Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#87 Hampir di lecehkan


__ADS_3

Winter dan Yura duduk di mobil pick up menunggu Intan mengantar buket bunga ke rumah pelanggan, karena rumahnya masuk gang kecil alhasil mobil hanya bisa menunggu di luar.


"Winter ..."


"Hm?"


"Kau tidak takut kalau ada artikel muncul pemimpin De Willson group naik mobil pick up?"


"Kenapa takut?" Winter balik bertanya sambil memeluk istrinya.


"Takut di tertawakan."


"Tidak perduli," sahut Winter datar. "Keringetan ..." Winter mengusap pelipis Yura dengan tangan nya, cuaca cukup panas dan harus naik mobil pick up membuat Yura benar-benar serasa di goreng.


"Tidak pusing?" tanya Winter yang di jawab gelenggan dari Yura.


"Intan hebat ya, panas-panas begini mau bantu orang tuanya. Dia perempuan yang mandiri, dulu aku mana bisa seperti Intan, kalau panas saja di sekap di mansion, katanya takut kulitku hitam," ucap Yura membuat suaminya terkekeh.


"Mommy Bayuni terlalu menyayangimu ..."


Yura mengangguk mengiyakan.


Sampai di rasa lima belas menit berlalu, Intan belum juga kembali padahal tadi perempuan itu bilang jika rumah pelanggan tidak terlalu jauh.


Alhasil Winter dan Yura turun dari mobil pick up untuk mencari Intan. Mereka berjalan menelusuri gang kecil, menatap satu persatu rumah di sana hanya untuk mencari sendal Intan.


"Tidak ada Winter."


Dengan menggenggam tangan istrinya Winter bertanya kepada salah satu pria yang sedang merokok di warung kecil.


"Tuan De Willson ..." Pria yang semua duduk itu berdiri menatap kedatangan Winter.


"Apa kau melihat seorang perempuan yang membawa buket bunga ke sini?" tanya Winter.


"Oh, perempuan tadi ... dia ke rumah yang di ujung, cat rumahnya berwarna hijau."

__ADS_1


Winter mengangguk.


"Terimakasih," ucap Yura dengan ramah dan di jawab anggukan dengan tersenyum dari pria tersebut.


Mereka pun berjalan kembali menuju rumah yang di maksud pria tadi.


"Rumahnya sepi ..." ucap Yura ketika mereka sampai di depan rumah itu.


Winter pun menarik tangan istrinya dan hendak mengetuk pintu. Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara jeritan seseorang dari dalam sana.


Sontak Winter memainkan knop pintu yang terkunci dan Yura berteriak memanggil Intan.


Winter berusaha untuk mendobrak pintu rumah itu.


"INTAN ... KAU DI DALAM!" Teriak Yura dengan panik.


"TOLONG ..."


Suara jeritan Intan yang meminta tolong membuat jantung Yura berdegup kencang. Terdengar suara isak tangis.


BRAKH


Winter langsung menarik kerah belakang pria itu dan membantingnya ke lantai lalu menginjak perutnya. Yura berlari menghampiri Intan yang menangis tersedu-sedu.


"A-aakkh ..." pria tua itu memekik kesakitan ia memegang kaki Winter berusaha menjauhkan kaki pria itu dari perutnya tapi yang terjadi malah Winter menginjak keras wajah pria tua tersebut sampai tak sadarkan diri.


"Intan kau baik-baik saja ..." Yura meraup wajah Intan yang menangis.


Intan menggeleng pelan dengan pakaian yang sedikit robek, pria itu hampir berhasil m*nelanjangi Intan.


"Sudah, tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang ..."


Intan mengangguk. Mereka keluar dari rumah tersebut kembali menaiki mobil pick up dengan Yura memeluk Intan dan Winter yang duduk di samping istrinya. Pandangan Intan terlihat kosong mungkin karena trauma hampir di lecehkan.


*

__ADS_1


Sesampainya di toko bunga sekaligus rumah Intan. Terlihat Summer sedang duduk di kursi bersama Julian, mereka baru saja mengunjungi makam kakek buyutnya dan memesan kopi sebentar di toko bunga milik keluarga Intan. Summer tidak tahu kalau toko itu milik keluarga Intan.


"Bos, Tuan musim dingin dan Yura," tunjuk Julian dengan dagunya.


Summer menoleh dan melihat Winter sedang membantu Intan turun dari mobil pick up.


"Intan ..." teriak sang Ayah berlari menghampiri putrinya.


"Intan darimana saja kau ini!" Ia memperhatikan putrinya yang penampilannya terlihat berantakan.


"K-kau kenapa?"


Bukan menjawab, Intan memeluk Ayahnya dengan menangis. Ayahnya yang tidak mengerti hanya menatap bergantian Winter dan Yura dengan memeluk putrinya.


Summer dan Julian saling menoleh penuh tanda tanya.


"Kita jelaskan di dalam saja ya," ucap Yura yang di jawab anggukan dari Ayah Intan.


"Ada apa ya bos, kenapa Tuan Winter dan Yura bisa bersama Intan."


"Intan?" Summer menaikan satu alisnya.


"Ya, Bos. Namanya Intan."


Mereka masuk ke dalam toko melewati Summer dan Julian yang sedang duduk santai di kursi, Yura sempat tersenyum tipis kepada Summer dan Winter berjalan seolah tidak ada kembaran nya di sana.


Ketika di dalam toko Yura menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Summer dan Julian yang menguping di luar.


"Astaga Bos ... dia hampir di lec*hkan!"


Summer beranjak dari duduknya masuk ke dalam toko dengan kepalan tangan. "Kita lapor polisi."


Semua orang langsung menoleh menatap Summer yang tiba-tiba datang dengan Intan yang terdiam dengan pandangan kosong di pelukan Ibunya.


"Sudah," sahut Winter.

__ADS_1


Julian pun bergumam. "Coba saja kalau si dua musim itu mafia seperti Ayah dan Kakeknya, tidak akan lapor polisi paling langsung di bunuh."


Bersambung


__ADS_2