Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#121 Daddy Winter masuk guci


__ADS_3

"Mom, mana Daddy?" tanya Reagan kepada Intan.


"Daddy Winter?"


Anak lelaki yang sedang duduk di sofa sambil memegang mainan robot itu mengangguk.


"Daddy lagi sama Yura. Reagan di sini dulu ya."


"Ah Yula ajak Daddy masuk kuci ya Mom." Anak itu memanyunkan bibirnya.


Intan terkekeh. "Iya, nanti mereka keluar dari guci. Reagan tunggu dulu di sini ya ..."


"Aku mau ke lumah Daddy, mau ambil kuci Mom."


"Tunggu Daddy Summer pulang dulu, nanti boleh pergi sama Daddy Summer."


"Aaaaa ... mau sekarang Mommy." Reagan merengek.


Intan tidak bisa keluar karena Alea sedang rewel. Adik Reagan itu sedikit demam.


"Oke ... oke ... sekarang ke rumah Daddy Winter. Tapi tunggu grandpa dulu oke."


Reagan pun akhirnya mengangguk dengan tersenyum. Kemudian Intan menelpon Maxime.


"Hallo Dad."


"Ya Intan?"


"Dad, Intan boleh minta tolong ..."


"Kenapa?"


"Reagan mau ke mansion Winter. Summer belum pulang dari kantor."


"Tapi kan Winter dan Yura sedang di Italy."


"Tidak apa Dad. Reagan hanya ingin mengambil guci di mansion."


"Loh, guci si nenek itu?" tanya Maxime heran.


"Iya, Dad. Tolong ya Dad, Reagan suka mengamuk kalau tidak di turuti."


Maxime menghembuskan nafas. "Yasudah, Dad kesitu sekarang."


*

__ADS_1


Maxime membawa cucu nya menuju mansion Winter. Di perjalanan Reagan terus bersuara menirukan suara mobil dengan memainkan mobil kecil di tangannya, Maxime yang melihat itu tersenyum.


"Aku mau jadi pembalap," ucap Reagan


"Boleh, sudah besar balap mobil sama Daddy kembar ya," sahut Maxime dengan tersenyum.


"Sama glandpa gak mau ya?"


"Kalau Reagan sudah besar nanti grandpa sudah tua. Tidak bisa bawa mobil cepat lagi ..."


"Kalau dah tua nanti glandpa masuk kuci ya." Reagan menyengir membuat Maxime menghela nafas kemudian menggelengkan kepala.


Cucu nya seperti menyuruh dia mati saja. Ketika di perjalanan ponsel Maxime bergetar, ia mengambil ponselnya di saku celana dan telpon masuk dari Summer.


"Apa? Dad sedang menjaga anakmu."


"Dad, ke kantor lah sebentar."


"Untuk apa?"


"Ada meeting dengan pemimpin perusahaan X. Dad tau kan aku bukan pemimpin De Wilson group, mana bisa aku yang mewakili Winter. Jadi Dad cepat kemari."


"Tapi anakmu--"


"Balikan lagi ke Intan saja dulu, Dad."


Maxime mendengus kasar ketika panggilan telpon berakhir. Apa Summer lupa kalau Reagan sering mengamuk kalau keinginan nya tidak di turuti, bagaimana bisa ia membalikkan Reagan ke Intan.


Magma berdecak menatap Reagan di sampingnya yang masih memainkan mobil-mobilan.


Kemudian mobil pun berhenti.


"Glandpa, sudah sampai?" tanya Reagan.


"Belum, sebentar ya. Grandpa lupa sesuatu."


Anak itu hanya memandang wajah Maxime dengan mengedipkan matanya beberapa kali. Tidak bertanya Maxime lupa apa.


Tapi ketika mobil hendak putar balik dari arah depan Maxime melihat mobil Magma. Ia segera memalingkan mobilnya membuat mobil Magma berhenti seketika.


Beberapa detik kemudian Magma keluar dari mobilnya. Maxime juga ikut keluar.


"Apa masalahmu?" kesal Magma.


"Aku titip Reagan."

__ADS_1


"Id*ot!! aku tidak mau!!" sahut Magma.


"Sebentar saja Magma, aku harus ke kantor." Maxime memelas.


"Ayah si anak curut itu dimana?"


"Summer juga di kantor, Intan sedang merawat Alea. Kau hanya mengantar dia ke mansion Winter sebentar saja ..."


Magma memercak pinggang menatap kesal mobil Maxime yang di dalamnya ada si anak curut.


"Yasudahlah ..." Akhirnya Magma mengalah.


Maxime pun segera membuka pintu, membawa Reagan keluar.


"Reagan sama Om Magma dulu ya, grandpa pulang dulu sebentar ada yang ketinggalan nanti grandpa jemput Reagan di rumah Daddy Winter ..."


Tanpa banyak tanya anak kecil itu pun menganggukan kepala. Magma bersedekap dada menatap Reagan yang rambutnya seperti mangkuk dan juga sedikit keriting.


Padahal Magma hendak pergi menemui Lail untuk menyuruh sekretarisnya itu membeli ponsel baru karena ponselnya rusak akibat di lempar semalam.


*


Sementara itu Winter dan Yura sudah berada di hotel. Yura baru saja selesai mandi dengan Winter yang sedang menata makanan di meja.


"Apa Reagan tidak menangis kau meninggalkannya?"


"Pasti nangis. Tapi masih ada Intan dan Summer."


Yura duduk di kursi dengan Winter di hadapannya yang sedang menuangkan air ke gelas.


"Oh iya ..." Winter mendongak. "Kau ..."


"Apa?" satu alis Yura terangkat naik.


"Kau tidak keberatan kan kalau Reagan tinggal bersama kita, tidak selamanya juga, hanya saja dia lebih dekat denganku dari pada Summer."


Yura tersenyum. "Aku juga suka dengan Reagan."


Senyum di wajah Winter merekah seketika. "Terimakasih Yura ..."


"Oh iya, kau sudah sembuh kan?" tanya Winter.


"Apanya?" Yura balik bertanya.


"Salep nya kan sudah hampir habis, sudah sembuh berarti ya ..."

__ADS_1


Sontak senyuman di wajah Yura memudar seketika. Dia tahu apa maksud suaminya itu.


Bersambung


__ADS_2