
Benjamin keluar dari perusahaannya, ia masuk ke dalam mobil untuk pulang, Benjamin selalu menyetir mobilnya sendiri tanpa supir.
Mobil keluar dari halaman perusahaan, pria tua itu dengan santai mengendarai mobilnya. Sepuluh menit perjalanan, Benjamin merasa mobilnya oleng tiba-tiba. Ia pun segera menginjak rem, mobil berhenti dan pria itu berdecak seraya keluar dari mobil.
"Apa-apaan ini ... kenapa ban nya jadi kempes!" kesal Benjamin dengan memercak pinggang melihat ban mobil depan nya kempes.
Pria itu celengak-celinguk untuk mencari bantuan.
"Astaga ..." Benjamin menepuk keningnya sendiri. "Kenapa tidak kepikiran menelpon montir. Dasar aku ini sudah tua jadi pelupa!"
Benjamin hendak masuk ke mobil untuk mengambil ponselnya tapi tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang sampai Benjamin tersungkur ke aspal.
"Akkkhhh ..." Pria itu memegang bahu nya. Perlahan ia menoleh ke belakang dan mendapati pria jangkung dengan masker dan topi. Hanya itu yang bisa Benjamin lihat, karena pria tua itu kemudian tak sadarkan diri.
Dua pria menggotong tubuhnya dan mendudukannya di mobil Benjamin.
"Kita lakukan sekarang?" tanya seorang Dokter.
Pria itu mengangguk.
Kemudian Dokter tersebut mengeluarkan beberapa alat untuk mengambil sampel darah Benjamin. Kemudian menggulung lengan baju pria itu, Dokter tersebut mengoleskan kapas alcohol dan menusuk jarum di lengan Benjamin untuk mengambil darahnya.
*
"Mommy ..." teriak Yura berlari menghampiri Bayuni yang sedang duduk sambil membaca majalah.
Melihat putrinya datang, Bayuni segera berdiri dan menyambut pelukan putrinya.
"Astaga Yura ... Mommy kangen sekali, kenapa tidak bilang mau ke sini sih."
Bayuni melepas pelukannya memainkan gemas putri semata wayangnya yang sudah menikah itu. Kemudian dari pintu terlihat Winter berjalan santai menghampiri mereka.
"Ih Mommy, Yura juga kangen tau. Mommy sih yang bikin Yura keluar dari rumah ini." Yura menekuk wajahnya.
"Tapi bahagia kan keluar dari rumah ini?" tanya Bayuni menggoda Yura.
"Hehe iya ..."
__ADS_1
"Winter, kenapa berdiri ayo duduk," ucap Bayuni melihat Winter berdiri di belakang Yura.
Winter mengangguk pelan lalu duduk di sofa. Bi Ijah datang membawa dua minuman dan memindahkannya dari nampan ke meja.
"Bi Ijah pasti senang tidak ada yang menganggu Bibi masak kan," ucap Yura menatap Bi Ijah di sampingnya yang terduduk di lantai.
"Justru Bibi merindukan Nona Yura. Biasanya pagi-pagi Nyonya selalu teriak-teriak supaya Nona Yura bangun untuk sarapan, sekarang setelah Nona Yura menikah, rumah jadi sepi tau."
Semua orang tertawa, Winter tersenyum tipis.
"Kalau begitu Bibi ke dapur dulu ya."
Yura mengangguk. "Iya bi."
"Mom, Daddy kemana?" tanya Yura kemudian.
Bayuni menatap arloji di pergelangan tangannya. "Seharusnya jam segini sudah pulang, tapi belum datang juga. Mungkin Daddy mu sibuk di kantor."
Yura mengangguk-ngangguk. Lalu mengambil minuman buatan Bi Ijah dan memberikannya kepada Winter.
"Minum ..."
"Mommy lega sekali melihat kalian akhirnya bisa akur dan saling mencintai seperti ini." Bayuni berkata dengan tersenyum kepada Winter dan Yura.
Winter kembali menyimpan minumannya di meja.
"Terimakasih, sudah menjodohkan kami ..."
"Jangan terlalu kaku begitu dengan Mertua mu dong, Winter ..." pekik Bayuni membuat Yura terkekeh.
Winter menoleh dengan satu alis terangkat naik, heran mengapa Yura tertawa apa ia salah berbicara.
"Mom awalnya aku pikir, aku punya suami bisu tau. Tapi lama kelamaan Winter mau berbicara denganku."
"Astaga Yura ... suami sendiri kok di bilang bisu." Bayuni berdecak seraya menggelengkan kepalanya.
"Karena Daddy bilang waktu itu jodohku pria baik dan ramah. Winter awal menikah tidak ramah sama sekali tau, Mom."
__ADS_1
Winter terdiam, ucapan Yura langsung membuat Bayuni menatap ekspresi Winter yang terlihat datar. Yura tidak tahu kalau awalnya Summer lah yang seharusnya menikah dengan dia.
"Yura ... jangan mengunjing suamimu sendiri, tidak baik. Apalagi di depan dia langsung," peringat Bayuni.
"Hehe ... Winter kau tidak marah kan?" Yura langsung menyenderkan kepalanya di bahu kanan Winter.
Winter merunduk menatap istrinya lalu menggelengkan kepala dengan senyuman tipisnya.
Kemudian Benjamin datang, berjalan tertatih dengan memegang leher belakang yang terasa ngilu.
"Sayang ..." Bayuni langsung menghampiri Benjamin dengan wajah panik.
Yura dan Winter pun menoleh.
"Daddy ..." Yura dan Winter pun segera menghampiri Benjamin.
"Daddy kenapa?" tanya Yura mengecek leher belakang Benjamin. Terlihat ada sedikit luka di sana.
"Dad tidak apa-apa, sepertinya tadi ada perampok. Tapi dia tidak mengambil apapun dari mobil Daddy ... aneh sekali."
"Sudah ayo duduk dulu."
Bayuni dan Winter membantu Benjamin berjalan dan mendudukannya di sofa.
Yura berlari mengambil kotak p3k lalu membawanya ke sofa.
"Biar aku saja," ucap Winter mengambil kotak p3k itu dari tangan Yura.
Winter mulai membuka dan meneteskan cairan obatnya ke kapas.
"Dad coba ceritakan apa yang terjadi?" pinta Yura yang duduk di samping Benjamin sementara Bayuni duduk di depan mereka.
"Dad mau pulang, terus ban mobil tiba-tiba kempes. Jadi Dad mau masuk lagi ke mobil, tapi ada pria yang memukul Dad sampai pingsan dari belakang."
"Dad, ingat wajahnya?" tanya Winter seraya mengobati luka Benjamin.
Benjamin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung