
Setelah keluarga berbincang-bincang mereka memutuskan mengkremasi jenazah Yura sebagai upacara pemakaman terakhir.
Kremasi (dibakar) di pilih karena dulu Yura pernah mengatakan jika dirinya mati, ia ingin di kremasi tidak mau dikuburkan dengan alasan ia tidak mau jauh dari orang-orang yang ia sayangi. Jika di kremasi maka abu dari tubuh Yura akan di bawa pulang ke mansion.
Peti hendak ditutup oleh beberapa orang tapi Winter langsung menahannya.
Dengan tangan gemetar ia memegang pipi Yura untuk terakhir kalinya.
"T-tunggu ya ... tunggu sebentar sayang, aku akan segera menyusulmu, aku tidak akan membiarkan mu pulang sendirian. Seperti sumpah pernikahan kita, aku tidak hanya menemanimu ketika sehat dan sakit saja ... aku akan menemanimu sampai mati Yura ... hiks."
Ucapan Winter berhasil membuat tangis orang-orang kembali pecah seketika. Perasaan haru yang sangat besar mendengar suami berbicara demikian kepada istrinya yang sudah tiada.
"Winter ..." Maxime dan Summer mencoba menarik Winter.
"Lepas!" Winter memberontak.
"Winter, kasihan Yura kalau seperti ini," pekik Maxime.
"Dad tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang!! karena Dad hidup dengan kebahagiaan dari dulu!!" teriak Winter.
"Winter kita semua sedih ... tapi kasihan Yura kalau kau terus menahannya seperti ini," pekik Maxime.
"Bolehkah satu hari saja dia tinggal di mansionku dulu? jika sampai besok dia tidak bangun, kalian boleh mengambilnya," pinta Winter dengan berderai air mata.
"Winter ..." suara serak itu berasal dari Javier yang datang duduk di kursi roda di dorong oleh Arsen.
Winter menoleh. "Grandpa ..."
Pria itu berjalan menghampiri kakeknya, duduk bersimpuh di hadapan Javier dengan menenggelamkan kepalanya di paha Javier. Menangis tersedu-sedu, Javier menghela nafas berat mengelus kepala Winter. Semua orang yang melihat itu tidak bisa membendung air matanya.
__ADS_1
"Lihat grandpa ..."
Winter pun perlahan mendongak. Di tatap nya bola mata cucunya yang sembab karena tidak berhenti menangis.
"Kau mencintai, Yura kan ... antar istrimu kepada Tuhan-Nya. Jangan menahannya seperti ini, kasihan dia Winter ..."
Winter menggeleng pelan.
"Aku tidak mau berakhir seperti grandpa Xander, grandpa ... hiks."
Javier menghela nafas, menunduk menahan air matanya dengan memejamkan mata. Sekalipun ia bertanya kepada semua orang, kenapa cucu nya yang paling baik ini harus merasakan keterpurukan sekejam ini, tidak akan ada yang bisa menjawab. Karena ia pun berpikir hal yang sama dengan Maxime, karma di masa lalu terjadi kepada Winter.
"Tapi sampai kapan kau akan menahan Yura?" tanya Javier kemudian dengan suara lemah mengelus puncak kepala cucu nya.
Winter tidak menjawab selain menunduk dan menangis. Kemudian Javier mengisyaratkan kepada beberapa lelaki yang bekerja di gereja untuk membawa jenazah Yura ke tempat kremasi.
Ketika mendengar peti jenazah istrinya di dorong Winter pun menoleh, pria itu hendak berdiri tapi Arsen dan Nathan segera menahan Winter.
"Jangan ... jangan ambil istriku hiks ... kalian tidak mengerti perasaanku ..."
Keluarga Benjamin mengikuti peti jenazah Yura yang akan di bawa ke tempat khusus kremasi dengan Bayuni yang memeluk foto putrinya dengan menangis tersedu-sedu, tapi ia berusaha kuat untuk mengantar putrinya ke upacara pemakaman terakhirnya.
Peti jenazah Yura di penuhi bunga berwarna putih, disaat mereka mengikuti peti tersebut hanya keluarga De Willson yang masih sibuk menahan Winter yang berteriak histeris.
"Winter ... tenanglah, jangan seperti ini. Kau harus kuat untuk mengantar istrimu." Maxime memeluk Winter yang menangis histeris.
Ia menepuk-nepuk punggung Winter dengan menahan air matanya. "Kuat ya, kau pasti bisa. Kita antar Yura sekarang ..."
Keluarga De Willson akhirnya mengikuti yang lain. Mereka berkumpul di depan ruangan tempat kremasi (dibakar) proses kremasi tersebut memasukan peti jenazah Yura ke dalam ruangan yang sudah di panaskan.
__ADS_1
Ketika peti sudah masuk, anggota keluarga harus menekan tombol khusus yang akan membuat api di dalam ruangan menyala. Kremasi tersebut di lakukan dengan api yang panasnya 700-1000 derajat Celcius.
Peti dan Jenazah akan berubah menjadi abu setelah proses kremasi selama 70-150 menit. Abu hasil dari peti, tubuh dan baju Yura akan di bawa dan di sebarkan di lautan sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Sementara tulang yang tidak berubah menjadi abu akan di haluskan dengan alat khusus dan di masukan ke guci untuk di bawa pulang dan di simpan di mansion Winter.
Mereka semua sudah berkumpul di depan ruangan khusus kremasi tersebut. Winter dengan tatapan kosong sekuat tenaga untuk bisa berdiri dengan di pegang oleh Maxime dan Arsen.
Peti perlahan masuk ke ruangan tersebut, membuat air mata Winter kembali menetes. Dunia seakan runtuh seketika, ia di timpa masalah yang begitu besar, kehilangan istrinya yang belum sampai satu tahun pernikahan membuat Winter tak kuasa menahan tangisnya.
Selamat jalan cantik. Aku mencintaimu ...
Di depan Winter ada tombol yang harus di tekan agar proses kremasi berjalan. Pendeta menyuruh Winter menekan tombol itu.
Winter menatap tombol di depannya dengan menelan saliva nya susah payah. Tangannya tidak bisa menekan tombol itu tapi keadaan memaksa dirinya, karena dirinyalah yang lebih berhak atas Yura sekarang.
Dengan gemetar ia mengangkat tangannya untuk menekan tombol tapi ingatannya memutar hari dimana Yura mengucapkan sumpah pernikahan di depan banyak orang.
"Saya, Ayura Aletta, menerima engkau Winter Louis De Willson sebagai suami yang sah di mata Tuhan ..."
Winter kembali menurunkan tangannya, ia menghela nafas berat. Semua orang yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Winter ..." panggil Benjamin.
Winter menoleh dan melihat Benjamin menganggukan kepala dengan artian meminta Winter menekan tombol itu.
Winter menghela nafas panjang dengan tangan gemetar ia langsung menekan tombol tersebut dan api di dalam pun menyala sangat besar, Winter pun pingsan seketika.
Bersambung
__ADS_1
Di skip aja yang engga suka. engga usah marah2 ya. banyak part sedih setelah ini soalnya ... karena saya sendiri nulis ini sambil nangis. Nyesek banget kasian babang Winter ðŸ˜