
Maxime dan Magma duduk di ranjang sambil merokok memperhatikan perempuan yang menempelkan punggungnya di dinding dengan raut wajah ketakutan.
Mereka sedang menunggu Winter datang, Maxime sudah menyuruh putranya untuk datang ke ruangan itu.
"Aku tidak yakin Winter setuju kalau kita menghabisi perempuan itu," pekik Magma.
"Kita ..." Maxime menoleh. "Aku tidak pernah membunuh perempuan dan tidak bisa membunuh perempuan," sahut Maxime yang masih mengikuti aturan Yakuza walaupun sudah hampir pensiun.
Magma berdecak. "Aku benar-benar menyesal menyuruhmu datang ke sini! kenapa tidak aku saja yang menghabisi perempuan itu!!"
"Tuan ..."
"Diam!!" sentak Magma membuat Anaya merapatkan kembali mulutnya.
"Sudah lah ... hukum dengan cara lain saja. Tunggu sampai Winter datang ..."
Pintu ruangan terbuka dan ternyata Winter tidak sendiri. Dia membawa Jony.
"Daddy ..." lirih Anaya.
Jony melebarkan matanya lalu menoleh ke arah Maxime. Hanya satu yang ada di benaknya sekarang, nasib putrinya di tangan Maxime.
"Anaya ..."
__ADS_1
Anaya hendak berlari menghampiri Ayahnya. Tapi tidak jadi ketika Magma mengulurkan tangan nya menghalangi tubuh Anaya.
"Diam!" pekik Magma membuat Anaya memundurkan langkahnya kembali.
"Dad ..." panggi Winter meminta Maxime menjelaskan semuanya.
Maxime menghela nafas, tanpa basa-basi dia berkata. "Dia hampir meracuni Yura dan anakmu. Dia menaruh obat di makanan dan mengirim makanan itu ke perusahaan dengan mengatakan itu makanan dari Bayuni."
Winter melebarkan matanya lalu menatap dingin Anaya.
"Kau ..."
"Tuan ..." Jony langsung bersimpuh di kaki Winter. "Tuan ... maafkan putriku ... aku mohon maafkan dia. Dia sedang khilaf saja, aku berjanji dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku yang rela di hukum mati jika putriku kembali menganggu keluargamu Tuan ..." Jony merapatkan kedua tangan nya, memohon dengan menangis.
Melihat itu Anaya menggelengkan kepala dengan air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tak menyangka Ayahnya sesayang itu dengan dirinya.
"Aku harap tidak ada kata maaf," gumam Magma yang hanya di dengar oleh Maxime.
"Aku memaafkanmu ..." lirih Winter membuat Jony dan Magma melebarkan matanya.
Jony kaget karena Winter mau memaafkan dirinya sementara Magma kaget karena kenapa Jony dan Anaya di maafkan sementara dirinya ingin mereka di hukum mati.
"Dia ..." Magma menoleh ke arah Maxime. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran putra mantan pemimpin Yakuza itu.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti, kenapa tidak ada setan yang bisa menggoda Winter untuk jahat sedikit saja kepada orang lain," gumam Maxime.
"Dia terlalu rendah hati ..." lanjut Maxime.
Magma mengusap wajahnya kasar. "Kalau aku ada di posisi anakmu, sudah aku bunuh mereka berdua!" Magma menatap tajam Anaya dan Anaya pun sontak menunduk.
"Tapi ada syaratnya ..." lanjut Winter membuat Magma dan Maxime sontak menoleh ke arahnya.
"A-apa Tuan?" tanya Jony.
"Pergilah dari Indonesia. Tinggal di Negara manapun yang kau mau, asal kalian pergi dan tidak kembali lagi ke sini ... jika masih di sini, aku serahkan hukuman untuk kalian kepada Magma atau Ayahku ..."
Dengan ragu-ragu, Jony perlahan menoleh ke belakang menatap Maxime dan Magma yang menatapnya tajam dan menusuk.
Buru-buru ia kembali memalingkan wajahnya. "Baik Tuan, aku dan Anaya akan tinggal di luar Negeri. Kami tidak akan menganggu keluarga anda lagi Tuan."
Perlahan Jony berdiri lalu berbalik.
"Dad ..." Anaya berlari memeluk Ayahnya. Dengan perasaa lega Jony mengelus rambut Anaya. Setidaknya putrinya aman dan tetap hidup.
"Huh, sinetron-sinetron ..." gumam Magma sambil melengos meninggalkan ruangan tersebut. Ia tidak tahan dan merasa jijik melihat Anaya dan Jony berpelukan karena terbebas dari hukuman yang berat.
Bersambung
__ADS_1
Maaf baru update ya. Nenek saya lagi sakit. Minta doanya untuk kesembuhan Nenek saya
yang lagi di Rumah Sakit sekarang ...👐🏻