Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#75 Benci Lautan


__ADS_3

Yura duduk di ranjang dengan mengatur nafasnya, kemudian Winter keluar dari kamar mandi, ia menghampiri istrinya mengelus kepala Yura dan memberikan kecupan di puncak kepala gadis itu.


"Yura kenapa?" tanya Winter ketika tersadar wajah Yura pucat.


Yura mendongak. "Dimana Mama ku ..."


Winter menautkan kedua alisnya tidak mengerti. "Mama?"


"Ya ..." Yura berdiri menatap Winter. "Dimana mama ku, Winter?"


"Yura, apa maksudmu?"


"Mama ku, aku ingat Mama ku bukan Mommy Bayuni, dia bukan Mama ku Winter, dimana Mama ku, tolong jawab ..." matanya yang sedari tadi berkaca-kaca akhirnya menangis.


Winter langsung menarik tubuh Yura ke pelukannya, Yura terus memberontak seraya menangis karena pertanyaannya belum di jawab Winter.


"Tolong jawab, dimana Mama ku Winter, katakan dimana, aku sudah sebesar ini dimana mama ku, kenapa aku tidak ingat apapun soal kepergian Mama, apa Mama ku menikah dengan pria lain dan meninggalkanku ..."


Winter memejamkan mata dengan perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Yura sedikit mengingat soal masa lalunya dan Winter khawatir akan hal itu.


"Winter ..." lirih Yura dengan menangis tersedu-sedu.


*


Benjamin dan Bayuni berada di mansion Winter setelah pria itu menelpon mereka dan memberitahu soal Yura yang sedikit mengingat masa lalunya.


Bayuni seakan tidak bisa bernafas dengan baik mendengar hal itu. Ia duduk menunggu Winter dan Yura di ruang tamu dengan perasaan gelisah, Bayuni terus mengenggam tangan suaminya.


"Bagaimana ini ... aku tidak mau kehilangan Yura."


"Kita tidak mungkin kehilangan Yura, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kita sayang, tenang lah ..." sahut Benjamin.


Bayuni berdecak dengan terus memainkan kakinya gelisah menatap atap tangga. Winter menuruni anak tangga dengan merangkul istrinya yang terlihat sedikit pucat, mata sembab dan tatapan kosong.


Mereka duduk di depan Bayuni dan Benjamin.

__ADS_1


"Yura ..." Bayuni langsung beranjak dan duduk di samping Yura.


"Yura ini Mommy ..."


Perlahan Yura menoleh ke arah Bayuni lalu menggelengkan kepala dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Bukan, kau bukan Ibuku ..."


Bayuni ternganga dengan jawaban Yura. Hatinya seakan terasa sakit dengan ucapan gadis itu.


"Yura ..." Bayuni menggenggam tangan Yura tapi kemudian Yura menepisnya.


"Dimana Mama-ku?" lirihnya.


"Mommy ... mommy ini Mama mu, Yura ..."


Sekali lagi, Yura menggelengkan kepala. "Bukan ..."


"Sayang tenanglah dulu ..." Benjamin memegang pundak istrinya. Bayuni segera menepisnya.


"Aku bukan Yura. Aku Aletta ..."


Hal itu membuat Bayuni dan Benjamin benar-benar shock. Mereka pikir Yura hanya ingat dengan Ibunya saja, tapi ternyata ia juga ingat dengan dirinya sendiri.


"Kau Yura anak Mommy Bayuni ... sadarlah Yura ..." Bayuni meraup wajah gadis itu dengan tangis yang semakin menjadi.


"Aku Aletta anak Mommy Ayura." Yura menepis tangan Bayuni dari wajahnya.


"Sudah, cukup. Kita bicara baik-baik," ucap Benjamin.


Benjamin menarik Bayuni untuk duduk di sofa yang lain. Winter menggenggam tangan istrinya.


Benjamin menceritakan semuanya kepada Yura. Tentang awal pertemuan Benjamin dengan Ayura yang dulu hanya sebatas meminjam rahim perempuan itu, tentang Ayura yang akhirnya enggan melepaskan bayinya setelah melahirkan dan tentang mereka yang membawa Aletta pulang dari Rumah Sakit setelah kehilangan ingatannya dan mengganti nama Aletta menjadi Yura.


Yura menangis sejadi-jadinya di pelukan Winter. Tak kuasa mendengar cerita yang sebenarnya dari Benjamin.

__ADS_1


"Aku tetap Daddy-mu Yura. Walaupun Mommy Bayuni bukan Ibu kandungmu ... sama seperti kakakmu Magma, kalian saudara walaupun bukan anak Mommy Bayuni ..."


"Dad tidak tahu, kenapa Ibumu membawamu ke sini dari Italy. Apa kau ingat alasannya?"


Yura menggelengkan kepala membuat Benjamin dan Bayuni menghembuskan nafas. Bayuni juga ikut menangis di tenangkan oleh Benjamin.


*


Setelah kepulangan Bayuni dan Benjamin dari mansion, Yura hanya duduk di sofa dengan pandangan kosong.


"Minum dulu ..." Winter memberikan segelas air kepada Yura.


Yura mengambilnya dan meminumnya sedikit lalu memberikannya lagi kepada Winter. Winter menyimpan gelasnya di meja.


Pria itu menarik istrinya masuk ke pelukannya, air mata kembali membasahi wajah gadis itu ketika mengingat ucapan Benjamin sebelum pulang.


Sampai detik ini, jenazah Ibumu masih belum di temukan. Mungkin terseret ombak laut. Jenazahnya pasti sudah tidak ada Yura.


Padahal Yura berharap ada makam Ibunya agar Yura bisa melepas rindu kepada Ibunya.


"Aku mau ke pantai," ucap Yura dengan lemah.


Winter pun mengangguk. Mereka langsung pergi ke pantai setelah Winter memakaikan jaket tebal untuk istrinya.


*


Hembusan angin menerpa wajah cantik gadis itu. Yura menatap lautan dengan perasaan hampa dengan Winter di sampingnya.


"Aku mengerti sekarang, kenapa setiap ke pantai selalu ada perasaan bahagia, sedih dan takut. Ternyata dari kecil aku hidup dekat pantai, Mama meninggal karena di ambil ombak dan aku selalu takut dengan ombak besar yang membawa Mama pergi ..." Gumam Yura kemudian tangisnya lagi-lagi pecah begitu saja.


Yura berteriak histeris. "LAUT KAU BOLEH AMBIL IBUKU ... TAPI KEMBALIKAN TUBUHNYA KEPADAKU ... AKU INGIN MENGUBURKANNYA DENGAN LAYAK."


"Yura ..." Winter langsung memeluk istrinya yang menangis histeris membuat Winter berkaca-kaca.


"Aku mau Ibuku di kuburkan dengan layak Winter ... aku benci lautan ..." lirih Yura.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2