"*Sayang aaaa ... buka mulutnya. Bagaimana enak kan?"
"Enak sayang," sahut Winter dengan tersenyum di imajinasi Yura.
"Mau mimi sayang ..." pinta Winter.
"Uluuuu ... sayangnya aku aus ya. Sini minum, sini minum."
Yura menyodorkan es buah kepada suaminya. Ia membantu Winter minum dengan manja*.
Kemudian Yura tertawa keras membayangkan bagaimana jika imajinasi nya tadi menjadi kenyataan. Hal itu membuat orang-orang yang duduk di sisi kanan dan kiri Yura menoleh heran dengan mengerutkan dahinya.
Winter berhenti mengunyah jagung ketika melihat Yura tertawa keras tanpa sebab. Apalagi sekarang Yura sedang menjadi bahan tontonan orang-orang.
"Yura ..." panggil Winter dengan nada rendah.
"Yura."
"Iya?" sahut Yura dengan tawa yang belum berhenti.
Kemudian Yura berhenti tertawa ketika Winter terus menatapnya tanpa berbicara apa-apa lagi.
"A-apa?" tanya Yura.
"Mba, buat orang lain kaget saja," ucap seseorang yang duduk di sisi kanan Yura.
Yura pun menoleh dan berubah menjadi gagu. "Hah? E-eh ... ma-maaf. A-aku pikir kalian tidak mendengarkan ku ..."
__ADS_1
Bersambung