Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#111 Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_3

Hari itu tepat ketika peti jenazah hendak di tutup, Winter menahannya. Pria itu mengelus pipi istrinya seraya berbicara dan menangis tidak ikhlas dengan kepergian Yura.


Winter fokus dengan wajah istrinya sementara yang lain menangis mendengar ucapan Winter.


Tapi hanya Magma yang hari itu melihat jari tengah Yura bergerak pelan. Magma melebarkan matanya entah salah lihat atau tidak, ia benar-benar melihat jari Yura bergerak.


Dan ketika keluarga Benjamin mendorong peti jezanah ke tempat kremasi hanya keluarga De Willson yang hari itu sibuk menenangkan Winter yang histeris akan kepergian Yura.


Alhasil keluarga Benjamin lebih dulu mengantar peti jenazah ke tempat kremasi dan Magma berjalan di belakang peti jenazah yang sedang di dorong oleh tiga pria.


"Biar aku saja yang dorong," ucap Magma kepada tiga pria tersebut.


Mereka mengangguk. Alhasil peti jenazah yang cukup besar itu di dorong oleh Magma seorang diri sementara tiga pria tadi berjalan di belakang Magma bersama Benjamin, Bayuni dan sepupu Yura yang lain.


Magma mendorong peti jenazah seperti hendak membawa kabur peti tersebut. Ia berjalan cepat meninggalkan keluarganya di belakang, tidak ada yang sadar dengan sikap Magma karena mereka terlalu sedih dan masih menangis.


Setelah di rasa sedikit jauh dari keluarganya diam-diam Magma mengangkat penutup peti jenazah itu sedikit untuk mengintip adiknya. Ia menajamkan penglihatannya menatap dada dan perut Yura. Apakah ada tanda-tanda nafasnya telah kembali.


Dan lagi Magma terbelalak ketika melihat perut Yura bergerak seperti orang bernafas hanya saja sangat lambat. Mungkin karena jantungnya yang belum normal.

__ADS_1


Magma menelan Saliva nya susah payah kemudian kembali menutup peti jenazah tersebut dan mendorongnya sampai ke tempat kremasi. Peti jenazah itu masuk ke tempat kremasi.


Ketika semua orang berkumpul di depan tempat kremasi, mereka menunggu Winter yang harus menekan tombol khusus untuk membuat api menyala.


Beruntunglah Winter tidak langsung menekan tombol tersebut membuat Magma bisa masuk dari pintu yang lain untuk ke dalam ruang kremasi. Ia sempat di tahan oleh beberapa pria yang bekerja di gereja.


"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk."


"Minggir!"


"Tuan, ruang kremasi sangat berbahaya. Anda bisa ikut terbakar."


Magma menghela nafas kasar lalu mengeluarkan pistol dari saku celananya. "Minggir atau aku akan menyeretmu masuk ke ruang kremasi itu!!"


Tidak lama kemudian Magma keluar dengan mendorong peti jenazah.


"Tuan kau mau apakan mayat ini!" sergah pria yang mencegat Magma tadi.


Dan beberapa pria tersebut semakin kaget ketika ada peti jenazah yang lain, yang di dorong oleh tiga anak buah Magma.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara!" ucap anak buah Magma menarik kerah baju pria yang bekerja di gereja itu.


Mereka tidak bisa apa-apa karena Magma dan anak buahnya membawa senjata. Peti jenazah itu pun di tukar.


Peti jenazah Yura di bawa oleh anak buah Magma dan Magma kembali bergabung dengan yang lain mengikuti proses kremasi.


Di saat orang-orang menangis histeris ketika Winter menekan tombol kremasi. Magma sendiri sibuk dengan ponselnya mengirim pesan kepada anak buahnya.


"B**awa dia ke Rumah Sakit Melati. Cari Dokter Leon dan Dokter Jemi, bayar semua manusia yang ada di Rumah Sakit itu untuk membekap mulut mereka."


Tiga anak buah Magma pun menurut. Yura di bawa ke Rumah Sakit Melati yang disana juga sudah banyak anak buah Magma yang lain, sebagian berkeliling menghampiri orang-orang di Rumah Sakit, memberi mereka uang untuk membungkam mulut mereka yang melihat Yura.


Dokter Leon dan Dokter Jemi langsung memeriksa kondisi Yura. Yura masih koma dengan jantung yang lemah.


Anak buah Magma pun memberitahu Tuan nya dan Magma membalas pesan tersebut.


"Bawa Yura dan dua Dokter itu ke Spanyol. Katakan rawat adikku di sana."


"Siap Tuan."

__ADS_1


Mereka diam-diam membawa Yura ke Spanyol bersama Dokter Jemi dan Dokter Leon. Sementara Magma ikut ke Italy untuk melarung abu dari peti jenazah yang sudah di tukar tadi.


#Bersambung


__ADS_2