Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#144 De Willson bingung dengan Winter


__ADS_3

Sesampainya di asrama. Maxime, Milan, Summer, Intan, Reagan, Alea, Winter dan Yura berdiri di depan sekolah Noah dan Kai. Mereka berdiri seraya bersandar di kap mobilnya masing-masing


Beberapa wartawan memotret mereka, penampilan keluarga De Willson yang elegan menunggu kedatangan Noah dan Kai akan jadi perbincangan hangat.


Reagan tampak ramah dengan tersenyum dan melambaikan tangan kepada para wartawan.


Noah dan Kai berjalan santai ke depan sekolah dengan Noah yang bersiul seraya memasukan tangan nya ke saku jaket. Padahal mereka sudah meminta keluarganya untuk masuk dan menunggu di dalam saja tapi malah mereka yang harus menghampiri keluarganya.


Kai menghentikan langkahnya di ikuti Noah. Ia menyipitkan matanya.


"Mom ..." gumam nya.


"MOMMM ..." teriak Kai berlari menghampiri Ibunya.


"DADDDD ..." Noah pun ikut berlari menghampiri Maxime.


Maxime berdecak, menunduk sambil menggaruk keningnya karena malu dengan wartawan. Ia pikir sikap dua anak kembarnya ini akan berubah setelah masuk asrama ternyata sama saja. Sikap mereka selalu seperti anak kecil.


"Bagaimana dengan nilaimu?" bisik Maxime kepada Noah yang tengah memeluknya.


Noah sontak melepas pelukannya. "Sabar, Dad. Belum lima menit bertemu sudah tanya nilai."


Setelah itu Noah memeluk Winter dan Kai memeluk Summer.


"Hai kak Yura ..." Noah mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan tapi Yura langsung memeluk pria itu.


"Selamat ya calon arsitek ..." ucap Yura.


Noah melepaskan pelukannya. "Terimakasih Kak Yura. Di perut isinya berapa kak?"


"Dua," sahut Winter.


"Wihh ... kembar? laki-laki dua-duanya atau?"


"Belum kelihatan jenis kelamin nya dong," sahut Yura.


"Oh gitu hehe ..."


"Hai bro ..." Kai menggendong Reagan. "Kau semakin jelek saja."


"Sembarangan kalau bicara!" pekik Summer.


"Hehehe bercanda, Kak."


"Alea makin gembul saja kak." Noah datang menghampiri Intan.

__ADS_1


"Iya nih, si bayi sering sekali lapar jadi makin gembul."


"Kita masuk dulu yuk," ajak Milan.


*


Mereka berkumpul di salah satu restaurant yang ada di dalam asrama.


"Winter kemana Yura?" tanya Milan.


"Dia di kamar mandi, Mom. Mual katanya."


"Loh mual kenapa?" tanya Intan.


"Tidak tau, akhir-akhir ini dia sering mual dan muntah dan jadi aneh ..."


"Tunggu, Winter sering muntah semenjak kau hamil Yura?" tanya Intan.


Yura mengangguk.


"Jangan-jangan, dia ngidam Yura ..." pekik Intan yang mendapat gelak tawa dari Noah.


"Hahahaha ... dia laki-laki, Kak. Masa ngidam," ucapnya seraya mengaduk-ngaduk minuman dengan sedotan.


"Bener loh, ada juga suami yang terlalu cinta sama istrinya malah dia yang ngidam. Ini bukan mitos, memang sering terjadi ..."


"Patut di pertanyakan. Mungkin Kak Summer bohong," pekik Kai yang mendapat decakan kesal dari Summer.


"Daddy juga dulu tidak ada ngidam," sambung Maxime.


*


Winter keluar dari kamar mandi dan melihat Reagan sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Dad ..." teriaknya.


"Kau kenapa di sini?" tanya Winter seraya mengelus kepala anak itu.


"Mau mam sama Dad ah," sahut Reagan membuat Winter tersenyum.


Kemudian Winter menggendong Reagan, ketika hendak menghampiri keluarganya, Winter tidak sengaja melihat Ikan sedang di potong oleh seorang chef.


Rasa kasihan itu kembali muncul, ia menatap nanar ikan tersebut.


"Napa, Dad?" tanya Reagan.

__ADS_1


"Kasihan ya ikan nya," ucap Winter.


Reagan pun menatap Ikan yang di lihat Winter lalu mengangguk setuju. "Iya, Dad. Aku kalau jadi ikan di potong juga ya, Dad. Huh, aku senang bukan Ikan. Kalau ikan nya Yula bagaimana, Dad? Yula nanti di potong-potong begini ..." tangan kecil Reagan memperagakan seolah-olah sedang memotong Ikan.


Kemudian mereka kembali berjalan menghampiri keluarganya. Sebelum duduk di samping Yura, Winter mengelus kepala istrinya itu sambil berkata.


"Aku beruntung kau bukan ikan, Yura ..."


Semua orang langsung menoleh heran ke arah Winter. Noah yang sedang makan Spageti sampai mendongak menatap Winter dengan beberapa spageti menggantung di mulutnya.


Summer dan Maxime saling menoleh bingung.


"Winter, kau baik-baik saja?" tanya Milan.


"Iya Mom."


"Kan, apa aku bilang," gumam Yura.


Mereka hanya terdiam selama menunggu makanan datang. Sesekali Winter yang jadi sorot mata mereka, Winter sedang bermain dengan Reagan.


Ketika pelayan datang untuk menghidangkan makanan, Milan di buat heran karena tadi ia pesan beberapa menu Ikan. Tapi tiba-tiba ikan nya tidak ada.


"Ikan nya mana ya? tadi saya pesan ikan," ucap Milan.


"Maaf, Nyonya. Bukannya di cancel ya ..."


"Cancel? tidak kok," sahut Milan.


"Tapi tadi Tuan ..." Pelayan itu menggantung kalimatnya menatap Winter.


Yura menoleh ke arah suaminya lalu menghembuskan nafas dengan menunduk sambil menggaruk keningnya. Winter lagi-lagi membuat ulah soal ikan.


"Winter ..." panggil Milan.


Winter menoleh. "Lebih baik kita tidak usah makan ikan, Mom. Mereka juga ingin hidup bebas di lautan ..."


"Iya, Glandma ..." pekik Reagan setuju dengan ucapan Winter. Anak itu duduk di pangkuan Winter.


Lagi-lagi mereka hanya bisa saling menoleh bingung dengan sikap Winter.


"Kak, kalau mau kasihan jangan sama ikan saja. Ada Ayam, sapi, kambing. Sekalian saja semua kak," pekik Kai sambil menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap kakaknya itu.


"Ini aku curiga anak Kak Winter sebenarnya Dugong," ucap Noah yang mendapat geplakan di kepalanya oleh Maxime.


"Hati-hati kalau bicara!!"

__ADS_1


"Sudahlah, kita ganti menu saja. Kita pesan ayam saja," ucap Summer untuk menengahi keributan di meja makan akibat Ikan.


Bersambung


__ADS_2