Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#103 Reagan Louis De Willson


__ADS_3

Satu tahun kemudian mental Winter sedikit membaik, ia mulai menerima semua takdir hidupnya. Benar kata sang Ayah, Maxime.


Jika Winter bunuh diri maka ia tidak akan bertemu dengan Yura karena dia mati atas keinginannya sendiri bukan karena kehendak Tuhan.


Winter tetap pergi ke gereja selama satu tahun itu, tetap membersihkan gereja dan menerima semuanya dengan lapang.


Satu tahun lebih telah berlalu, Winter hidup sendirian di mansion tanpa Yura. Guci abu istrinya ada di meja samping ranjang.


Dulu mereka tidur saling berhadapan dengan berbincang sambil tertawa dan bercanda. Sekarang, Winter selalu tidur menyamping sambil menatap guci istrinya di meja.


"Selamat malam ..." ucapnya tersenyum sambil mengelus guci tersebut.


Kehampaan dan kesepian seakan sudah menjadi teman hidup Winter selama satu tahun. Dia memfokuskan dirinya untuk memperbesar perusahaan, setiap hari selalu sibuk.


Kisah hidupnya di jadikan Novel oleh Nala dan di film kan oleh Nathan dan Laura. Film itu berjudul pria musim dingin dengan Nathan yang berperan sebagai dirinya dan Laura yang menjadi Yura.


Proses menjadikan ceritanya menjadi novel dan film tidaklah mudah, banyak hal yang harus Winter ingat-ingat tentang kenangan di masa lalu bersama istrinya. Di tambah lagi proses syuting yang tidak selalu lancar.


Film itu keluar hari ini, mereka tahu itu kisah dari pemimpin De Willson group. Antusias masyarakat dalam menyambut film sangatlah besar.


Winter menyewa satu ruangan bioskop untuk drinya sendiri. Ia menonton kisah hidupnya dari awal perjodohan bersama Yura, merawat Yura ketika sakit sampai merasakan pedihnya di tinggalkan dan melalui perjalanan depresi yang begitu kuat menimpa dirinya.


Senyuman, tawa, berkaca-kaca sampai berderai air mata silih berganti sepanjang menonton kisah hidupnya bersama Yura.


Rindu yang menggebu-gebu setiap harinya, tangan yang ingin sekali menggengam tangan istrinya seakan-akan hanya lah sebuah khayalan yang sulit terwujud.


Selesai menonton, ponselnya bergetar panjang di saku celana. Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat nama Daddy di sana.


"Ya, Dad?"


"Intan melahirkan sekarang. Cepatlah ke Rumah Sakit."


"Oke."


Winter keluar dari bioskop setelah film itu selesai. Ia mengendarai mobil menuju Rumah Sakit tempat Intan melahirkan.

__ADS_1


Pria itu mendorong pintu kamar dan melihat sudah banyak keluarganya yang ada di sana. Termasuk Javier dan Sky yang duduk di sofa.


Winter tersenyum tipis.


"Hai uncle ..." Summer memeluk kembarannya itu.


"Selamat ..." ucap Winter.


"Dia laki-laki," bisik Summer.


"Kembar?" tanya Winter.


"Tidak, hanya satu, huh. Padahal Intan mau kembar tiga."


"Heh, sembarangan. Aku tidak bilang apapun!" pekik Intan yang duduk di ranjang sambil menggendong bayi nya. Semua orang tertawa.


Winter pun berjalan mendekati bayi di gendongan Intan.


"Kau mau mengendongnya?"


Winter tersenyum melihat bayi tampan itu. Ini yang ia harapkan bersama Yura dari dulu, seorang anak yang membuat rumah tangga mereka semakin lengkap.Tapi takdir berkata lain.


Summer berjalan mendekati Winter dan berdiri di sampingnya sambil menatap wajah putranya di gendongan kembarannya.


Kemudian Summer menatap Intan. Intan menganggukan kepala pelan. Summer berdehem.


"Aku mau bicara sesuatu kepadamu ..." ucap Summer.


"Apa?" Winter menoleh.


"Begini ..." Summer berhenti sejenak. "Aku dan Intan akan memberikan putra pertama kami kepadamu ..."


"Apa?!" semua orang terkejut mendengar itu.


"Summer ..." panggil Maxime.

__ADS_1


"Bos astaga ..." Julian menepuk jidat nya. "Di kira itu bayi boneka kali ya!"


"Aku dan Intan sudah membicarakan ini jauh sebelum Intan hamil. Kami--"


"Aku tidak bisa," potong Winter. "Ini anakmu, bagaimana mungkin kau memberikannya kepadaku."


"Kau merawat dia, dia juga tetap anakku," sahut Summer.


"Aku akan mengirim ASI setiap harinya ke mansionmu," sambung Intan.


"Dia butuh sosok Ibu, Summer," sambung Milan.


"Intan masih bisa menjenguknya. Jarak mansionku dan mansion Winter tidak terlalu jauh."


Mereka semua saling menoleh heran dengan rencana Summer dan Intan. Summer dan Intan sendiri tidak mau melihat Winter terus kesepian, apalagi pria musim dingin itu pernah berkata seumur hidupnya dia tidak akan menikah lagi.


"Summer--"


"Ayolah, anakku anakmu juga ..." potong Summer.


"Istrimu berarti istri Tuan Winter juga, bos!" pekik Julian yang mendapat tatapan tajam dari semua orang. Julian langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Akhirnya Winter pun mengangguk membuat Summer dan Intan tersenyum. Di tatapnya dengan teduh bayi yang sedang tertidur di gendongannya itu.


"Reagan Louis De Willson, boleh namanya itu?" tanya Winter menatap bergantian Summer dan Intan.


Mereka pun mengangguk membolehkan membuat senyum Winter mengembang seketika.


Yang lain pun ikut tersenyum melihat pria musim dingin yang sudah satu tahun belakangan terlihat murung itu.


"Dia bahagia sekali," bisik Laura kepada Nathan. Nathan mengangguk setuju.


Bersambung


Selama belum ada kata TAMAT berarti belum sad ending bestie ❤ Tapi kalau mau sad ending boleh juga sih🤣 bercanda-bercanda 🙏🏻 Kabur dulu takut di marahin pembaca 🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️

__ADS_1


__ADS_2