
Winter dan Yura kembali di undang ke acara makan malam di keluarga Maxime De Willson. Hari itu mereka datang paling terakhir, tapi sekarang mereka datang lebih awal.
"Menantu Mommy sudah datang ..." Milan berjalan memeluk Yura dengan wajah sumringah.
"Apa kabar mom?"
"Mommy baik sayang. Kau apa kabar?" tanya Milan setelah melepas pelukannya.
"Baik juga Mom ..."
"Eh, sudah isi belum?" bisik Milan yang masih terdengar oleh Winter di samping Yura.
"Eum ..." Yura menatap Winter untuk meminta bantuan bagaimana cara menjawab pertanyaan Ibunya ini.
Milan menatap bergantian putra dan menantunya itu. "Sudah? atau belum?"
"Belum," Sahut Winter. "Sudah, jangan tanya itu Mom." Winter menarik tangan Yura untuk duduk meninggalkan Milan yang hanya bisa menghela nafas.
"Biasanya bibit keluarga De Willson berkualitas semua, kok yang ini belum tumbuh juga ya," gumam Milan.
Seraya menunggu yang lain, Winter dan Yura duduk di sofa, Maxime menghampiri putra pertamanya itu. Dan duduk di samping Winter.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Dimana Summer?" tanya Winter.
"Masih di kantor," sahut Maxime.
Selama Summer belum kembali lagi ke Italy, pria itu juga berada di salah satu perusahaan De Willson, tapi bukan di kantor pusat karena hanya Winter yang memegang perusahaan utama itu.
"Yura bagaimana kabarmu?" Maxime memiringkan kepalanya menatap Yura yang duduk di samping kanan Winter.
"Aku baik Daddy," sahut Yura dengan tersenyum.
"Sepertinya kau kurusan Yura ..."
"Sedang ngidam atau bagaimana?" tanya Maxime kepada Winter. Yura hanya memalingkan wajahnya seraya mengigit bibir bawahnya karena tak bisa menjawab ucapan mertuanya itu.
__ADS_1
"Tidak Dad, Yura sedang diet."
"Waktu makan malam pertama kau sudah kurus Yura, kenapa diet lagi?" tanya Sky yang berjalan di bantu Milan menuju sofa.
"Biasanya perempuan seperti itu, sudah kurus tapi masih merasa gendut," sambung Javier lalu duduk di depan Winter.
"Kau juga dulu seperti itu," pekik Javier kepada Sky yang kini duduk di sampingnya.
"Hehe iya grandpa, kadang aku masih merasa gendut," sahut Yura.
Winter memegang tangan Yura dan mengelusnya, ia mengerti bagaimana perasaan Yura ketika orang-orang memperhatikan tubuhnya yang memang lebih kurus. Mungkin karena penyakit leukimia nya. Yura menoleh dan tersenyum kepada Winter.
*
Makan malam mereka lengkap seperti biasanya, hanya tidak ada Benjamin dan Bayuni malam ini.
Yura duduk di samping Winter dan di depannya ada Summer dan juga Julian. Summer terus menatap Yura yang sedang makan sup jagung, pria itu sampai melupakan makanannya sendiri.
Winter yang melihat adiknya tak henti menatap Yura langsung mengenggam tangan gadis itu, seakan hal itu seperti sebuah peringatan untuk Summer kalau Yura miliknya.
Summer menatap Winter, begitu pula dengan Yura. Winter hanya menatap istrinya dan tersenyum tipis yang di balas senyuman dari Yura.
Mereka yang ada di meja makan pun kini menatap Winter dan Yura, tersenyum ketika melihat Winter menggenggam tangan Yura.
Karena ketika makan malam pertama Winter dan Yura tidak seromantis sekarang, bahkan Winter lebih banyak berbicara dengan Javier dan Maxime hari itu.
"Sepertinya perjodohanmu berhasil," ucap Arsen kepada Maxime. Maxime tersenyum seraya menganggukan kepala.
"Butuh kipas Tuan?"Julian berbisik kepada Summer dengan menahan tawa nya.
Summer berdecak. "Diam kau!"
"Hehe panas ya, duh panas sekali di sini."
"Aku potong mulutmu kalau masih bicara!" geram Summer mendelik kepada Julian. Julian hanya cekikikan pelan.
"Yura ..." panggil Summer kini.
Bukan hanya Yura yang menoleh tapi juga Winter.
__ADS_1
"Ya?"
"Kau baik-baik saja? hari itu kau mengigil."
"Aku baik-baik saja Summer, mungkin karena kelelahan saja waktu di pantai," sahut Yura.
"Ah iya, maafkan aku ya. Kita terlalu bersenang-senang sampai lupa waktu dan membuatmu kedinginan," sahut Summer seraya menatap bola mata Winter yang juga tengah menatapnya dingin dan menusuk.
"Tidak apa-apa Summer."
"Summer makan, kenapa kau malah diam," ucap Milan yang melihat piring Summer masih penuh.
"Dia sudah makan Nyonya," sahut Julian.
"Makan apa?" tanya Miwa.
"Makan ati," sahut Julian lalu kembali cekikikan.
"Ati apa?" Milan mengerutkan dahinya tidak mengerti. Summer langsung menyikut lengan Julian seraya mendesis kesal dan melayangkan tatapan tajam kepada sekretarisnya itu. Julian langsung kikuk seketika.
"Sudah mom, jangan dengarkan dia!" Summer mengambil sendok dan garpuh lalu menyantap makanan miliknya dengan sesekali menatap dingin Winter.
Yura mengambil udang asam manis kesukaannya. Ketika hendak membuka kulit udang, Winter menarik pinggiran kursi Yura agar lebih dekat dengannya.
"Eh ..." Yura yang kaget menatap Winter.
Winter mengambil tissue, mengelap jari Yura yang terkena saus udang lalu Winter mengambil piring berisi udang itu ke hadapannya, ia membuka kulit udang itu dan menyuapi Yura di depan semua orang.
"Jangan begitu, aku malu," bisik Yura ketika yang lain tengah memperhatikan dirinya dan Winter.
"Tidak apa-apa, makanlah nanti tanganmu kotor," sahut Winter.
Yura pun akhirnya makan udang itu dari tangan Winter. Summer hanya diam menatap mereka berdua.
Julian pun bernyanyi dengan mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Panas ... panas ... panas ... badan ini pusing ... pusing ... pusing ....kepala ini ..."
Bersambung
__ADS_1