
Yura menuruni anak tangga seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah selesai mandi. Ia melihat Winter duduk seorang diri di meja makan.
"Loh, Kak Magma kemana?"
Winter menoleh. "Dia sudah pulang. Tadi kau sedang mandi, jadi tidak pamit dulu."
Yura menarik kursi duduk di samping Winter. Ia menggambil salad dan mengaduk-ngaduknya sambil menggerutu. "Huh, dasar. Dia itu kalau melihatku dekat denganmu tidak terlalu perhatian kepadaku, dulu waktu aku di Spanyol kemanapun dia pergi pasti izin dulu. Yura aku mau ke mall dulu, Yura aku mau ke kantor dulu, Yura aku mau beli makan dulu, bla bla bla ..."
Yura kemudian menguapkan salad ke mulutnya, ia mengunyah salad lalu menoleh ke arah Winter yang kini menatapnya dingin.
Gadis itu sontak berhenti mengunyah. "Kenapa?" lirihnya.
Winter tidak menjawab ia hanya diam menatap Yura.
Kemudian Yura menghela nafas. "Dia itu kakak iparmu, jadi tidak perlu cemburu. Ini makan saja. Aaaa ..." Yura menyuapi Winter, awalnya Winter menolak tapi gadis itu terus memaksa Winter untuk membuka mulut sampai akhirnya Winter memakannya.
"Tidak enak," ucap Winter.
__ADS_1
"Salad nya atau hatimu yang sedang tidak enak," gumam Yura pelan sambil memainkan sendoknya di piring.
"Yura!!" Winter yang sedikit kesal mencubit pipi gadis itu dan Yura malah tertawa.
Setelah makan salad, Yura pergi ke dapur mengambil susu dari kulkas dan menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa dengan laptop di atas paha nya.
Yura duduk di samping Winter. "Ah film itu ... aku sampai nangis waktu menonton nya."
Winter sedang menonton film tentang kisah dirinya dan Yura yang di anggap meninggal hari itu. Film yang di perankan oleh Nathan dan Laura.
"Akting mereka sangat bagus ya. Nathan bukan pria dingin tapi dia bisa memerankan pria musim dingin dengan baik," ucap Yura dengan kepala bersandar di bahu Winter.
"Apa tidak ada season dua Winter? kisah kita yang berakhir bahagia ..."
"Mungkin nanti ..." sahut Winter.
"Nyonya ada paket ..." pelayan perempuan berdiri di dekat mereka. Yura dan Winter menoleh.
__ADS_1
Pelayan perempuan tersebut memberikan paket untuk Yura lalu kembali pergi setelah Yura mengucapkan terimakasih.
"Apa itu?" tanya Winter.
"Tas mahavir group," sahut Yura dengan tangan sibuk membuka kotak.
Winter menghela nafas. "De Willson juga memproduksi tas yang bagus."
Yura menoleh mencolek dagu suaminya yang tengah cemburu. "Iya, produk De Willson tidak pernah gagal. Tapi aku mau mencoba produk kakaku sendiri sekali-kali heheh."
Ketika Yura melihat Laura mengiklankan Tas milik Mahavir group, ia langsung menelpon Magma dan meminta Magma mengirimkan satu tas untuknya.
"Woahhh ..." Mata Yura berbinar terpesona dengan tas di tangan nya. "Ini tas yang di iklankan Laura ... kau tau kan. Dalam sehari tas nya habis terjual, katanya sih karena di perebutkan oleh fans nya Laura. Parah ya fans Laura, banyak yang kaya sampai bisa membeli tas mahal seperti ini ..."
Winter mengangguk. "Tas De Willson lebih bagus ..." ucap Winter seraya beranjak dari duduknya meninggalkan Yura yang hanya bisa melongo dengan kepergian suaminya.
"Cemburu si musim dingin itu lebih besar kepada Kak Magma dari pada kepada Summer dulu," gumam Yura seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
Bersambung