Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#22


__ADS_3

Meja yang begitu panjang, di isi oleh puluhan hidangan yang menggungah selera. Banyak makanan dari setiap Negara yang berbeda di sajikan di meja, buah-buahan dengan warna yang berbeda tampak menghiasi meja dengan indah, beberapa minuman beralchohol pun tampak tersedia di atas meja.


Ini makan malam yang besar karena menyatukan beberapa keluarga. Keturunan Sekretaris Han dan keturunan Thomas pun ikut datang menikmati makan malam hari ini.


Mereka hanya tinggal menunggu Winter dan Yura.


"Noah, tunggu kakakmu sebentar," ucap Milan ketika Noah terus mengambil makanan di meja.


"Mom mau membiarkan ku kelaparan."


"Kapan kau tidak kelaparan, setiap kali makan pasti selalu bilang kelaparan," ledek Nathan membuat Noah menekuk wajahnya.


"Mom, aku nanti kuliah di Italy juga ya," pinta Kai.


"Kau pasti mau seperti kakakmu itu yang jarang pulang ya," sindir Miwa kepada Summer.


"Ini aku sudah pulang Aunty," ucap Summer kepada Miwa.


"Ya, tapi dulu jarang sekali," sambung Laura.


"Dulu kan sibuk kuliah," sahut Summer.


Benjamin terlihat terus menelpon putrinya. Bahkan ia mengirim pesan kepada Yura.


Yura kau dimana, semua orang sudah di meja makan, cepatlah sedikit jangan membuat orang lain menunggu.


Dan kemudian Yura membalas.


Aku sudah di depan Daddy. Sabar.


Kemudian mereka mendengat suara langkah kaki, ketika menoleh mereka melihat Yura dan Winter berjalan dengan saling berpegangan tangan. Mereka semua tersenyum.


"Akhirnya pengantin baru kita datang," ucap Tessa.


Winter dan Yura duduk di kursi kosong, tatapan Yura langsung tertuju kepada Nathan. Nathan mengedipkan sebelah matanya menggoda Yura dengan satu tangan memegang segelas wine.


Summer mengikuti arah pandang Yura kepada Nathan.


"Aunty, lihatlah anakmu yang menggoda istri orang!" ucap Summer kepada Tessa.


"Heh apa maksudmu?" Nala mendelik kepada Summer.


"Kakakmu tuh, dari tadi tersenyum kepada Yura," ucap Summer.


Nathan terlihat memutar bola matanya malas menanggapi sikap Summer.


"Sudah-sudah, kita makan dulu. Ayo ..." ucap Liana.


Julian menyikut lengan Summer kemudian berbisik. "Sepertinya di masa depan, kau yang akan menggoda Yura."


"Diam kau bod*h!!"


Ketika makan, sesekali Summer menatap Yura. Sampai-sampai Julian terus menyikut bos nya itu.


"Sadar bos sadar, dia istri kakakmu," bisik Julian.


"Aku tidak menatapnya sial*n!"

__ADS_1


"Nah nah ... padahal aku tidak berkata kau menatap Yura, kau mengakuinya sendiri!"


Summer berdecak kesal.


"Kalian ini kenapa?" tanya Sekretaris Han melihat Summer dan Julian dari tadi saling berbisik.


Sontak hal itu membuat semua orang yang ada di meja makan menoleh ke arah mereka berdua.


"T-tidak, kami tidak apa-apa," ucap Summer.


Milan berdecak. "Julian, tukar posisi dengan Laura."


"Hah? kenapa Nyonya?"


"Tidak apa, tukar posisi saja."


Julian pun mengangguk dan bertukar tempat duduk dengan Laura.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh ya, Mom." ucap Summer.


Milan tidak suka melihat Summer begitu dekat dengan Sekretarisnya. Apalagi laki-laki dan kenapa juga mereka harus berbicara saling berbisik seperti itu, membuat Milan berpikir yang aneh-aneh saja.


*


Ketika selesai makan, mereka hanya mengobrol di meja makan, Laura terlihat sedang membuat video untuk di jadikan story instagram.


"Maxime tidak bisa makan strawberry, dia alergi dan itu menurun kepada Winter," ucap Milan kepada Bayuni.


"Oh iya? Yura juga tidak bisa makan pisang, tapi bukan karena alergi. Katanya rasanya aneh," kata Bayuni seraya terkekeh pelan.


Summer menatap Yura yang sedang makan ice cream sebagai makanan penutupnya. Lagi-lagi ia ingat dengan Letta.


"Suka."


"Kok bisa, padahal rasanya aneh. Tidak enak tau."


Summer menghela nafas, dari tadi ia mendengarkan Ibunya dan Bayuni berbincang sampai akhirnya membahas Yura yang tidak bisa makan pisang.


Yura pindah kursi ketika melihat kursi di samping Nathan kosong, ia bahkan membawa mangkuk ice cream nya.


