Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#114 kepulangan yang gagal (Flashback)


__ADS_3

Satu tahun kemudian Yura dengan bersemangat hendak kembali pulang ke indonesia untuk memberi kejutan kepada keluarganya dan suaminya, Winter.


Ia hanya merasa tubuhnya sudah membaik. Tes darah sudah kembali di lakukan, ia tinggal menunggu hasilnya keluar.


Tapi karena Yura dengan penuh percaya diri merasa dirinya sudah sehat, sekarang ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke bandara.


Yura dandan secantik mungkin untuk memberi kejutan kepada suaminya itu. Satu tahun melakukan banyak pengobatan dengan sabar, semoga hasilnya memuaskan.


Magma membuka pintu kamar. "Yakin pulang sekarang?"


Yura menoleh lalu menganggukan kepala dengan tersenyum.


"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Mommy."


Yura berjalan menghampiri kakaknya itu. "Yuk ..."


Dia mengenggam tangan kakaknya tapi ketika hendak berjalan kembali tiba-tiba ia merasa pusing kembali, tubuhnya lemas tiba-tiba. Yura menghela nafas panjang.


"Yura ..." Magma merasa ada yang tidak beres dengan adiknya.


Yura memijit keningnya. "Aku tidak apa-apa. Ayo ..."


Ketika hendak menarik tangan Magma, Magma menahannya.


"Kita pergi ke Rumah Sakit. Bukan ke bandara."


Sontak Yura menoleh dengan wajah kecewa. "A-apa?"


"Kau sepertinya belum pulih Yura. Kita harus menunggu hasil pemeriksaan Dokter."


"Tapi aku merasa baik-baik saja. Sudah lima bulan aku tidak merasakan apapun, aku merasa sehat."


"Tapi sekarang kau merasa pusing lagi Yura," cicit Magma.


Yura menggeleng. "Tidak, aku tidak pusing." Yura menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya walaupun ia tadi benar-benar merasa pusing tiba-tiba. Tapi ia tidak mau gagal pulang ke Indonesia.


Magma menghela nafas. Ia menarik tangan Yura secara paksa untuk pergi ke Rumah Sakit karena Dokter Jemi menelpon kalau hasil tes nya sudah keluar.

__ADS_1


"Tidak ... aku tidak mau. Aku mau pulang!!" Yura terus memukul-mukul lengan Magma agar di lepaskan tapi Magma mengenggam tangannya sangat erat.


Yura di masukan secara paksa ke mobil. Magma tahu memaksa adiknya seperti itu adalah cara yang salah tapi dia tidak bisa membiarkan Yura pulang tanpa sembuh dari penyakitnya karena itu akan sia-sia. Keluarganya akan tetap sedih bukan bahagia.


*


Di kamar salah satu pasien, Yura duduk di ranjang seraya menangis setelah mengetahui hasil pemeriksaan Dokter kalau leukimia nya belum sembuh total.


Satu tahun ia dengan sabar melakukan pengobatan, apapun makanan dan minuman yang tidak di bolehkan Dokter, Yura menurut untuk tidak memakannya. Semuanya ia lakukan demi bisa bertemu dengan keluarganya.


Tapi hasilnya malah seperti ini. Dia kecewa dengan banyaknya perjuangan yang ia lakukan agar sembuh tapi hasilnya nihil.


Magma membuka pintu kamar, berjalan mendekati adiknya dengan memegang ponsel di tangannya.


"Yura ..." panggilnya.


Yura menoleh dengan berlinang air mata. Magma mengusap air mata Yura dengan kedua ibu jarinya.


"Intan sudah melahirkan."


Yura sontak berhenti menangis. "A-apa? Itu artinya ... Summer sudah jadi Ayah?" tanya Yura sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya.


Yura kemudian berdecak. "Aku tidak bisa melihat bayi nya ..." Yura menunduk sambil mengayunkan kakinya yang tergantung di atas ranjang.


"Kata siapa. Kau bisa ..."


Yura kembali mendongak. "Kau punya fotonya?"


"Tentu saja. Kau juga bisa mendengar percakapan mereka ..."


Magma memberikan ponselnya kepada Yura. Ia memutar rekaman cctv ketika keluarga De Willson berkumpul bahagia menyambut kelahiran Reagan.


Yura menatap lekat keluarga De Wilson yang ia rindukan. Senyum perlahan mengembang di wajahnya, tapi hatinya merasakan kesedihan karena tidak bisa merasakan kebahagiaan atas lahirnya bayi Intan dan Summer.


"Mereka bahagia sekali ..." gumam Yura. "Sedih sekali aku tidak ada di sana ..."


Di video itu pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok pria yang sangat Yura rindukan. Winter, dia bisa melihat video Winter.

__ADS_1


Di rekaman cctv itu Summer berjalan menghampiri kembarannya lalu memeluk Winter.


"Hai uncle ..."


"Selamat ..." ucap Winter.


"Dia laki-laki," ucap Summer.


"Kembar?"


"Tidak, hanya satu, huh. Padahal Intan ingin kembar tiga."


"Heh, aku tidak bilang apapun!" pekik Intan membuat semua orang tertawa.


Hal itu membuat senyum merekah di wajah Yura. Tawa keluarga De Willson yang terlihat begitu bahagia.


Satu hal yang bisa Yura lihat, sebahagia apapun keluarga De Willson, suaminya terlihat masih murung di rekaman cctv tersebut.


Yura merasa dari banyaknya orang yang sedih dengan dirinya yang di anggap meninggal, mungkin hanya Winter yang akan terus merasa terpuruk sepanjang hidupnya.


Semangatnya kembali muncul, walaupun hasil hari ini mengecewakan karena belum sembuh total ia akan melakukan pengobatan lebih semangat dan lebih baik lagi demi suaminya.


Yura melihat Winter menggendong Reagan. Ia tersenyum, ia mengingat keinginan dirinya dan Winter yang menginginkan seorang anak.


"Kita akan punya anak," gumam Yura menatap wajah suaminya yang menggendong Reagan.


"Kau pasti bisa jadi Ibu," ucap Magma seraya mengelus puncak kepala gadis itu.


Tapi ada kalimat yang keluar dari mulut Julian yang membuat kemarahan menjalar di tubuh Yura.


"Kalau begitu, istrimu istri Tuan Winter juga, Bos!"


Kalimat itu membuat kemarahan naik ke puncak kepala gadis itu. Sampai ia berkata.


"Aku ingin menghukum Julian karena ucapannya itu!"


Ia tidak suka dan tidak terima dengan ucapan Julian. Enak saja Intan jadi istri Winter, walaupun wajah Summer dan Winter sama tetap saja mereka berbeda.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2