
Setelah bertemu dengan Bella, Yura bergegas pergi ke yayasan amal. Ia berdiri di depan gedung yayasan yang cukup besar, memandangi bangunan yang sangat tinggi itu.
"Ini yang buat pasti orang kaya, besar sekali bangunannya," gumam Yura.
Kemudian Yura menghela nafas panjang. "Oke, kali ini aku tidak boleh kabur lagi. Pokoknya aku harus memastikan kalau aku baik-baik saja."
"Semangat Yura!" Yura mengepalkan tangannya di udara memberi semangat untuk dirinya sendiri kemudian berjalan masuk ke gedung. Walaupun sedikit gugup ia harus bisa melewati ini semua.
Ketika masuk ia langsung menghampiri tempat pendaftaran.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu ..." sapa seorang perempuan dengan ramah.
"Siang hehe. Eum, saya mau daftar di yayasan ini. S-saya ... mau cek kesehatan," ucap Yura sedikit gugup.
"Baik, identitasnya di isi dulu ya." Perempuan itu menyodorkan kertas ke depan Yura.
Yura membaca kertas tersebut. "Apa saya harus isi dengan identitas asli?" tanya Yura.
Ia khawatir jika memakai identitas asli, Winter atau daddy nya tahu.
"Yang itu pakai identitas asli ya, Nona. Tapi nanti anda di kasih lagi kertas dari dokter, boleh di isi dengan identitas yang lain."
"Kenapa ini harus pakai identitas asli?" tanya Yura.
"Itu untuk bentuk tanggung jawab, Nona. Banyak orang yang datang ke yayasan untuk meminjam modal usaha, padahal uangnya di pakai untuk membeli narkotika. Dengan adanya identitas asli, kami mudah melacaknya."
"Oh begitu, oke deh."
Yura pun mengisi kertas tersebut dengan identitas aslinya. Kemudian setelah selesai ia di antar oleh perempuan yang lain ke ruang tunggu.
Pelayanannya bagus sekali, mereka semua ramah.
Yura menunggu giliran dengan yang lain, sesekali ia mendengarkan perbincangan orang-orang tentang yayasan ini.
"Padahal belum satu bulan, tapi yayasan ini sudah mendunia saja ya, banyak sekali orang yang tau dengan yayasan ini."
"Tapi tidak ada yang tau pemiliknya siapa."
"Pemiliknya pasti kaya raya ya."
"Mereka benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik. Dokter di sini juga bukan sembarang Dokter, Dokternya sudah sangat profesional."
"Bulan kemarin aku meminjam modal usaha ke sini dan usahaku berjalan lancar sekarang. Ah, seandainya aku tau siapa pemilik yayasan ini , aku ingin mencium kakinya. Berkat dia anak-anakku tidak pernah kelaparan lagi, dia lebih baik dari presiden di Negara kita."
"Iya, aku setuju denganmu."
Kenapa aku juga jadi penasaran ya dengan pemilik yayasan ini.
"Ayura Aletta ..." panggi Dokter di ruangan.
Yura menghela nafas panjang, menelan Salivanya susah payah. Dengan kaki gemetar, ia memaksakan diri masuk ke ruangan Dokter tersebut.
Yura mendorong pintu ruangan, membungkukan badan kepada Dokter lalu menutup pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Silahkan duduk ..."
Yura duduk di depan Dokter tersebut.
"Saya Dokter Leon. Di isi dulu kertas ini ya."
Yura mengangguk. Ketika ia hendak menulis namanya sendiri. Yura ingat, perempuan di depan tadi bilang boleh memakai identitas yang lain. Alhasil Yura menulis nama Sunshine, nama account instagramnya.
"Ini Dokter ..." Yura mendorong kertas tersebut.
Dokter Leon mengambil dan membaca kertas tersebut.
"Nona Sunshine ..." Dokter Leon menyimpan kertasnya kembali di meja.
"Jangan tegang, santai saja ya," ucap Dokter Leon tersenyum kepada Yura yang terlihat tegang.
"I-iya Dokter." Jantung Yura sebenarnya memburu akibat rasa panik yang menjalar ke tubuhnya.
Dokter Leon melihat tekanan darah Yura terlebih dahulu.