Mata Yura selalu berbinar bak anak kucing ketika melihat idola nya yang satu ini. Yura dengan polosnya menanyakan kegiatan Nathan, apa idola nya itu akan mengadakan meet & greet gratis lagi atau mengadakan konser lagi.


Bahkan Yura juga bertanya apa makanan kesukaan Nathan, warna kesukaan Nathan dan tektek bengek tentang idolanya itu. Ia merasa menjadi fans yang paling beruntung sedunia karena selain bisa makan di meja yang sama, ia juga bisa bertemu dengan Nathan kapanpun ia mau.


Semua orang di keluarga De Willson sudah tahu Yura mengidolakan Nathan.


"Jangan lupa ya film ku tayang bulan depan, kau harus menonton nya. Janji?" Nathan mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji." Yura tersenyum mengaitkan jari kelingkingnya.


Setelah itu Nathan pun berpamitan kepada orang-orang, karena harus kembali syuting malam ini.


"Aaaaaa kelingkingnya lembut sekali." Yura menjerit dalam hatinya sambil memandangi jari kelingkingnya dengan tersenyum bak orang gila.


Summer mengambil tissue dan menggosok jari kelingking Yura dengan isengnya.


"Ih kau apa-apaan!" kesal Yura menepis tangan Summer.

__ADS_1


Summer tertawa lalu duduk di kursi tempat Nathan tadi.


"Lagian, hanya kelingking saja sampai di pandangi seperti itu. Kau mau sekalian aku hadiahkan jantung Nathan?"


Yura mengerucutkan bibirnya. "Jangan lah, mati Nathan ku nanti."


"Astaga Yura ... Yura ..." Summer menggelengkan kepala beberapa kali. "Sampai segitunya fans si berak celana itu."


"Apa maksudmu si berak celana?" Yura menautkan alisnya tidak mengerti.


"Kemari ..." ucap Summer. Yura mendekatkan wajahnya ke arah Summer.


Kemudian Summer berbisik di telinga Yura. "Dia pernah berak di celana waktu SD."


"Apa?" Mata Yura membulat sempurna dan sedetik kemudian ia tertawa. Summer ikut tertawa sampai akhirnya tawa Summer memudar dan hanya memandangi gadis di sampingnya ini yang tertawa lepas, entah kenapa Summer suka dengan cara Yura tertawa.


Ada sedikit kerinduan yang muncul kepada Letta ketika melihat tawa Yura.


Winter yang sedang berbincang dengan Javier dan Maxime sempat menoleh sejenak melihat istrinya tertawa bersama Summer, kemudian ia kembali sibuk membahas soal pekerjaan bersama Javier dan Winter.


Benjamin sedang mengobrol bersama Sekretaris Han dan Thomas.


"Yura, jaga sikapmu!" ucap Bayuni melihat putrinya tertawa dari tadi.


"Astaga Mom, aku hanya tertawa. Salah?" Yura berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Orang tuanya selalu meminta Yura menjaga sikap di keluarga De Willson entah kenapa.


"Maaf ya hehe ... Yura kalau tertawa memang seperti itu," ucap Bayuni sungkan kepada yang lain.


"Tidak apa-apa Bayuni, namanya anak muda memang seperti itu," ucap grandma Sky.


"Memang nya apa yang lucu sih Yura, Aunty jadi penasaran?" tanya Tessa.


"Itu Aunty---"


Belum selesai bicara Summer langsung membekap mulut Yura. "Jangan beritahu Ibunya Nathan dong!" ucap Summer.


"Ah aunty sudah tau, pasti Summer membahas Nathan waktu sd kan?" tebak Tessa.


"Hayolohhh kita kasih tau, Nathan baru tahu rasa kau Summer. Sudah tau itu rahasia," sambung Nala.


Yura menepis tangan Summer yang membekap mulutnya.


"Halah, bukan hanya Nathan yang punya rahasia. Summer juga," pekik Laura.


"Heh diam ya!" Summer menunjuk wajah Laura.


"Yang waktu tk kabur dari kamar mandi belum pakai celana siapa ya?" sindir Lalita sembari menahan tawanya.


Yura menatap penasaran Lalita. "Siapa?"


"Tuh ..." Lalita menatap Summer dengan tersenyum. Dan kini pandangan Yura beralih menatap Summer kemudian Yura kembali tertawa.


"Hahaha kau, kau tidak pakai celana? Astaga Summer ... Hahaha."


Bukan hanya Yura kali ini yang tertawa tapi juga Nala, Lalita, Laura, Sky dan yang lain juga tertawa. Kecuali para lelaki yang sibuk membahas pekerjaan.


Sekalipun banyak yang tertawa, Summer hanya menatap gadis di sampingnya dengan tersenyum penuh kerinduan kepada Letta sampai matanya sedikit berkaca-kaca.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2