
Intan menyimpan setiap buket bunga di setiap meja. Di bantu oleh Yura dan Julian, sesekali ekor mata Intan menatap wajah istri teman TK nya dulu, Winter.
Cantik dan baik. Itu yang Intan simpulkan ketika melihat Yura, cara bicaranya juga sangat ramah dan penampilannya terkesan elegan.
"Sisanya nanti sore saja ya," ucap Yura kepada Intan.
"Baik, Nyonya ..."
Yura kembali menata buket bunga dan juga coklat di meja karyawan bersama Julian dan Intan.
Sementara itu di sebuah ruangan Winter sedang melakukan video call di laptop nya bersama Dokter Jemi dan Dokter Leon.
"Perkembangannya mungkin cukup baik sekarang, donor sumsum tulang belakang itu cara terakhir menyelamatkan Yura jika dia dalam keadaan kritis. Dia tidak membutuhkannya sekarang, karena mungkin sumsum tulang belakang miliknya juga tidak rusak dan masih bisa menghasilkan sel darah." Dokter Jemi menjelaskan.
"Tapi dari sekarang, kita harus menyiapkan seseorang yang mau mendonorkan sumsum tulang untuk Yura. Harus yang cocok, karena darahmu saja tidak cocok dengan Yura saya sedikit ragu Tuan kalau sumsum tulang belakangmu cocok untuk istrimu," sambung Dokter Leon.
"Biasanya dari bagian keluarga yang cocok," ucap Dokter Jemi menambahkan.
"Tapi semoga saja Nona Yura bisa sembuh tanpa butuh donor sumsum tulang," pekik Dokter Leon kemudian
Winter mengangguk. "Aku akan coba cari seseorang yang mau mendonorkan sumsum tulangnya untuk Yura."
Kemudian panggilan videocall pun di matikan. Winter menghela nafas, menyenderkan kepalanya di kursi seraya menengadah memejamkan mata dengan pikiran yang kalut.
*
Satu jam kemudian Magma datang ke perusahaan De Willson, ia masuk ke ruangan Winter, menarik kursi dan duduk di hadapan pria itu.
"De Willson membuka toko bunga?" tanya Magma karena melihat banyak sekali bunga warna-warni di lantai bawah dan di meja karyawan.
Bukannya menjawab, Winter malah berbicara langsung ke intinya tanpa basa-basi.
"Donorkan sumsum tulang belakangmu untuk Yura."
__ADS_1
Magma mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
Akhirnya Winter pun menjelaskan semuanya kepada Magma, ia berharap Magma mau mengetes kecocokan sumsum tulang belakangnya untuk Yura jika hal darurat terjadi kepada gadis itu. Walaupun harapan Winter pastilah istrinya sembuh dengan kemoterapi dan obat-obatan saja.
Magma terdiam, memainkan jari-jemarinya di atas meja.
"Kalau kau tidak cocok, kita cari yang lain," ucap Winter.
Magma menoleh dan menganggukan kepala membuat Winter merasa lega.
Kemudian pintu terbuka, Yura masuk dengan membawa satu buket bunga mawar.
"Loh, kau di sini," ucapnya kepada Magma.
"Kau mau mengubah perusahaan suamimu menjadi toko bunga?"
"Kalau bisa, kenapa tidak. Winter juga pasti setuju," sahut Yura kemudian menjulurkan lidahnya kepada Magma.
Gadis itu pun duduk di samping suaminya dengan menyimpan buket bunga di meja.
"Aku bisa membelinya, tidak membawa bunga milikmu!"
"Huh, menyebalkan!" gerutu Yura.
Magma beranjak dari duduknya. "Aku pulang dulu."
Setelah kepergian Magma, Yura pun berbisik kepada Winter. "Kalau kita punya anak laki-laki, jauhkan dia dari Magma, dia pria yang suka tidur dengan banyak wanita."
Winter ikut berbisik. "Kalau begitu sembuhlah, agar aku tidak pakai pengaman lagi."
"A-aku membahas anak bukan cara membuatnya," gumamnya pelan membuat Winter terkekeh lalu mengusap lembut kepala Yura.
*
__ADS_1
Ketika mereka hendak pulang ke mansion, mereka bertemu dengan Intan yang sedang duduk di mobil pick up sambil menyeruput sebotol air.
"Kau belum pulang?" tanya Yura menghampiri Intan.
"Eh, Nyonya ..." Intan mengusap bibirnya dengan punggung tangan seraya tersenyum canggung karena ada Winter di samping Yura.
"Saya mau antar pesanan lagi ke beberapa tempat. Lagi istirahat dulu, numpang istirahat di sini ya."
"Loh, kenapa tidak di dalam saja, aku pikir tadi kau langsung pulang. Kau mau antar bunga ini kemana?" tanya Yura melihat ada empat buket bunga yang cukup besar ukurannya.
"Ada pesanan dari seseorang, tidak terlalu jauh dari sini rumahnya, Nyonya ..."
"Oh ..." Yura mengangguk-ngangguk. "Boleh tidak aku ikut?"
"Yura ..." Winter langsung menatap dingin istrinya.
Naik mobil pick up panas-panasan, Winter takut Yura malah kembali pusing.
"Ayo dong sebentar saja ..." Yura memelas dengan memegang lengan Winter. "Intan bilang tidak terlalu jauh dari sini."
Romantis sekali mereka ini. Dia terlihat manja dengan Winter.
"Tapi--"
"Plisss ..." Yura memajukan bibirnya memohon yang akhirnya hal itu membuat Winter luluh. Senyum pun langsung merekah di wajah gadis itu.
"Hehehe terimakasih, Winter. Yuk naik."
Winter membantu Yura naik ke mobil pick up. Mereka bertiga duduk dibelakang sama-sama. Di perjalanan Yura tampak bahagia, tak perduli dengan panas atau rambutnya yang kusut karena angin. Ini mungkin kali pertama Yura naik mobil pick up.
Intan tersenyum tipis melihat sepanjang jalan Winter memeluk gadis itu karena takut Yura masuk angin, walaupun rasanya tidak mungkin karena cuaca cukup panas.
Mata Winter dan iris mata Intan saling bertemu dan bertatapan seperkian detik. Winter yang menatapnya datar, dingin dan menusuk sementara Intan yang menatap bola mata Winter dengan mengingat masa kecil mereka saat Tk.
__ADS_1
Sampai akhirnya Winter mengalihkan pandangannya kembali menatap istrinya dengan menghalangi wajah Yura dari cahaya matahari yang menyorot wajah cantiknya.
Bersambung