
Julian benar-benar pergi ke dukun, ia meminta cara agar mengusir hantu dari apartemennya. Dukun itu memberikan sebotol air yang harus di campur garam oleh Julian, dia bilang Julian harus mandi air tersebut agar hantu tidak bisa dekat-dekat dengan Julian.
Alhasil pria itu menurut, dia mandi tengah malam. Ketika keluar memang tidak ada yang menganggu dia, tapi tubuhnya malah iritasi karena mandi air garam.
Tubuh pria itu memerah, ia mengusap-ngusap tangan nya karena selain perih ia merasa gatal. Ia masih duduk sambil mengusap-ngusap tubuhnya karena berpikir merahnya nanti juga hilang.
"Apa garam nya kebanyakan ya," gumam Julian.
Satu jam berlalu tubuhnya malah semakin merah dan terasa kering sampai hampir mengelupas.
"Dukun apaan sih itu!" kesal Julian. "Mana perih sekali."
Alhasil pria itu mengambil jaket di kamar dan memakai masker lalu memilih pergi ke Rumah Sakit dan akan memberi perhitungan kepada dukun sial*n itu.
*
Daddy, Yula tadi ada di bawah.
Yula tadi ada di geleja.
Yula tadi dadah-dadah ...
Dengan Reagan yang tertidur di pelukannya, Winter memikirkan ucapan anak itu yang selalu mengatakan ia melihat Yura. Tidak tahu siapa yang sebenarnya Reagan lihat.
Winter menghela nafas, mengeratkan pelukannya memeluk Reagan lalu menatap guci istrinya di meja.
Beberapa hari yang lalu ia juga pernah mendapatkan telpon dari nomor yang tidak di kenal. Ketika dia menjawabnya, orang itu tidak bersuara sama sekali dan langsung mematikan panggilannya.
Winter kemudian memilih untuk tidur, ia tidak mau membebani pikirannya lagi karena sekarang ada Reagan yang harus ia rawat. Mental Winter tidak boleh berantakan lagi seperti dulu, kasihan Reagan.
Pagi harinya mereka kembali sarapan bersama. Mereka sarapan roti dan susu.
"Dad kerja, Reagan ke mansion Daddy Summer dulu ya."
"Gak ah," sahut Reagan lalu meminum susu nya.
__ADS_1
"Mau ikut lagi?"
Reagan menganggu cepat.
"Janji gak nakal." Reagan mengangkat jari kelingkingnya membuat Winter tersenyum.
Kemudian Winter sedikit penasaran soal wajah Yura yang di lihat Reagan.
"Reagan kemarin lihat Yura?"
Reagan mengangguk dengan roti penuh di mulutnya.
"Wajahnya seperti apa? cantik tidak?"
"Ya Dad. Sepelti tuh ..." Reagan menunjuk foto Yura yang ada di ruang tamu.
Winter menatap foto istrinya sejenak lalu kembali bertanya kepada Reagan.
"Yura pakai baju apa kemarin?"
Winter mengangguk-ngangguk. "Habiskan sarapannya ..."
Di kantor Winter menyuruh dua pria yang bekerja dengannya untuk melihat cctv di sekitar kantor dan melihat cctv yang ada di sekitar gereja.
Sementara dirinya membuka laptop untuk melihat cctv di sekitar mansion.
Ia menggosok dagu nya menunggu rekaman cctv itu yang sedang loading.
Kemudian Winter melebarkan mata ketika melihat ada perempuan berdiri di luar gerbang. Ia memperbesar layar untuk melihat jelas perempuan itu dan ternyata.
"Yura ..." gumam Winter.
Tidak ... tidak ...
Winter menutup laptop nya.
__ADS_1
Yura sudah tidak ada.
Hari itu dirinya sendiri yang melihat peti jenazah istrinya masuk ke tempat kremasi dan bahkan dia sendiri yang menekan tombol untuk mulainya proses kremasi. Dia juga yang melihat jenazah istrinya di make up dengan tangan yang sangat dingin ketika di pegang.
Sekarang, Winter hanya bisa menyimpulkan kalau perempuan itu kemungkinan bukan Yura. Hanya mirip, Ya hanya mirip.
Sekali lagi, dia tidak mau membebani pikirannya karena ada Reagan. Tapi pria itu akan menyelidiki lebih lanjut perempuan yang berdiri di luar gerbang mansion nya.
"Reagan ..." panggil Winter yang melihat putranya hanya berdiri di jendela menunduk menatap jalanan di bawah sana.
Reagan menoleh. "Ya, Dad?"
"Sedang apa?"
"Tunggu Yula. Yula gak datang lagi, Dad." Reagan menekuk wajahnya.
"Kemari ..." Tangan Winter bergerak menyuruh anak itu menghampiri dirinya.
Reagan pun berlari menghampiri Winter dan Winter langsung menggendong Reagan mendudukannya di atas paha.
"Dad, happy ada Yula?" tanya Reagan kemudian.
"Iya. Dad juga happy ada Reagan."
"Kalau Yula bangun Dad sayang aku gak?"
Winter terkekeh sambil mengacak-ngacak gemas kepala Reagan.
"Sayang dong ... Dad sayang Yura dan Reagan."
"Nanti Dad bobo ma sapa? kalau Yula pulang."
"Denganmu dan Yura ..." sahut Winter sambil mencolek hidung kecil Reagan.
Reagan tersenyum senang lalu memeluk pria itu.
__ADS_1
Bersambung