Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#73 Mengetahui putrinya sakit


__ADS_3

"Yura ..." Summer berdiri dengan tatapan sendu menatap Yura. Yura mengernyit bingung.


"Kenapa?"


Pria itu berjalan menghampiri Yura. "Kenapa kau melarang orang-orang tau, kalau kau sakit Yura?" tanya Summer.


Winter masih duduk di dekat Yura dengan menggenggam tangan istrinya itu.


"Ada Winter yang menjagaku, jadi aku pikir orang lain tidak perlu tau," sahut Yura dengan tersenyum.


"Apa dia sudah kemoterapi?" tanya nya kepada Winter.


"Sudah."


"Efek kemoterapi pasti cukup menganggu untukmu, Yura. Kau harus makan makanan yang sehat, aku akan menyuruh Julian untuk mengantar makanan ke mansion ..."


"Tidak perlu, Summer."


Kalau soal makanan saja Winter juga mampu beli, dasar Summer.


"Tapi--"


"Dia bilang tidak perlu," potong Winter dengan jengkel.


"Yang ribut di luar!" pekik Magma masuk ke ruangan dengan membawa kantung berisi makanan.


"Apa itu?" tanya Yura.


"Makanan," sahut Magma.


"Untukku?" tanya Yura dengan mata berbinar.


"Cih, bukan! untukku!!" Magma duduk di sofa menata semua makanan yang ia beli di meja. Pizza, pasta, burger, kimchi dan masih banyak lagi.


Yura menekuk wajahnya menatap semua makanan di meja yang terlihat mengunggah selera.


"Aku mau itu ..." lirih Yura.


"Tidak Yura!" pekik Winter dan Summer bersamaan.


Magma pun menatap si dua musim tersebut kemudian Summer menatap jengkel Magma. "Tidak bisakah kau keluar, jangan makan di sini!"


"Kenapa kau yang marah, Winter saja tidak marah!" sahut Magma dengan berdecak.

__ADS_1


Winter mengelus kepala Yura. "Jangan makan itu dulu."


"Tapi aku sudah lama tidak makan pizza, kimchi, burger ..."


"Kalau kau sembuh, sekalian aku buatkan pabrik Pizza untukmu," ucap Summer.


Magma tertawa sinis membuat Summer menatapnya dingin.


"Apa?" tanya Magma dengan wajah nyolot.


"Keluarlah, kau hanya adik ipar!" lanjut Magma kemudian mengigit burger di tangannya.


Bukan keluar Summer malah ikut duduk bersama Magma dan mengambil pizza di meja lalu memakannya.


Magma menghela nafas kasar seraya menggelengkan kepala.


Disaat mereka makan, Yura juga ikut makan. Dia makan bubur di suapi oleh Winter. Makanan yang Summer kunyah terasa hambar karena melihat itu, ia juga seakan sulit menelan makanannya sendiri.


"Kenapa dengan bibirmu?" tanya Magma melihat ujung bibir Summer.


"Tidak apa-apa!!"


Magma mengangguk-ngangguk seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.


*


"Sudah, biar aku saja yang antar!" pekik Magma jengkel.


"Tidak perlu, dia pulang ke rumahku," sahut Winter yang memegang kursi roda Yura.


Yura hanya menatap mereka bergantian kemudian mendengus kasar.


"Aku pulang dengan Winter. Jangan ada yang bicara lagi!" pekik Yura.


"Tapi--"


Belum selesai Summer berbicara, Winter segera menggendong istrinya masuk ke dalam mobil.


Magma mendekati Summer. "Kalau kau butuh perempuan lain, hubungi saja aku ..."


"Perempuan seperti apa yang anda punya Tuan Magma?" tanya Julian.


"Jal*ng!" sahut Magma sambil melengos pergi membuat mata Julian membulat sempurna kemudian Julian menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Jal*ng bukan tipemu kan bos." Julian menoleh ke arah Summer.


"Berisik!" Sahut Summer lalu masuk ke dalam mobil dengan kesal.


*


Winter menggendong Yura masuk ke dalam mansion, tapi di ruang tamu sudah ada Milan, Maxime, Benjamin dan Bayuni.


"Mommy ..."


Yura melihat Ibunya menangis. Winter menurunkan Yura dari gendongan kemudian Bayuni menghampiri dan memeluk putrinya seraya terisak.


"Kenapa tidak bilang kepada Mommy kalau kau sakit, Yura ..." lirihnya.


"Mom ... maaf ..." Yura memeluk ibunya erat.


Kemudian Benjamin menghampiri putrinya dan mengelus kepala Yura.


"Dad kecewa denganmu tapi Dad tidak bisa marah kepadamu ..."


Yura melepas pelukan Ibunya dan beralih memeluk Benjamin dengan berderai air mata.


"Maafkan aku ya Dad ... aku hanya tidak ingin Daddy khawatir ..."


"Kau sehat saja Dad selalu khawatir denganmu Yura, apalagi kau sakit," sahut Benjamin mengelus puncak kepala putrinya.


Mereka duduk bersama membahas tentang penyakit Yura. Awal gejala yang di alami Yura sampai gadis itu pergi ke yayasan amal yang ternyata milik suaminya sendiri.


"Kemoterapi pertama mu dengan siapa?" tanya Maxime.


"Magma," sahut Yura membuat Winter yang duduk di sampingnya menoleh.


"Bukan kah kau bilang kau sendirian Yura?"


"Eum, aku tidak berani jujur karena takut kau marah. Awalnya memang sendirian tapi Magma hari itu mau menjenguk anak dari sekretarisnya dan tidak tahu kenapa dia bisa tahu aku sedang kemoterapi ..."


"Siapa Dokter yang menanganimu, Yura?" tanya Bayuni. Terlihat masih ada kesedihan di wajahnya.


"Dokter Leon dan Dokter Jemi," sahut Winter. "Dokter Jemi berhasil menangani beberapa pasien kanker, semoga Yura juga bisa sembuh."


"Pasti sembuh ..." ucap Milan penuh harap


"Yang terpenting jaga makananmu dan ikuti semua pengobatan yang di sarankan Dokter," sambung Maxime. "Kalau perlu kita cari Dokter kanker terbaik di setiap Negara ..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2