Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#48


__ADS_3

Magma dan Lail masuk ke sebuah rumah, mereka di sambut baik oleh salah satu ART di rumah itu. Mereka duduk di ruang tamu.


"Nyonya Vivian sebentar lagi turun, minum dulu." Art itu menyimpan dua minuman di meja.Lail mengangguk sementara Winter memasang wajahnya datar.


Kemudian seorang perempuan paruh baya dengan make up cukup tebal dan rambut di sanggul menuruni anak tangga. Lail dan Magma menoleh.


"Itu dia, Tuan ..."


Vivian duduk di depan Magma. Menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis.


"Kau ... anak Rhea?"


Magma mengangguk.


"Ohh ... Rhea sudah lama tidak mengunjungiku setelah Ayahmu mati. Dimana dia sekarang?" tanya nya. Karena Vivian tidak tahu jika Rhea mati di bunuh oleh Aberto.


"Di eropa," sahut Magma.


"Oh iya? dia sudah menikah lagi?"


Magma mengangguk.


"Menyebalkan, kenapa dia tidak mengundangku!"


"Saat itu aku ke spanyol, beredar gosip kalau Rhea mati, jadi itu tidak benar."


"Itu tidak benar, Nyonya," sahut Lail. "Nyonya Rhea memutuskan hubungan dengan Tuan Magma, Tuan Magma sendiri bahkan sudah tidak tahu kabar Ibunya di eropa sekarang. Mungkin beliau sudah mempunyai keluarga baru."


"Baguslah ... dia memang tidak bahagia menikah dengan Aberto. Dan kau ..." Vivian menatap Magma sinis. "Apa tujuanmu datang ke rumahku?"

__ADS_1


"Soal Ayah kandungku. Kau mengetahui sesuatu kan." Satu alis Magma terangkat naik.


"Kalaupun aku tau. Tidak ada untungnya aku memberitahumu."


Mendengar itu Lail mengambil cek di dalam tasnya dan menyimpannya di atas meja. Vivian menatap cek tersebut dengan ekor matanya.


"Apa itu?" tanya nya sinis dan pura-pura tidak tahu.


"Keuntungan dari mulutmu," sahut Magma tak kalah sinis.


Tangan Vivian terulur mengambil cek tersebut, melihatnya, ia berdehem karena hampir tersedak ludahnya sendiri melihat nominal di cek itu.


Kemudian ia menatap Magma. "Baik, ini sangat cukup," ucapnya kemudian tersenyum miring.


Magma menghela nafas seraya memalingkan wajahnya. Tidak ada yang bisa menolak pesona uang, manusia selalu seperti itu.


"Ceritakan!" pinta Magma.


"Dan di klab ..." Vivian menggantung kalimatnya sejenak.


Magma masih menatapnya intens.


"Di klab dia di perk*sa oleh seorang pria yang sedang mabuk, aku tidak tahu karena saat itu aku pergi ke kamar mandi, ketika kembali dia sudah tidak ada di klab, aku berusaha mencari ke setiap kamar tapi aku terlambat, karena Rhea sudah di sentuh oleh pria itu. Setelah kau lahir, Rhea benar-benar berubah menjadi ******, dia tidur dengan banyak pria, termasuk dengan mantan asisten Aberto sebelum Smith. Yang aku tau dia terakhir berhubungan dengan Felix, teman sekolahnya. Tapi mendengar kabar darimu dia di eropa sekarang, aku bersyukur. Setidaknya dia bahagia sekarang ..."


Lail menggosok hidungnya dengan memalingkan wajahnya mendengar Vivian yang percaya jika Rhea masih hidup.


"Siapa pria itu?" tanya Magma.


"Kalau tidak salah ..." Vivian terlihat berpikir. "Benjamin, Ya Benjamin. Dia sempat di keroyok orang-orang dan beberapa dari mereka menyebut nama itu."

__ADS_1


Magma dan Lail saling menoleh kemudian Lail menatap Vivian.


"Dimana dia sekarang."


"Mana aku tau." Vivian mengangkat kedua bahunya.


Magma menghela nafas panjang, ia pikir setelah dari Vivian ia sudah bisa menemukan Ayah kandungnya, tapi sekarang ia harus mencari lagi Benjamin.


*


"Tuan, nama Benjamin itu tidak hanya satu," ucap Lail seraya menyetir mobil.


"Tapi hanya satu Benjamin yang pasti ingat kejadiaan di klab," sahut Magma di sampingnya.


Magma memalingkan wajahnya ke luar jendela, menatap pohon-pohon di jalan seraya berusaha berpikir, kemana ia harus mencari Benjamin.


Kemudian ia ingat sesuatu, saat Yura di apartemennya, ponselnya sempat berdering dan itu panggilan dari Daddy Benjamin, Magma melihatnya.


Tapi ia kembali menyanggah pemikirannya itu, Lail benar, ada banyak orang yang mungkin mempunyai nama Benjamin di kota ini.


"Tuan ... saya akan berusaha mengumpulkan data orang-orang yang bernama Benjamin di kota ini. Karena Vivian tinggal di kota ini, saya yakin Benjamin juga ada di kota yang sama."


Magma menoleh lalu mengangguk kepalanya.


Sesampainya di apartemen, Magma merebahkan dirinya di sofa dan Lail membuka kulkas untuk memasak.


"Hari ini mau makan apa, Tuan?" tanya Lail menoleh menatap Magma yang sedang memejamkan mata di sofa dengan satu tangan di keningnya, Lail tahu pikiran Magma sedang kalut sekarang.


"Terserah ..." sahut Magma.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2