"Tekanan darahmu rendah, sering pusing?" tanya Dokter Leon seraya membereskan alat tensi nya.
"Iya Dok. Sering lemas tiba-tiba, kadang mual dan sering mimisan. Tapi terkadang saya terlihat baik-baik saja, Dok. Seperti sekarang, saya merasa sehat."
"Apa ada demam dan mengigil?"
Yura mengangguk.
"P-pakai suntikan?" tanya Yura terbata.
"Ya jelaslah, ambil darahnya pakai suntikan dong."
Yura menghela nafas berat kemudian terpaksa mengangguk. Karena ini jalan satu-satunya untuk mengetahui gejala yang sering di alami Yura.
Dokter Leon memakai sarung tangan karet, mengambil suntikan dan kapas alcohol lalu menarik kursi untuk duduk di dekat Yura.
Yura perlahan membalikkan badan agar duduk berhadapan dengan Dokter Leon. Yura memalingkan wajah ketika melihat suntikan di tangan Dokter Leon.
"Sakit sedikit kok."
Dokter Leon mengikat lengan Yura dekat siku untuk memperlambat aliran darah. Yura menghela nafas terus-menerus dengan wajah yang berubah menjadi pucat.
Kemudian Dokter Leon mengusapkan kapas alcohol dan menusukkan jarum suntikannya untuk mendapatkan sampel darah Yura.
Yura menahan nafas sekuat tenaga ketika jarum itu masuk ke lengannya.
"Sudah selesai ..." ucap Dokter Leon menutup kembali suntikan yang sudah terisi sampel darah Yura.
Dan saat itu pula Yura bisa menghembuskan nafas lega dengan keringat membasahi wajahnya.
"Nanti saya kabari kalau sudah ada hasilnya ya, Nona Sunshine ..."
"Ya, Dok. Terimakasih." Yura tersenyum.
__ADS_1
*
Yura berjalan keluar dari yayasan dengan menjilat ice cream yang ia dapatkan dari yayasan tadi. Ada anak kecil menangis dan pelayan di sana memberikannya ice cream, karena Yura mau akhirnya gadis itu meminta ice cream juga ke pelayan tersebut.
Yura duduk di halte menunggu bis dengan terus menjilat ice creamnya. Ia hanya ingin pulang ke mansion naik bis dari pada taxi sekarang.
"Jatuh lagi?" tanya seseorang bersandar di tihang halte dengan tangan bersedekap dada.
Yura menoleh. "Magma ..." ucapnya.
Magma menarik ujung bibirnya tersenyum, pertama kali bertemu dengan Yura. Gadis itu jatuh sampai lututnya terluka, sekarang Magma sudah melihat dua plester. Di kening dan tangan kanan Yura.
Magma berdecak dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Ceroboh ..."
"Jatuh itu musibah tau," sahut Yura.
"Dan kau yang membuat musibah itu terjadi karena tidak hati-hati," ucap Magma lalu duduk di samping Yura.
"Lagipula lukaku ini luka kecil."
"Walaupun kecil tapi kau menangis kan?"
"Dih, tidak aku tidak menangis."
"Matamu tidak bisa bohong."
Yura langsung memalingkan wajahnya ke arah lain membuat Magma terkekeh.
"Kau percaya tidak kalau kucing itu suka ice cream?" tanya Magma menunjuk kucing yang sedang mengeong di dekat mereka.
Yura menoleh ke arah kucing itu kemudian menatap Magma. "Tidak lah, mana ada kucing suka ice cream."
"Tidak percaya?"
Yura menggeleng.
"Lihat ini."
Magma mengambil ice cream di tangan Yura dan melemparnya ke kaki kucing itu.
"Ehhh ice creamku!!"
"Kau--" Yura terlihat kesal tapi Magma justru malah tersenyum dan beranjak dari duduknya meninggalkan Yura dengan bersiul santai dan tangan bersedekap dada.
"Magma menyebalkan!" teriak Yura.
Magma berbalik sejenak melempar senyumannya lalu kembali berjalan meninggalkan Yura dengan kekesalannya.
"Ice creamku ..." Yura menatap ice cream nya dengan mata memelas.
Kucing itu benar-benar menjilati ice cream miliknya.
Bersambung
__ADS_1